Jatuhnya korban di Gunung Slamet karena tak indahkan pantangan
Kamis, 13 Maret 2014 - 20:58 WIB
Jatuhnya korban di Gunung Slamet karena tak indahkan pantangan
A
A
A
Sindonews.com - Warjono (75) juru kunci Gunung Slamet menyatakan, jatuhnya korban terkait Gunung Slamet selama ini, ungkap dia, lebih karena para pendaki tidak mengindahkan pantangan maupun ketentuan yang harus dijaga saat mendaki gunung tersebut.
"Kalau korban yang mendaki itu sudah banyak. Tahun 1991, ada 15 pendaki yang hilang 3 orang karena tidak permisi," ujarnya.
Sementara korban terkait letusan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini menurut ingatan Warjono belum ada.
Meski usianya sudah menginjak 75 tahun, namun daya ingat Warjono masih cukup kuat. Ia pun masih mengingat ketika terjadi letusan besar Gunung Slamet pada 1953.
"Saya saat itu malah mendaki ke puncak mengantar rombongan pendaki dari Karawang," ujar Warjono.
Dahsyatnya letusan saat itu masih tertanam di benak Warjono. Kuatnya letusan dengan suara yang menggelegar membuat batu berterbangan dan kaca-kaca rumah bergetar. Saking besarya letusan, material dari puncak gunung terlempar sampai ke Bandung.
"Suaranya keras melebihi petir. Saat itu juga keluar hujan abu sampai 40 hari. Tapi saat itu tidak sampai ada yang kenapa-kenapa, tidak ada korban," cerita Warjono.
Keyakinan bahwa Gunung Slamet tidak akan sampai meletus ini membuat Warjono tidak berniat untuk mengungsi jika sewaktu-waktu warga yang tinggal di radius zona bahaya Gunung Slamet harus dievakuasi. "Saya tidak akan mengungsi. Kalau mengungsi mau mengungsi kemana?," tanyanya.
Terkait nama Slamet sendiri konon adalah nama penunggu yang diyakini mendiami Gunung Slamet.
Asal usul nama ini diyakini turun temurun oleh warga yang tinggal di sekitar Gunung Slamet sejak bertahun-tahun yang lalu. "Mbah Slamet namanya. Semacam bahureksonya Gunung Slamet," tutur Warjono.
Meski tak lagi mampu mendaki puncak Gunung Slamet, di penghujung usianya, Warjono masih tetap beraktivitas di gunung ini.
Setiap hari dari pagi hingga masuk waktu salat Ashar, Warjono mengurus ladangnya yang berada tak jauh dari jalur pendakian menuju Gunung Slamet melalui jalur Jurangmangu.
Muslih (31) anak ketiga Warjono, kini yang meneruskan jejak sang ayah memandu para pendaki yang hendak naik ke puncak Gunung Slamet. Rumahnya pun terbuka lebar bagi para pendaki dari mana saja.
Muslih mengungkapkan tidak ada kekhawatiran dari warga terkait peningkatan aktivitas Gunung Slamet. Warga masih tetap beraktivitas seperti biasa.
Meski demikian, Muslih menyatakan warga tetap akan mematuhi jika nantinya peningkatan aktivitas Gunung Slamet sudah membahayakan sehingga warga yang berada di lokasi terdekat harus dievakuasi.
Baca juga :
Juru kunci yakin Gunung Slamet tak akan meletus
"Kalau korban yang mendaki itu sudah banyak. Tahun 1991, ada 15 pendaki yang hilang 3 orang karena tidak permisi," ujarnya.
Sementara korban terkait letusan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini menurut ingatan Warjono belum ada.
Meski usianya sudah menginjak 75 tahun, namun daya ingat Warjono masih cukup kuat. Ia pun masih mengingat ketika terjadi letusan besar Gunung Slamet pada 1953.
"Saya saat itu malah mendaki ke puncak mengantar rombongan pendaki dari Karawang," ujar Warjono.
Dahsyatnya letusan saat itu masih tertanam di benak Warjono. Kuatnya letusan dengan suara yang menggelegar membuat batu berterbangan dan kaca-kaca rumah bergetar. Saking besarya letusan, material dari puncak gunung terlempar sampai ke Bandung.
"Suaranya keras melebihi petir. Saat itu juga keluar hujan abu sampai 40 hari. Tapi saat itu tidak sampai ada yang kenapa-kenapa, tidak ada korban," cerita Warjono.
Keyakinan bahwa Gunung Slamet tidak akan sampai meletus ini membuat Warjono tidak berniat untuk mengungsi jika sewaktu-waktu warga yang tinggal di radius zona bahaya Gunung Slamet harus dievakuasi. "Saya tidak akan mengungsi. Kalau mengungsi mau mengungsi kemana?," tanyanya.
Terkait nama Slamet sendiri konon adalah nama penunggu yang diyakini mendiami Gunung Slamet.
Asal usul nama ini diyakini turun temurun oleh warga yang tinggal di sekitar Gunung Slamet sejak bertahun-tahun yang lalu. "Mbah Slamet namanya. Semacam bahureksonya Gunung Slamet," tutur Warjono.
Meski tak lagi mampu mendaki puncak Gunung Slamet, di penghujung usianya, Warjono masih tetap beraktivitas di gunung ini.
Setiap hari dari pagi hingga masuk waktu salat Ashar, Warjono mengurus ladangnya yang berada tak jauh dari jalur pendakian menuju Gunung Slamet melalui jalur Jurangmangu.
Muslih (31) anak ketiga Warjono, kini yang meneruskan jejak sang ayah memandu para pendaki yang hendak naik ke puncak Gunung Slamet. Rumahnya pun terbuka lebar bagi para pendaki dari mana saja.
Muslih mengungkapkan tidak ada kekhawatiran dari warga terkait peningkatan aktivitas Gunung Slamet. Warga masih tetap beraktivitas seperti biasa.
Meski demikian, Muslih menyatakan warga tetap akan mematuhi jika nantinya peningkatan aktivitas Gunung Slamet sudah membahayakan sehingga warga yang berada di lokasi terdekat harus dievakuasi.
Baca juga :
Juru kunci yakin Gunung Slamet tak akan meletus
(sms)