40% penderita depresi punya ide bunuh diri
Sabtu, 01 Maret 2014 - 20:01 WIB
40% penderita depresi punya ide bunuh diri
A
A
A
Sindonews.com - Bunuh diri massal dilakukan satu keluarga menarik perhatian banyak orang.
Kepala Program Studi Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Padjajaran yang juga Psikiater RS Hasan Sadikin Bandung Teddy Hidayat menyebut kemungkinan adanya motivasi berbeda dari korban tewas dalam bunuh diri massal tersebut.
Para pelaku yang merupakan orang dewasa memiliki keputusan berbeda untuk mengambil tindakan bunuh diri.
“Pelakunya dua orang dewasa. Harus diselidiki lebih jauh lagi, mungkin yang satu orang memang berniat bunuh diri. Tapi satu orang dewasa lainnya perlu dicek lagi motif sebenarnya apa,” papar dia saat dihubungi, Sabtu (1/3/2014).
Dia menerangkan, bunuh diri biasanya dapat ditangkap sebagai suatu jeritan minta tolong dari situasi tak menyenangkan yang dialami seseorang. Jika tak ada yang menolong, bunuh diri biasanya membuahkan hasil.
Menurut dia, pelaku bunuh diri pada dasarnya tengah merasa terperangkap dan tak menemukan jalan keluar. Padahal, jalan keluar selalu ada. Hanya, lanjut dia, risiko bunuh diri tergolong tinggi bagi penderita depresi.
Setidaknya, lanjut dia, 40 persen penderita depresi memiliki ide bunuh diri dan 15 persen di antaranya berhasil. Di Indonesia, angka bunuh diri tergolong naik setiap tahun bersamaan dengan makin kompleksnya krisis yang dihadapi masyarakat.
“Cara paling mudah bunuh diri yakni 40 persen gantung diri dan 23 persen dengan minum racun. Tugas keluarga maupun dokter-dokter, khususnya kejiwaan, adalah menjadi problem solving bagi mereka yang memiliki kesulitan,” tegas dia.
Diberitakan sebelumnya, aksi bunuh diri dilakukan satu keluarga asal Pekalongan. Ibu beserta dua anaknya dan seorang cucu tewas seusai minum racun dalam waktu yang hampir bersamaan. Diduga kuat mereka sengaja bunuh diri karena stres terlilit utang.
Peristiwa menggegerkan ini awalnya terjadi di di rumah milik Candra di Perumahan Duta Bahagia, Nomor 7, Kraton Lor, Kelurahan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Kamis (27/2) sekitar pukul 23.30 WIB. Istri Candra, Lisnawati alias Lina, 41, dan anaknya Deni Richardo, 11, tewas seusai meminum obat pembasmi serangga dioplos dengan pembersih lantai.
Korban Lina meninggal di rumah, sedangkan Deni sempat dilarikan ke RSUD Kraton, Pekalongan.Namun nyawanya tak tertolong karena racun telah menjalar ke seluruh tubuh.
Sementara dua anggota keluarga lain, Roy Rudjito, 39, (adik kandung Lina), 39, dan Anita, 58 (ibu kandung Roy dan Lina), juga tewas akibat menenggak racun, Jumat (28/2) pukul 02.00 WIB. Keduanya ditemukan di tempat berbeda, yakni di Hotel Langensari Cirebon, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon.
Sedangkan satu korban lain, Sasa. kondisinya kritis dan dirawat di RSU Pelabuhan, Cirebon.
Kepala Program Studi Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Padjajaran yang juga Psikiater RS Hasan Sadikin Bandung Teddy Hidayat menyebut kemungkinan adanya motivasi berbeda dari korban tewas dalam bunuh diri massal tersebut.
Para pelaku yang merupakan orang dewasa memiliki keputusan berbeda untuk mengambil tindakan bunuh diri.
“Pelakunya dua orang dewasa. Harus diselidiki lebih jauh lagi, mungkin yang satu orang memang berniat bunuh diri. Tapi satu orang dewasa lainnya perlu dicek lagi motif sebenarnya apa,” papar dia saat dihubungi, Sabtu (1/3/2014).
Dia menerangkan, bunuh diri biasanya dapat ditangkap sebagai suatu jeritan minta tolong dari situasi tak menyenangkan yang dialami seseorang. Jika tak ada yang menolong, bunuh diri biasanya membuahkan hasil.
Menurut dia, pelaku bunuh diri pada dasarnya tengah merasa terperangkap dan tak menemukan jalan keluar. Padahal, jalan keluar selalu ada. Hanya, lanjut dia, risiko bunuh diri tergolong tinggi bagi penderita depresi.
Setidaknya, lanjut dia, 40 persen penderita depresi memiliki ide bunuh diri dan 15 persen di antaranya berhasil. Di Indonesia, angka bunuh diri tergolong naik setiap tahun bersamaan dengan makin kompleksnya krisis yang dihadapi masyarakat.
“Cara paling mudah bunuh diri yakni 40 persen gantung diri dan 23 persen dengan minum racun. Tugas keluarga maupun dokter-dokter, khususnya kejiwaan, adalah menjadi problem solving bagi mereka yang memiliki kesulitan,” tegas dia.
Diberitakan sebelumnya, aksi bunuh diri dilakukan satu keluarga asal Pekalongan. Ibu beserta dua anaknya dan seorang cucu tewas seusai minum racun dalam waktu yang hampir bersamaan. Diduga kuat mereka sengaja bunuh diri karena stres terlilit utang.
Peristiwa menggegerkan ini awalnya terjadi di di rumah milik Candra di Perumahan Duta Bahagia, Nomor 7, Kraton Lor, Kelurahan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Kamis (27/2) sekitar pukul 23.30 WIB. Istri Candra, Lisnawati alias Lina, 41, dan anaknya Deni Richardo, 11, tewas seusai meminum obat pembasmi serangga dioplos dengan pembersih lantai.
Korban Lina meninggal di rumah, sedangkan Deni sempat dilarikan ke RSUD Kraton, Pekalongan.Namun nyawanya tak tertolong karena racun telah menjalar ke seluruh tubuh.
Sementara dua anggota keluarga lain, Roy Rudjito, 39, (adik kandung Lina), 39, dan Anita, 58 (ibu kandung Roy dan Lina), juga tewas akibat menenggak racun, Jumat (28/2) pukul 02.00 WIB. Keduanya ditemukan di tempat berbeda, yakni di Hotel Langensari Cirebon, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon.
Sedangkan satu korban lain, Sasa. kondisinya kritis dan dirawat di RSU Pelabuhan, Cirebon.
(lns)