Warga Ria Rio berharap didata ulang
Senin, 02 Desember 2013 - 14:48 WIB
Warga Ria Rio berharap didata ulang
A
A
A
Sindonews.com - Setelah digusur oleh Satpol PP, warga penghuni Waduk Ria Rio berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pendataan ulang. Warga yang sebelumnya sempat bertahan di lahan yang diklaim ahli waris Adam Malik, kini berharap direlokasi ke Rusun Pinus Elok.
Sudah tiga hari, dua malam Ina Yulianti dan anak-anaknya tinggal dibawah terpal biru dengan penopang kayu dari puing rumah mereka, sejak bangunan rumah alakadarnya di bongkar petugas pada penertiban, Sabtu 29 November 2013.
Menurut Ina Yulianti (54), mereka terpaksa berteduh di bawah terpal saat hujan maupun panas, karena mereka belum tahu harus pindah ke mana.
"Ya, dari Sabtu . Katanya mau D9direlokasi) ke Pinus Elok tapi pihak RT enggak ada yang mendata," katanya di rumah terpalnya di Ria-Rio, Pendongkelan, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (2/12/2013).
Ia pun belum sempat mendaftar karena kondisinya masih sakit. "Saya mau minta bantuan tetangga kalau ada yang ke kecamatan," tutur ibu tiga anak, yang suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Meski demikian ia tidak menyangkal bahwa pada pendaftaran untuk relokasi yang ditawarkan pemerintah saat itu, tidak diikutinya karena ada jaminan dari alih waris yang mengaku tanah itu miliknya.
"Waktu itu banyak yang tidak mendaftar, katanya enggak bakalan digusur. Tapi buktinya kita tetap digusur," sesalnya.
Untuk itu, ia berharap pemerintah melalui pihak RT dapat mendata mereka secara langsung di tenda-tenda pengungsian agar jelas dan benar siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan rusun.
"Saya harap mereka datang langsung ke tenda-tenda. Jangan sampai pakai data doang, akhirnya bukan buat kita yang sudah enggak punya rumah," tandasnya.
Sudah tiga hari, dua malam Ina Yulianti dan anak-anaknya tinggal dibawah terpal biru dengan penopang kayu dari puing rumah mereka, sejak bangunan rumah alakadarnya di bongkar petugas pada penertiban, Sabtu 29 November 2013.
Menurut Ina Yulianti (54), mereka terpaksa berteduh di bawah terpal saat hujan maupun panas, karena mereka belum tahu harus pindah ke mana.
"Ya, dari Sabtu . Katanya mau D9direlokasi) ke Pinus Elok tapi pihak RT enggak ada yang mendata," katanya di rumah terpalnya di Ria-Rio, Pendongkelan, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (2/12/2013).
Ia pun belum sempat mendaftar karena kondisinya masih sakit. "Saya mau minta bantuan tetangga kalau ada yang ke kecamatan," tutur ibu tiga anak, yang suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Meski demikian ia tidak menyangkal bahwa pada pendaftaran untuk relokasi yang ditawarkan pemerintah saat itu, tidak diikutinya karena ada jaminan dari alih waris yang mengaku tanah itu miliknya.
"Waktu itu banyak yang tidak mendaftar, katanya enggak bakalan digusur. Tapi buktinya kita tetap digusur," sesalnya.
Untuk itu, ia berharap pemerintah melalui pihak RT dapat mendata mereka secara langsung di tenda-tenda pengungsian agar jelas dan benar siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan rusun.
"Saya harap mereka datang langsung ke tenda-tenda. Jangan sampai pakai data doang, akhirnya bukan buat kita yang sudah enggak punya rumah," tandasnya.
(ysw)