Guru honorer terjaring razia saat mengemis
Kamis, 27 Maret 2014 - 19:10 WIB
Guru honorer terjaring razia saat mengemis
A
A
A
Sindonews.com - Berusaha memperbaiki nasib ke Jakarta, seorang guru honorer di Jawa tengah malah menjadi pengemis di Jakarta. Cara ini terpaksa diambil karena guru honorer tersebut kehabisan bekal sebelum sempat mendapat kerja.
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda menjelaskan, sang guru tersebut berinisial DGW (39) asal Bondowoso, Jawa Tengah. Dari pengakuannya, dia adalah seorang guru honorer di kampungnya.
"Datang ke Jakarta mau mencari kerja. Modalnya dari kampung hanya membawa uang Rp500 ribu, uangnya sudah habis jadi dia bingung," katanya kepada wartawan, Kamis (27/3/2014).
DGW sendiri terjaring setelah sudin sosial melakukan razia penertiban PMKS. DGW diamankan saat tengah mojok di Jalan Pattimura, Jakarta Selatan tepat di depan gedung Kementerian PU.
"Penghasilan sebagai guru SD di kampung hanya Rp150 ribu sebulan, makanya dia nekat mencari kerja di Jakarta," jelasnya.
Bahkan, DGW mengaku mengikuti tes CPNS di daerahnya namun selalu gagal. DGW yang mempunyai satu anak perempuan berusia 5 tahun ini pergi mengadu nasib di Ibukota tanpa sepengetahuan istri dan anaknya.
"Dia malu di kampung karena penghasilannya kecil. Ke Jakarta tanpa sepengetahuan keluarganya," terangnya.
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda menjelaskan, sang guru tersebut berinisial DGW (39) asal Bondowoso, Jawa Tengah. Dari pengakuannya, dia adalah seorang guru honorer di kampungnya.
"Datang ke Jakarta mau mencari kerja. Modalnya dari kampung hanya membawa uang Rp500 ribu, uangnya sudah habis jadi dia bingung," katanya kepada wartawan, Kamis (27/3/2014).
DGW sendiri terjaring setelah sudin sosial melakukan razia penertiban PMKS. DGW diamankan saat tengah mojok di Jalan Pattimura, Jakarta Selatan tepat di depan gedung Kementerian PU.
"Penghasilan sebagai guru SD di kampung hanya Rp150 ribu sebulan, makanya dia nekat mencari kerja di Jakarta," jelasnya.
Bahkan, DGW mengaku mengikuti tes CPNS di daerahnya namun selalu gagal. DGW yang mempunyai satu anak perempuan berusia 5 tahun ini pergi mengadu nasib di Ibukota tanpa sepengetahuan istri dan anaknya.
"Dia malu di kampung karena penghasilannya kecil. Ke Jakarta tanpa sepengetahuan keluarganya," terangnya.
(ysw)