Keluarga tak percaya Dewi bunuh majikannya di Singapura
Sabtu, 22 Maret 2014 - 00:32 WIB
Keluarga tak percaya Dewi bunuh majikannya di Singapura
A
A
A
Sindonews.com - Pihak keluarga Dewi Sukowati (23), tak percaya TKW asal Dukuh Galiran, RT 3 RW VII Desa Baleadi Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ini membunuh majikannya, sosialita papan atas Singapura, Nancy Gan Wan Geok.
Pihak keluarga mendesak pemerintah RI melakukan berbagai langkah agar Dewi Sukowati bisa kembali lagi ke tanah air dengan selamat.
"Kami tak percaya dengan informasi ini. Dewi itu anaknya baik dan tidak neko-neko. Ini pasti ada pemicunya jika benar ia bertindak seperti itu," kata paman Dewi Sukowati, Suwarto (40), Jumat (21/3/2014).
Rumah Dewi terlihat sepi. Di dalam rumah ada ibunya yang bernama Sutrisnawati (45) serta dua adiknya yakni Anggun, (19) dan Ela (11), yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Sedang ayahnya Sukilan (55), ternyata tak ada di rumah.
Diinformasikan, Sukilan sedang mencari seorang warga Desa Baleadi, bernama Supri yang merupakan perantara CV Bangun Jaya, perusahaan yang memberangkatkan Dewi Sukowati ke Singapura.
Sutrisnawati sendiri sekitar setahun terakhir menderita stroke. Akibat serangan penyakit ini, gaya bicara Sutrisnawati agak pelo (tidak lancar seperti orang normal). Sehingga ia pun meminta Suwarto sebagai juru bicara keluarga.
Suwarto mengatakan, keyakinan pihak keluarga Dewi tidak asal-asalan. Sebab sehari-hari Dewi memang tidak pernah membuat ulah. Dewi merupakan tipe anak penurut dan jarang marah. Dewi juga yang mengurusi berbagai kebutuhan keluarga sejak ibunya Sutrisnawati terserang stroke.
"Dia itu anak yang tahu tata krama. Ibaratnya Dewi itu gadis kampung yang belum tercemar berbagai hal-hal negatif. Dia mudah bergaul, supel dan sayang keluarganya. Jadi jauh dari sifat dan karakter orang yang suka membunuh," jelas Suwarto yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Dewi Sukowati.
Dewi hanya lulusan SMP N 2 Sukolilo. Karena alasan ekonomi keluarganya ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Maklum saja, ayahnya Sukilan hanya pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu.
Sedang ibunya Sutrisnawati hanya ibu rumah tangga biasa. Untuk menambah pendapatan keluarga, Sutrisnawati berjualan di warung kelontong kecil di rumahnya.
Menurut Suwarto, karena tak melanjutkan sekolah, sehari-hari Dewi lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Namun beberapa waktu lalu, Dewi pernah nyantri di salah satu pondok pesantren (ponpes) di wilayah Kajen Pati.
Tapi aktivitas menuntut ilmu agama itu tidak berlangsung lama, sebab belum genap satu tahun mondok, Sutrisnawati terserang stroke. Dewi yang merupakan anak tertua dari tiga bersaudara itu pun kembali ke rumah.
Dewi pun menggantikan peran ibunya, mulai dari mengurus rumah hingga berjualan di warung kecil yang menjual makanan ringan (snack) anak-anak, perlengkapan mandi, mie instant dan yang sejenisnya. Ada juga pupuk bersubsidi di warung tersebut. Maklum saja, Sukilan memang salah satu pengecer pupuk di desanya.
"Setelah itu pekan kedua Maret ini ia pamitan ke saya, kerabat dan para tetangga akan pergi ke Singapura. Baru sekitar 10 hari di Singapura malah ada kabar ia didakwa membunuh majikannya. Ini di luar nalar kita, makanya kami masih tak percaya," tandasnya.
Pihak keluarga mendesak pemerintah RI melakukan berbagai langkah agar Dewi Sukowati bisa kembali lagi ke tanah air dengan selamat.
"Kami tak percaya dengan informasi ini. Dewi itu anaknya baik dan tidak neko-neko. Ini pasti ada pemicunya jika benar ia bertindak seperti itu," kata paman Dewi Sukowati, Suwarto (40), Jumat (21/3/2014).
Rumah Dewi terlihat sepi. Di dalam rumah ada ibunya yang bernama Sutrisnawati (45) serta dua adiknya yakni Anggun, (19) dan Ela (11), yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Sedang ayahnya Sukilan (55), ternyata tak ada di rumah.
Diinformasikan, Sukilan sedang mencari seorang warga Desa Baleadi, bernama Supri yang merupakan perantara CV Bangun Jaya, perusahaan yang memberangkatkan Dewi Sukowati ke Singapura.
Sutrisnawati sendiri sekitar setahun terakhir menderita stroke. Akibat serangan penyakit ini, gaya bicara Sutrisnawati agak pelo (tidak lancar seperti orang normal). Sehingga ia pun meminta Suwarto sebagai juru bicara keluarga.
Suwarto mengatakan, keyakinan pihak keluarga Dewi tidak asal-asalan. Sebab sehari-hari Dewi memang tidak pernah membuat ulah. Dewi merupakan tipe anak penurut dan jarang marah. Dewi juga yang mengurusi berbagai kebutuhan keluarga sejak ibunya Sutrisnawati terserang stroke.
"Dia itu anak yang tahu tata krama. Ibaratnya Dewi itu gadis kampung yang belum tercemar berbagai hal-hal negatif. Dia mudah bergaul, supel dan sayang keluarganya. Jadi jauh dari sifat dan karakter orang yang suka membunuh," jelas Suwarto yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Dewi Sukowati.
Dewi hanya lulusan SMP N 2 Sukolilo. Karena alasan ekonomi keluarganya ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Maklum saja, ayahnya Sukilan hanya pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu.
Sedang ibunya Sutrisnawati hanya ibu rumah tangga biasa. Untuk menambah pendapatan keluarga, Sutrisnawati berjualan di warung kelontong kecil di rumahnya.
Menurut Suwarto, karena tak melanjutkan sekolah, sehari-hari Dewi lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Namun beberapa waktu lalu, Dewi pernah nyantri di salah satu pondok pesantren (ponpes) di wilayah Kajen Pati.
Tapi aktivitas menuntut ilmu agama itu tidak berlangsung lama, sebab belum genap satu tahun mondok, Sutrisnawati terserang stroke. Dewi yang merupakan anak tertua dari tiga bersaudara itu pun kembali ke rumah.
Dewi pun menggantikan peran ibunya, mulai dari mengurus rumah hingga berjualan di warung kecil yang menjual makanan ringan (snack) anak-anak, perlengkapan mandi, mie instant dan yang sejenisnya. Ada juga pupuk bersubsidi di warung tersebut. Maklum saja, Sukilan memang salah satu pengecer pupuk di desanya.
"Setelah itu pekan kedua Maret ini ia pamitan ke saya, kerabat dan para tetangga akan pergi ke Singapura. Baru sekitar 10 hari di Singapura malah ada kabar ia didakwa membunuh majikannya. Ini di luar nalar kita, makanya kami masih tak percaya," tandasnya.
(mhd)