Kajian pembanding reklamasi pantai di Bali ditentang

Sabtu, 20 Juli 2013 - 04:03 WIB
Kajian pembanding reklamasi...
Kajian pembanding reklamasi pantai di Bali ditentang
A A A
Sindonews.com - Aktivitis Lingkungan dan Akademisi menolak wacana kajian pembanding untuk reklamasi Teluk Tanjung Benoa Kabupaten Badung, Bali. Pasalnya, rencanya itu dinilai
menghambur-hamburkan uang.

Kontroversi wacana reklamasi besar-besaran di Tanjung Benoa terus menggelinding, terakhir muncul gagasan dilakukannya kajian pembanding yang didanai APBD Provinsi Bali.

Kabarnya, rencana kajian pembanding bakal menelan dana hingga Rp3 miliar lebih. Tentu saja, rencana itu langsung ditentang karena dianggap tidak perlu dan hanya buang anggaran.

"Dari aspek hukum rencana reklamasi itu saja tidak dipenuhi sehingga tidak perlu ada kajian lagi," tegas Koordinator Sekretariat Kerja Penyelamat dan Pelestari Lingkungan Hidup (SKPPLH) Made Mangku kepada wartawan, Jumat (19/7/2013).

Sebelumnya, kajian pembanding untuk reklamasi tersebut dilontarkan Ketua DPD Partai Demokrat Bali I Made Mudarta.

"Tidak perlu ada kajian pembanding. Itu hanya menghamburkan dan memboroskan uang rakyat," kata Mangku. Ia menolak kajian pembanding yang dibuat Partai Demokrat Bali.

Mestinya, pemerintah tidak perlu membuat kajian pembanding karena rencana reklamasi di Teluk Benoa itu bukan untuk kepentingan rakyat Bali secara umum.

Diketahui, PT TWBI mendapat izin dan hak pemanfaatan pengembangan dan pengelolaan Teluk Benoa seluas 838 hektare dengan masa konsesi 30 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun sesuai SK Gubernur Bali Made Mangku Pastika tanggal 26 Desember 2012.

Dia mengingatkan, akan lebih berbahaya lagi jika kajian pembanding itu disusupi kepentingan investor.

"Hasil kajian yang mestinya tidak layak dinyatakan layak. Kalau begitu yang terjadi, malah kajian pembanding bisa menjadi alat legitimasi reklamasi. Ini sangat berbahaya ," katanya.

Hal tak jauh beda disampaikan pengamat tata ruang Universitas Udayana Dr Putu Rumawasn Salain, menolak rekomendasi DPRD Bali agar ada kajian pembanding atas rencana reklamasi itu.

"Lebih baik dihentikan saja rencana reklamasi ini. Tidak perlu ada kajian pembanding karena rencana reklamasi ini melabrak banyak aspek legalitas," tegasnya.

Dia berharap, jangan ada lagi wacana reklamasi. Hentikan saja semua. Jangan melanggar konsep yang sudah dibuat untuk pembangunan Bali.

"Jangan kita terlalu manis dengan investor," tegas dosen Faklutas Teknik Unud ini.

Made Mangku maupun Rumawan sama-sama mencurigai reklamasi sebagai pulau penyangga untuk antisipasi tsunami, terlalu mengada-ada.

Kalau Teluk Benoa direklamasi, justru tsunami menghantam kawasan lain. Tanjung Benoa dan Sanur akan menjadi korban.
(lns)
Berita Terkait
Stafsus Menkeu: Inovasi...
Stafsus Menkeu: Inovasi Kebijakan Daerah Jadi Kunci Pembangunan Nasional
Kunjungi Pelosok, Gubernur...
Kunjungi Pelosok, Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Rp1 Miliar
Pohuwatu Gunakan Dana...
Pohuwatu Gunakan Dana Desa Bangun Rumah Sehat Komunal Gratis Bagi Warga Miskin
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Tunjukkan Komitmen Dukung Pembangunan Daerah
Daya Saing Award, Upaya...
Daya Saing Award, Upaya Majukan Potensi di Daerah
Akselerasi Pembangunan...
Akselerasi Pembangunan Daerah
Berita Terkini
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
7 jam yang lalu
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
8 jam yang lalu
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
9 jam yang lalu
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
9 jam yang lalu
Terima Suap Rp15 Juta...
Terima Suap Rp15 Juta dan Urus Perkara, Hakim PN Cilacap Dipecat
10 jam yang lalu
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
10 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved