5 kabupaten di sekitar Gunung Slamet diminta siaga darurat
Kamis, 01 Mei 2014 - 15:41 WIB
5 kabupaten di sekitar Gunung Slamet diminta siaga darurat
A
A
A
Sindonews.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemerintah daerah yang ada di sekitar Gunung Slamet untuk mempersiapkan diri dalam kondisi siaga darurat menyusul kenaikan status gunung itu dari waspada menjadi siaga.
"Bupati harus membuat pernyataan siaga darurat, agar ada kemudahan akses yang bisa ditempuh dalam melakukan langkah-langkah antisipasi," kata Kepala BNPB Syamsul Maarif saat mendatangi Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Kamis (1/5/2014).
Syamsul mengatakan, latihan evakuasi warga harus terus dilakukan untuk memastikan masyarakat tanggap apa yang harus dilakukan saat diperlukan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
"Harus dilakukan pelatihan-pelatihan. Di titik-titik mana harus kumpul dan ke mana harus evakuasi terakhir. Yang terpenting harus libatkan masyarakat," ujarnya.
Syamsul berharap aparat kepolisian dan TNI bisa ikut membantu pemerintah daerah dalam membuat SOP atau prosedur tetap proses evakuasi warga dan tahap kedaruratan jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.
"Desa ini kumpulnya dimana, butuh berapa truk, harus ke mana, misalnya," ujar Syamsul.
Menurut Syamsul, jumlah warga yang berada di wilayah-wilayah terdampak dengan jarak 6 kilometer dari puncak Gunung Slamet mencapai 34.228 jiwa.
Jumlah ini tersebar di lima kabupaten yang berada di sekitar Gunung Slamet yakni Kabupaten Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga. "Termasuk di dalamnya kelompok rentan," timpalnya.
Terkait anggaran yang dialokasikan BNPB untuk langkah-langkah antisipasi, Syamsul menyatakan akan segera mengkoordinasikannya dengan daerah-daerah yang ada di sekitar Gunung Slamet.
"Kita akan menggunakan dana siap pakai. Di BNPB saat ini ada Rp500 miliar. Tapi bukan untuk Slamet saja, untuk Sinabung, Merapi, termasuk kebakaran hutan di Riau. Nah ini nanti kita bicarakan besok di Semarang," ucapnya.
"Bupati harus membuat pernyataan siaga darurat, agar ada kemudahan akses yang bisa ditempuh dalam melakukan langkah-langkah antisipasi," kata Kepala BNPB Syamsul Maarif saat mendatangi Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Kamis (1/5/2014).
Syamsul mengatakan, latihan evakuasi warga harus terus dilakukan untuk memastikan masyarakat tanggap apa yang harus dilakukan saat diperlukan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
"Harus dilakukan pelatihan-pelatihan. Di titik-titik mana harus kumpul dan ke mana harus evakuasi terakhir. Yang terpenting harus libatkan masyarakat," ujarnya.
Syamsul berharap aparat kepolisian dan TNI bisa ikut membantu pemerintah daerah dalam membuat SOP atau prosedur tetap proses evakuasi warga dan tahap kedaruratan jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.
"Desa ini kumpulnya dimana, butuh berapa truk, harus ke mana, misalnya," ujar Syamsul.
Menurut Syamsul, jumlah warga yang berada di wilayah-wilayah terdampak dengan jarak 6 kilometer dari puncak Gunung Slamet mencapai 34.228 jiwa.
Jumlah ini tersebar di lima kabupaten yang berada di sekitar Gunung Slamet yakni Kabupaten Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga. "Termasuk di dalamnya kelompok rentan," timpalnya.
Terkait anggaran yang dialokasikan BNPB untuk langkah-langkah antisipasi, Syamsul menyatakan akan segera mengkoordinasikannya dengan daerah-daerah yang ada di sekitar Gunung Slamet.
"Kita akan menggunakan dana siap pakai. Di BNPB saat ini ada Rp500 miliar. Tapi bukan untuk Slamet saja, untuk Sinabung, Merapi, termasuk kebakaran hutan di Riau. Nah ini nanti kita bicarakan besok di Semarang," ucapnya.
(sms)