Dolly tutup, kasus asusila dikhawatirkan meningkat

Jum'at, 09 Mei 2014 - 21:45 WIB
Dolly tutup, kasus asusila...
Dolly tutup, kasus asusila dikhawatirkan meningkat
A A A
Sindonews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kini tengah melakukan langkah-langkah penutupan lokalisasi Dolly. Di antaranya dengan memberi pelatihan ketrampilan bagi para Pekerja Seks Komersial (PSK) maupun mucikari.

Penduduk setempat yang tinggal di Dolly juga bisa ikut pelatihan dalam rangka pemberian modal keahlian ini.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono menilai, tidak ada yang baru dari program penutupan yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Pasalnya, pemberian pelatihan ketrampilan ini sudah dilakukan sejak zaman Bambang Dwi Hartono (BDH) menjabat sebagai Wali Kota Surabaya.

Pemberian pelatihan ini bertujuan agar penghuni wisma tidak lagi mengandalkan pendapatan dari bisnis ‘syahwat’.

“Pelatihan apa, tidak ada yang baru yang dilakukan Risma (panggilan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini). Saat menutup Dolly, risma itu tidak ada program baru yang ditawarkan. Justru yang saya dengar, dia hanya ingin nutup-nutup dan nutup,” katanya, Jum'at (9/5/2014)

Pihaknya meyakini, penutupan Dolly akan membuat praktik-praktik prostitusi menjadi tidak terkendali. Sebab, wisma-wisma yang sebelumnya ditutup, diperkirakan tetap akan buka praktik seperti biasa.

Saat ini, pemkot sudah gagal dalam melakukan penutupan lokalisasi. Dari lima lokalisasi diklaim pemkot sudah tutup dan tidak beroperasi, ternyata salah.

Misalnya di Sememi, saat ini praktik prostitusi masih tumbuh subur di lokalisasi yang berada di Surabaya barat ini. “Lokalisasi tidak perlu ditutup tapi harus dilokalisir. Tapi, tempat ini harus berada jauh dari masyarakat. Sehingga, masyarakat akan kesulitan dalam mengakses tempat tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Surabaya Blegur Prijanggono mendukung upaya pemkot menghilangkan julukan Surabaya sebagai kota prostitusi.

Namun, penutupan ini harus disertai dengan kajian dan pertimbangan yang sangat matang. Ini karena pengunjung Dolly merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah. Jika langsung dilakukan penutupan, maka akan memicu kriminalitas.

“Sebenarnya, dihapusnya lokalisasi juga bisa berdampak pada meningkatnya kriminalitas, terutama untuk masyarakat kalangan bawah. Bisa dibayangkan bagaimana tukang becak bisa menyalurkan hasratnya jika ternyata PSK hanya dan ditempat-tempat yang tidak terjangkau dengan isi dompetnya. Justru ini akan memicu perkosaan,” katanya.
(lns)
Berita Terkait
Masih Bertahan, Penghuni...
Masih Bertahan, Penghuni Bangunan Gang Royal Rawa Bebek Resah dan Pasrah
9 Tempat Prostitusi...
9 Tempat Prostitusi Legendaris di Indonesia, Nomor 4 Terbesar di Asia Tenggara
Lokalisasi Gang Royal...
Lokalisasi Gang Royal Rawa Bebek telah Dibongkar, Ini Harapan Warga ke Pemprov DKI
Prostitusi Online-Lokalisasi...
Prostitusi Online-Lokalisasi Berkedok Karaoke Marak di Ketapang, Warga Resah
3 Tempat Prostitusi...
3 Tempat Prostitusi di Jakarta yang Sudah Ditutup, 2 di Antaranya Disulap Jadi Bangunan Bermanfaat
ABG Cantik asal Serang...
ABG Cantik asal Serang Dijual ke Pengelola Lokalisasi di Jakarta
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
1 jam yang lalu
Diserahkan Polda Metro...
Diserahkan Polda Metro Jaya ke Kejati Banten, Richard Lee Segera Jalani Sidang
1 jam yang lalu
Pra SPMB 2026 Dibuka,...
Pra SPMB 2026 Dibuka, Pemkot Tangsel Siapkan 9.976 Kuota untuk SMP Negeri
1 jam yang lalu
Kolaborasi Kemanusiaan,...
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
1 jam yang lalu
Perkuat Literasi Keuangan...
Perkuat Literasi Keuangan untuk Guru dan Tenaga Pendidik, MNC Sekuritas Gelar Edukasi Pasar Modal di SMAN 46 Jakarta
3 jam yang lalu
Membuka Peluang Mandiri:...
Membuka Peluang Mandiri: Pemuda Disabilitas Karawang Dibekali Keterampilan Cetak Sablon
3 jam yang lalu
Infografis
8 Menteri Era Jokowi...
8 Menteri Era Jokowi yang Terjerat Kasus Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved