Biayai kuliah dengan ngajar privat mengaji ke rumah-rumah
Jum'at, 07 Maret 2014 - 09:19 WIB
Biayai kuliah dengan ngajar privat mengaji ke rumah-rumah
A
A
A
Sindonews.com - DR Wahiduddin Adams SH,MH, salah satu hakim Mahkamah Konstitusi yang dipilih oleh Komisi III DPR ternyata merupakan sosok yang sederhana dan religius.
Karena pendidikan agama sudah ditanamkan sedini mungkin kepada Wahid sapaan akrab pria kelahiran 17 Januari 1954 silam ini.
Adik kandung Wahid, Burhanudin mengatakan, kakaknya merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari pasangan H Adam Sulaiman (almarhum) dan Hj Rofiah Gani (almarhumah).
"Kami ini tiga bersaudara, kak Wahid yang pertama, saya (Burhan) yang kedua dan yang ketiga adik saya perempuan Aryani Adams yang sekarang tinggal di Baturaja karena jadi PNS di Bappeda OKU," ujarnya Jumat (7/3/2014).
Menurut dia, sudah sejak kecil kedua orang tuanya menanamkam pendidikan agama yang kuat sebagai penopang bagi ketiga anak-anaknya kelak.
Sosok Wahiduddin, menurut Burhan, serius, cerdas dan religius. Beliau dilahirkan di rumah tua berbentuk panggung. ”Dia menghabiskan masa kecilnya di Dusun 4, Desa Pulau Gemantung, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.
Usai menamatkan SD di Pulau Gemantung, Wahid kecil kemudian melanjutkan pendidikan di MTs dan MA di Desa Sakatiga Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir (OI). Kakak kandungnya tersebut memang memiliki kemauan yang kuat dan otak cerdas.
"Selesai MTs dan MA di Sakatiga Ogan Ilir, Wahid kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lalu mengambil S2 di Belanda dan S3 di Inggris," jelasnya.
Saat dia kecil, kata Burhan, kakaknya ini suka sekali mencari burung dengan cara memasang jebakan selain itu dia juga sering main di sawah.
Burhanudin menuturkan, kehidupan masa kecil keluarga Wahiddudin sebenarnya tidak terlalu mewah dan malah bisa dikatakan cukup sederhana.
"Almarhum bapak pegawai kecamatan, sementara ibu sebagai guru SD di Pulau Gemantung. Jadi waktu kak Wahid kuliah di Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bapak cukup kesulitan untuk mengirim uang, nah untuk membiayai kehidupan sehari-hari dia mengajar ngaji privat ke rumah-rumah. Alhamdulillah dia bisa juga membiayai kuliahnya di Jakarta dengan uang dari mengajar mengaji," urainya.
Selanjutnya usai menamatkan kuliah Wahid bekerja sebagai PNS di Kemenkum HAM Jakarta.
"Karena tekat yang kuat dan mungkin rejekinya kakak (Wahid) serta garis tangannya sehingga dia mampu menyelesaikan S2 di Belanda dan S3 di Inggris,"ungkap Burhan.
Menurut pensiunan Kepala Puskesmas Tanjung Lubuk ini, Wahiddudin, sering pulang kampung, walaupun sudah menjadi orang yang berhasil di Jakarta.
"Jadi kalau pulang kampung saat lebaran, atau salat Jumat dia (Wahiddudin) selalu diminta menjadi khotib. Bahkan selain itu juga sering diminta ceramah di Masjid Jamik Usmaniah di Pulau Gemantung ini," ujar Burhan bercerita.
Burhan menjelaskan, keluarga besarnya sama sekali tidak menyangka jika kakaknya itu bisa lolos menjadi calon hakim MK.
“Kami sekeluarga besar hanya berpesan agar kak Wahiduddin menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Karena sebagai manusia terkadang kita lupa dan khilaf. Jadi saya hanya berpesan kepada kakak untuk bekerja sesuai dengan hati nurani dan selalu ingat kepada Allah SWT," tandasnya.
Karena pendidikan agama sudah ditanamkan sedini mungkin kepada Wahid sapaan akrab pria kelahiran 17 Januari 1954 silam ini.
Adik kandung Wahid, Burhanudin mengatakan, kakaknya merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari pasangan H Adam Sulaiman (almarhum) dan Hj Rofiah Gani (almarhumah).
"Kami ini tiga bersaudara, kak Wahid yang pertama, saya (Burhan) yang kedua dan yang ketiga adik saya perempuan Aryani Adams yang sekarang tinggal di Baturaja karena jadi PNS di Bappeda OKU," ujarnya Jumat (7/3/2014).
Menurut dia, sudah sejak kecil kedua orang tuanya menanamkam pendidikan agama yang kuat sebagai penopang bagi ketiga anak-anaknya kelak.
Sosok Wahiduddin, menurut Burhan, serius, cerdas dan religius. Beliau dilahirkan di rumah tua berbentuk panggung. ”Dia menghabiskan masa kecilnya di Dusun 4, Desa Pulau Gemantung, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.
Usai menamatkan SD di Pulau Gemantung, Wahid kecil kemudian melanjutkan pendidikan di MTs dan MA di Desa Sakatiga Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir (OI). Kakak kandungnya tersebut memang memiliki kemauan yang kuat dan otak cerdas.
"Selesai MTs dan MA di Sakatiga Ogan Ilir, Wahid kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lalu mengambil S2 di Belanda dan S3 di Inggris," jelasnya.
Saat dia kecil, kata Burhan, kakaknya ini suka sekali mencari burung dengan cara memasang jebakan selain itu dia juga sering main di sawah.
Burhanudin menuturkan, kehidupan masa kecil keluarga Wahiddudin sebenarnya tidak terlalu mewah dan malah bisa dikatakan cukup sederhana.
"Almarhum bapak pegawai kecamatan, sementara ibu sebagai guru SD di Pulau Gemantung. Jadi waktu kak Wahid kuliah di Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bapak cukup kesulitan untuk mengirim uang, nah untuk membiayai kehidupan sehari-hari dia mengajar ngaji privat ke rumah-rumah. Alhamdulillah dia bisa juga membiayai kuliahnya di Jakarta dengan uang dari mengajar mengaji," urainya.
Selanjutnya usai menamatkan kuliah Wahid bekerja sebagai PNS di Kemenkum HAM Jakarta.
"Karena tekat yang kuat dan mungkin rejekinya kakak (Wahid) serta garis tangannya sehingga dia mampu menyelesaikan S2 di Belanda dan S3 di Inggris,"ungkap Burhan.
Menurut pensiunan Kepala Puskesmas Tanjung Lubuk ini, Wahiddudin, sering pulang kampung, walaupun sudah menjadi orang yang berhasil di Jakarta.
"Jadi kalau pulang kampung saat lebaran, atau salat Jumat dia (Wahiddudin) selalu diminta menjadi khotib. Bahkan selain itu juga sering diminta ceramah di Masjid Jamik Usmaniah di Pulau Gemantung ini," ujar Burhan bercerita.
Burhan menjelaskan, keluarga besarnya sama sekali tidak menyangka jika kakaknya itu bisa lolos menjadi calon hakim MK.
“Kami sekeluarga besar hanya berpesan agar kak Wahiduddin menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Karena sebagai manusia terkadang kita lupa dan khilaf. Jadi saya hanya berpesan kepada kakak untuk bekerja sesuai dengan hati nurani dan selalu ingat kepada Allah SWT," tandasnya.
(sms)