Marak kejahatan, warga harap polisi kerja serius
Kamis, 26 Desember 2013 - 21:07 WIB
Marak kejahatan, warga harap polisi kerja serius
A
A
A
Sindonews.com - Minggu-minggu ini aksi kejahatan jalanan kembali marak di Kota Bandung. Setelah beberapa tahun sebelumnya marak akan aksi geng motor, kali ini pola kejahatan berubah menjadi aksi jalanan seperti penjambretan, begal, dan penodongan.
Adia Puja Pradana, seorang mahasiswa tingkat akhir di Universitas Padjajaran (Unpad), mengaku was-was akan fenomena yang terjadi belakangan ini.
Pasalnya, selama menjadi mahasiswa terutama yang saat ini tengah menempuh skripsi membuatnya harus sering keluar malam hanya demi meminjam buku atau pun memfotokopi bahan.
Dia berharap, polisi bisa segera membuat solusi jitu agar aksi kejahatan di Kota Bandung bisa diminimalisir dan bahkan tidak ada.
"Saya harap polisi bisa membereskan kejahatan di jalanan, mulai dari gengster (geng motor), jambret, atau pun rampok. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi korban," harapnya.
Dia menyarankan, polisi agar bisa memaksimalkan anggotanya dengan melakukan patroli dan penempatan personel di tempat-tempat rawan kejahatan. Selain itu, dia juga sangat berharap pemerintah bisa memmperbaiki fasilitas publik seperti lampu jalan yang sudah banyak mati.
"Terlebih di jalan-jalan yang rawan seperti di Fly Over Pasupati, Fly Over Kiaracondong, dan Jalan Soekarno-Hatta," jelasnya.
Sementara itu, Arya Graha, seorang pekerja malam, sangat berharap agar polisi bisa bertindak tegas agar para pelaku yang akan melakukan hal serupa bisa jera.
"Kalau perlu tembak ditempat biar kapok. Apalagi saya yang pulangnya malam terus, suka was-was. Ya setidaknya, polisi harus bisa memberikan efek jera terhadap para pelaku," ucapnya.
Senada dengan dua warga sebelumnya, Tito Pandjaitan, berharap agar polisi bisa mengusut tuntas aksi kejahatan yang sudah terjadi selama tiga hari berturut-turut.
"Besar harapan saya agar polisi bisa mengusut aksi yang tidak bertanggung jawab itu. Masa baru tiga hari kejadian sudah ada kejadian lagi di Pasupati. Saya rasa perlu disediakan CCTV agar jalan rawan seperti Pasupati bisa terpantau secara khusus. Dan sewaktu-waktu ada aksi kriminal seperti ini bisa dengan cepat diungkap," tukas Tito yang sehari-hari bekerja sebagai advokat.
Adia Puja Pradana, seorang mahasiswa tingkat akhir di Universitas Padjajaran (Unpad), mengaku was-was akan fenomena yang terjadi belakangan ini.
Pasalnya, selama menjadi mahasiswa terutama yang saat ini tengah menempuh skripsi membuatnya harus sering keluar malam hanya demi meminjam buku atau pun memfotokopi bahan.
Dia berharap, polisi bisa segera membuat solusi jitu agar aksi kejahatan di Kota Bandung bisa diminimalisir dan bahkan tidak ada.
"Saya harap polisi bisa membereskan kejahatan di jalanan, mulai dari gengster (geng motor), jambret, atau pun rampok. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi korban," harapnya.
Dia menyarankan, polisi agar bisa memaksimalkan anggotanya dengan melakukan patroli dan penempatan personel di tempat-tempat rawan kejahatan. Selain itu, dia juga sangat berharap pemerintah bisa memmperbaiki fasilitas publik seperti lampu jalan yang sudah banyak mati.
"Terlebih di jalan-jalan yang rawan seperti di Fly Over Pasupati, Fly Over Kiaracondong, dan Jalan Soekarno-Hatta," jelasnya.
Sementara itu, Arya Graha, seorang pekerja malam, sangat berharap agar polisi bisa bertindak tegas agar para pelaku yang akan melakukan hal serupa bisa jera.
"Kalau perlu tembak ditempat biar kapok. Apalagi saya yang pulangnya malam terus, suka was-was. Ya setidaknya, polisi harus bisa memberikan efek jera terhadap para pelaku," ucapnya.
Senada dengan dua warga sebelumnya, Tito Pandjaitan, berharap agar polisi bisa mengusut tuntas aksi kejahatan yang sudah terjadi selama tiga hari berturut-turut.
"Besar harapan saya agar polisi bisa mengusut aksi yang tidak bertanggung jawab itu. Masa baru tiga hari kejadian sudah ada kejadian lagi di Pasupati. Saya rasa perlu disediakan CCTV agar jalan rawan seperti Pasupati bisa terpantau secara khusus. Dan sewaktu-waktu ada aksi kriminal seperti ini bisa dengan cepat diungkap," tukas Tito yang sehari-hari bekerja sebagai advokat.
(lns)