Banyak yang tewas karena miras, tokoh Majalengka berkomentar
Selasa, 13 Agustus 2013 - 07:36 WIB
Banyak yang tewas karena miras, tokoh Majalengka berkomentar
A
A
A
Sindonews.com - Kasus kematian 12 orang akibat pesta minuman keras (miras) pada Sabtu (3/8) lalu mengundang keprihatinan dari sejumlah kalangan. Mereka mengaku prihatin atas musibah yang terjadi, mengingat Kabupaten Majalengka memiliki visi Religius, Maju dan Sejahtera (Remaja).
Pengasuh Pondok Pesantren (Pontren) Al-Mizan, Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar), KH Maman Imanul Haq, mengaku prihatin dengan musibah tersebut.
Dengan adanya peristiwa tersebut, KH Maman menegaskan, kinerja aparat dalam hal pengawasan peredaran Miras di Kabupaten Majalengka perlu dipertanyakan.
“Di sini kita mempertanyakan peran aparat dan pemerintah, kemana saja. Apa saja yang dilakukan mereka,” tegas KH Maman yang karab disapa Kang Maman tersebut, Selasa (13/8/2013).
Peristiwa tersebut juga, lanjut dia, menjadi tantangan tersendiri bagi Pemeritah kabupaten (Pemkab) Majalengka di masa yang akan datang. Dijelaskan dia, Pemkab sudah saatnya tidak hanya memperhatikan pembangunan secara fisik, melainkan juga mental masyarakatnya.
“Ini juga tantangan Bupati Majalengka ke depan. Jangan hanya bisa membangun sarana prasarana, temasuk pabrik di mana-mana. Yang penting adalah membangun jiwa pemuda yang sehat, sholeh dan mandiri. Peristiwa tewasnya 12 orang karena miras jelas membuat miris dan kecewa. Miris karena itu terjadi di bulan suci ramadan, dilakukan berjamaah dan oleh anak muda harapan bangsa,” ungkap dia.
“Kecewa karena itu artinya dakwah Islam di Majalengka tidak menyentuh masyarakat luas, hanya bersifat elitis. Begitu pula peran keluarga dalam melindungi anggotanya sangat lemah,” lanjut Kang Maman.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC GP Ansor Majalengka, Ahmad Khotib. Selaku pimpinan organisasi kepemudaan, dia mengaku prihatian sekaligus menyesalkan atas terjadinya kasus tersebut.
“Peristiwa itu terjadi terhadap remaja dan pemuda yang semestinya menjadi generasi penerus bangsa. Lebih disesalkan lagi, itu terjadi pada bulan suci Ramadan,” jelas dia.
Dia menilai, kejadian tersebut sebagai dampak dari kurang pedulinya semua kalangan terhadap persoalan pemuda. Lebih jauh Khotib menilai, kasus tersebut merupakan ancaman serius bagi generasi muda di Kabupaten Majalengka.
“Bisa saja ini terajdi akibat kelengahan, ketidak pedulian, kegagalan, cara dan sikap abai kita terhadap persoalan kepemudaan atau mungkin formula yang yang diterapkan untuk mengurus mereka salah kaprah. Kasus ini jelas-jelas ancmaan serius bagi generasi pemuda Majalengka,” tegas Khotib.
“Kasus ini harus menjadi bahan evaluasi semua kalangan, baik pemerintah daerah beserta stake holdernya, oranisasi kepemudaan, ormas, parpol mapun masyarakat pada umumnya. Evaluasi bagaimana sistem dan implementasi kata religius dalam REMAJA yang sudah dicanangkan pemerintah melalui VISI nya,” lanjut dia.
Seperti diberitakan SINDO sebelumnya, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu tercatat sebanyak 12 orang tewas di tiga tempat berbeda di Kabupaten Majalengka setelah menggelar pesta miras. Ke tiga tempat tersebut yakni di Majaengka kota, Kecamatan Kadipaten dan di Kecamatan Jatiwangi.
Pengasuh Pondok Pesantren (Pontren) Al-Mizan, Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar), KH Maman Imanul Haq, mengaku prihatin dengan musibah tersebut.
Dengan adanya peristiwa tersebut, KH Maman menegaskan, kinerja aparat dalam hal pengawasan peredaran Miras di Kabupaten Majalengka perlu dipertanyakan.
“Di sini kita mempertanyakan peran aparat dan pemerintah, kemana saja. Apa saja yang dilakukan mereka,” tegas KH Maman yang karab disapa Kang Maman tersebut, Selasa (13/8/2013).
Peristiwa tersebut juga, lanjut dia, menjadi tantangan tersendiri bagi Pemeritah kabupaten (Pemkab) Majalengka di masa yang akan datang. Dijelaskan dia, Pemkab sudah saatnya tidak hanya memperhatikan pembangunan secara fisik, melainkan juga mental masyarakatnya.
“Ini juga tantangan Bupati Majalengka ke depan. Jangan hanya bisa membangun sarana prasarana, temasuk pabrik di mana-mana. Yang penting adalah membangun jiwa pemuda yang sehat, sholeh dan mandiri. Peristiwa tewasnya 12 orang karena miras jelas membuat miris dan kecewa. Miris karena itu terjadi di bulan suci ramadan, dilakukan berjamaah dan oleh anak muda harapan bangsa,” ungkap dia.
“Kecewa karena itu artinya dakwah Islam di Majalengka tidak menyentuh masyarakat luas, hanya bersifat elitis. Begitu pula peran keluarga dalam melindungi anggotanya sangat lemah,” lanjut Kang Maman.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC GP Ansor Majalengka, Ahmad Khotib. Selaku pimpinan organisasi kepemudaan, dia mengaku prihatian sekaligus menyesalkan atas terjadinya kasus tersebut.
“Peristiwa itu terjadi terhadap remaja dan pemuda yang semestinya menjadi generasi penerus bangsa. Lebih disesalkan lagi, itu terjadi pada bulan suci Ramadan,” jelas dia.
Dia menilai, kejadian tersebut sebagai dampak dari kurang pedulinya semua kalangan terhadap persoalan pemuda. Lebih jauh Khotib menilai, kasus tersebut merupakan ancaman serius bagi generasi muda di Kabupaten Majalengka.
“Bisa saja ini terajdi akibat kelengahan, ketidak pedulian, kegagalan, cara dan sikap abai kita terhadap persoalan kepemudaan atau mungkin formula yang yang diterapkan untuk mengurus mereka salah kaprah. Kasus ini jelas-jelas ancmaan serius bagi generasi pemuda Majalengka,” tegas Khotib.
“Kasus ini harus menjadi bahan evaluasi semua kalangan, baik pemerintah daerah beserta stake holdernya, oranisasi kepemudaan, ormas, parpol mapun masyarakat pada umumnya. Evaluasi bagaimana sistem dan implementasi kata religius dalam REMAJA yang sudah dicanangkan pemerintah melalui VISI nya,” lanjut dia.
Seperti diberitakan SINDO sebelumnya, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu tercatat sebanyak 12 orang tewas di tiga tempat berbeda di Kabupaten Majalengka setelah menggelar pesta miras. Ke tiga tempat tersebut yakni di Majaengka kota, Kecamatan Kadipaten dan di Kecamatan Jatiwangi.
(rsa)