Tak miliki kepekaan, Kepala BPBD diminta mundur

Rabu, 23 Oktober 2013 - 17:46 WIB
Tak miliki kepekaan,...
Tak miliki kepekaan, Kepala BPBD diminta mundur
A A A
Sindonews.com - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros, Yudhi Indrajaya, dinilai lamban dalam menanggapi jeritan warga pesisir terkait kekeringan dan kekurangan air bersih.

Mantan Kepala Kecamatan Tanralili ini dinilai tak miliki kepekaan sosial bagi warga yang mengalami kekeringan di enam desa di Kecamatan Bontoa.
Ketua LSM peduli lingkungan, Bumi Mentari Maros, Andi Ilham Lahiya menuturkan, pihaknya berniat mengatasi kekeringan yang dialami warga untuk bekerja sama dengan pihak swasta dalam pengadaan air bersih. Namun BPBD tak merespon baik hal ini.

"Katanya selama masih Pak Yudi di BPBD tidak usah minta bantuan di luar. Alasannya tidak ada anggaran," ujarnya, Rabu (23/10/2013).

Warga mengalami kekeringan di desa Salenrang, Bonto Bahari, Ampekale, Pajukukang, Tupabiring, dan Minasaupa selama musim kemarau. Pihaknya meminta Bupati untuk segera mengevaluasi Kepala BPBD karena tidak bisa mengemban tugas dengan baik.

Serta menempatkan orang yang memiliki skil di lapangan dan memiliki jiwa sosial yang besar untuk ditempatkan di BPBD.

"Ini ultimatum untuk bapak bupati kalau Kepala BPBD tidak segera dimutasi, teman-teman koalisi LSM akan menduduki kantor bupati selama tujuh hari tujuh malam," ancamnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala BPBD Maros Yudhi Indrajaya, menanggapi legowo keluhan ini. Dia mengatakan, persoalan air bersih bukan masalah kepekaan dan pihaknya sangat memaklumi situasi warga di enam desa tersebut.

Namun masalah tahunan yang muncul ini sangat komprehensif.

"Sampai detik ini laporan dari pemerintah setempat belum pernah kami terima, secara prosedur ini sangat penting untuk dasar pembiayaan kegiatan yang dimaksud," jelasnya.

Dia menambahkan, anggaran untuk bantuan bencana juga telah habis. Maka harus menunggu persetujuan Bupati untuk mengeluarkan dana tak terduga untuk biaya kegiatan yang dimaksud.

"Tapi secara fisik operasional kami siap turunkan armada dan personel, karena pengadaan air bersih harus kerja sama dengan PDAM dan butuh biaya. Bukannya saya tidak menanggapi surat permohonan itu, tapi saya sudah selalu sampaikan pernyataan dan laporan pemerintah adalah prosedur penyaluran bantuan," tambahnya.

Permintaan/laporan pemerintah setempat menjadi dasar pertanggungjawaban penggunaan anggaran. Bencana harus didukung dengan data dan kondisi, serta laporan riil dari pemerintah setempat untuk pertanggungjawaban. Mestinya LSM, tambah Yudhi, lebih tahu prosedur tersebut.
(lns)
Berita Terkait
Awal Musim Kemarau 2024...
Awal Musim Kemarau 2024 Diprediksi Mundur, Ini Rincian Daerahnya
Puncak Kemarau di Maros...
Puncak Kemarau di Maros Diprediksi Pada Bulan Agustus
56% Wilayah Indonesia...
56% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Sejak Awal Juli 2023
37,7% Wilayah Indonesia...
37,7% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Dampak Kekeringan
BMKG Laporkan 21 Daerah...
BMKG Laporkan 21 Daerah di Indonesia Tidak Hujan Selama 2 Bulan Lebih
BMKG Laporkan 63% Wilayah...
BMKG Laporkan 63% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau hingga Akhir Juli 2023
Berita Terkini
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sentul City Tanam 3.850 Pohon
1 jam yang lalu
Gelar Pernas XIII di...
Gelar Pernas XIII di Klaten, FMKI Keluarkan Seruan Moral
1 jam yang lalu
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
2 jam yang lalu
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
2 jam yang lalu
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
4 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
5 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved