BS edarkan mie berformalin di pasar induk Bandung
Rabu, 05 Maret 2014 - 15:08 WIB
BS edarkan mie berformalin di pasar induk Bandung
A
A
A
Sindonews.com - Masyarakat khususnya warga Kota Bandung, harus lebih berhati-hati saat membeli atau mengkonsumsi mie kuning atau mie basah. Pasalnya bukan tidak mungkin mie itu mengandung bahan pengawet dan juga bahan pewarna yang tidak baik bagi kesehatan.
Pelaku produsen mie berformalin, BS (55), mengaku sudah menjalankan bisnis curangnya itu sejak lima bulan silam. Dia memanfaatkan zat formalin agar mie buatannya bisa tahan lama dan lebih kenyal.
"Iitu dijualnya ke beberapa pasar, dan juga Pasar Induk Caringin," kata BS di Gedung Satres Narkoba Polrestabes Bandung, Rabu (5/3/2014).
Dalam satu hari, BS bersama tiga anak buahnya bisa memproduksi mie mencapai 500 kg. "Kalau dijual satu kilonya Rp4ribu," tuturnya.
Soal pembuatan mie, BS mengaku sama dengan pembuatan mie pada umumnya. Hanya bedanya di tengah-tengah proses itu, BS mencampur 25 ml formalin yang dibelinya di toko bahan kimia seharga Rp35ribu perliter untuk satu adonan mie.
"Sampai saat ini belum pernah ada laporan yang keracunan. Ini formalin dipakai biar mie-nya awet sampai enam hari," jelasnya.
Di tempat yang sama, Kasatres Narkoba Polrestabes Bandung, AKBP M Ngajib mengungkapkan, jika formalin yang biasa digunakan sebagai pengawet mayat dicampur dengan makanan maka akan menimbulkan efek buruk.
Selain bisa menggangu pencernaan, konsumsi dengan jangka waktu lama bisa membuat lambung sobek, gangguan hati, bahkan menyebabkan kanker.
"Kami harap masyarakat bisa lebih hati-hati. Cara membedakannya, mie berformalin ini warnanya lebih pucat dan lebih licin. Kalau teksturenya mie ini lebih kenyal," tukasnya.
Saat ini pihaknya masih melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan-kemungkinan tersangka atau pelaku pembuat mie nakal lainnya.
Baca juga:
Polisi ungkap mie berformalin seberat 1.570 Kg
Pelaku produsen mie berformalin, BS (55), mengaku sudah menjalankan bisnis curangnya itu sejak lima bulan silam. Dia memanfaatkan zat formalin agar mie buatannya bisa tahan lama dan lebih kenyal.
"Iitu dijualnya ke beberapa pasar, dan juga Pasar Induk Caringin," kata BS di Gedung Satres Narkoba Polrestabes Bandung, Rabu (5/3/2014).
Dalam satu hari, BS bersama tiga anak buahnya bisa memproduksi mie mencapai 500 kg. "Kalau dijual satu kilonya Rp4ribu," tuturnya.
Soal pembuatan mie, BS mengaku sama dengan pembuatan mie pada umumnya. Hanya bedanya di tengah-tengah proses itu, BS mencampur 25 ml formalin yang dibelinya di toko bahan kimia seharga Rp35ribu perliter untuk satu adonan mie.
"Sampai saat ini belum pernah ada laporan yang keracunan. Ini formalin dipakai biar mie-nya awet sampai enam hari," jelasnya.
Di tempat yang sama, Kasatres Narkoba Polrestabes Bandung, AKBP M Ngajib mengungkapkan, jika formalin yang biasa digunakan sebagai pengawet mayat dicampur dengan makanan maka akan menimbulkan efek buruk.
Selain bisa menggangu pencernaan, konsumsi dengan jangka waktu lama bisa membuat lambung sobek, gangguan hati, bahkan menyebabkan kanker.
"Kami harap masyarakat bisa lebih hati-hati. Cara membedakannya, mie berformalin ini warnanya lebih pucat dan lebih licin. Kalau teksturenya mie ini lebih kenyal," tukasnya.
Saat ini pihaknya masih melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan-kemungkinan tersangka atau pelaku pembuat mie nakal lainnya.
Baca juga:
Polisi ungkap mie berformalin seberat 1.570 Kg
(lns)