'Beras cerdas' bisa gantikan raskin
Kamis, 27 Desember 2012 - 16:34 WIB
'Beras cerdas' bisa gantikan raskin
A
A
A
Sindonews.com - Universitas Jember bekerjasama dengan Kementrian Pertanian serta Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur berhasil menciptakan "beras cerdas". Beras cerdas ini diyakini bisa menggantikan kualitas beras untuk rakyat miskin atau Raskin yang selama ini diberikan pemerintah kepada warga tidak mampu.
Beras cerdas ini merupakan hasil kerja keras Tim peneliti di Universitas Jember yang telah menemukan teknologi pengolahan Mocaf (modified cassava flour) pada tahun 2004. Penelitian itu telah dilakukan membuktikan dengan teknik-teknik tertentu mocaf dapat digunakan sebagai bahan sumber pangan pokok yaitu "beras cerdas".
Beras ini dibuat dengan mencampurkan mocaf, jagung, protein susu dan bahan tambahan lainnya dengan tujuan untuk meningkatkan kandungan protein dan sifat fungsionalnya. Saat ini, dengan bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Pusat (Kementrian Pertanian), dan BKP Jawa Timur, telah didirikan empat pabrik model yang masing masing berkapasitas produksi Beras Cerdas 2 ton/hari di Kabupaten Jember, Ponorogo dan Blitar.
Atas dasar alasan tersebut, dikembangkan "Pangan untuk kesejahteraan" atau Pangkes yang menggunakan produk beras cerdas sebagai produk yang dibagikan kepada masyarakat kurang mampu untuk meningkatkan kesejahteraannya, sekaligus meningkatkan konsumsi makanan pokok non-beras demi terciptanya kedaulatan pangan nasional.
Penemu "beras cerdas" dari Unej, Prof Ahmad Subagyo mengatakan, beras itu akan dibagikan kepada 490 rumah tangga sasaran (RTS) yang tersebar di Kecamatan Jelbuk, dan Kecamatan Sumberbaru, di Jember.
"Pembagian 'beras cerdas' itu merupakan tindak lanjut kerja sama terpadu antara Unej dengan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Badan Ketahanan Pangan Pemprov Jatim, dan Pemkab Jember," kata Ahmad Subagyo, Kamis (27/12/0212).
Menurut dia, beras cerdas ini tidak lain adalah untuk meningkatkan kandungan protein dan sifat fungsionalnya.
"Masing-masing RTS mendapatkan sebanyak 10 kilogram beras cerdas sebagai pengganti konsumsi makanan pokok non-beras," katanya.
Berdasarkan data BPS, jumlah rumah tangga miskin masih tinggi. Sedangkan, ketahanan pangan di Indonesia masih rentan. Dia menerangkan, pemerintah meluncurkan program bantuan beras Raskin untuk mengurangi beban Rumah Tangga Sasaran (RTS), dimana sejumlah 15 kg/RTS/bulan Raskin didistribusikan kepada RTS.
Meskipun program raskin efektif untuk membantu para keluarga miskin, tetapi kebijakan ini membawa dampak negatif terhadap ketahanan pangan nasional yakni terjadinya perubahan pola makan penduduk Indonesia yang semula mengkonsumsi pangan non-beras menjadi beras, seperti ubi kayu di Maluku dan Sulawesi, jagung di NTT, sagu di Maluku dan ubi jalar di Papua.
Di Jember, setidaknya ada enam desa dari dua kecamatan yang akan menjadi sasaran sosialisasi dan pembagian beras pintar di Jember. Yaitu Desa Suco pangepok, Jelbuk, dan Panduman, di Kecamatan Jelbuk serta Desa Kali glagah, Karang Bayat, dan Pringgo Wirawan di Kecamatan Sumber Baru.
Ketua Bidang Keanekaragaman Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Pemprov Jatim Aprianto menjelaskan, program sosialisasi ini merupakan program pengenalan beras cerdas kepada masyarakat.
"Sehingga masyarakat semakin tahu tidak hanya beras yang dapat menjadi makanan pokok. Bahkan kandungan gizinya lebih tinggi dari pada beras pada umumnya atau raskin. Saat ini, 4,9 ton beras pintar akan dibagikan kepada masyarakat di enam desa di 2 Kecamatan di Kabupaten Jember dengan jumlah RTSM mencapai 490 RTSM. Tidak hanya itu, munculnya beras pintar ini merupakan solusi ketahanan pangan di Jatim bahkan tingkat nasional," kata Aprianto.
Sementara itu menurut pengakuan warga Desa Panduman kecamatan Jelbuk Munipah, mereka sungguh berterima kasih atas penemuan beras itu. Namun jika nantinya sudah dapat diperjual belikan, mereka berharap harganya tidak terlalu tinggi.
Sebab saat ini harga beras pintar mencapai Rp7 ribu per Kg. Hal itu sama dengan harga beras kualitas menengah sehingga warga masih saja tetap mengkonsumsi beras sebagai bahan pokok makanan sehari-hari.
Beras cerdas ini merupakan hasil kerja keras Tim peneliti di Universitas Jember yang telah menemukan teknologi pengolahan Mocaf (modified cassava flour) pada tahun 2004. Penelitian itu telah dilakukan membuktikan dengan teknik-teknik tertentu mocaf dapat digunakan sebagai bahan sumber pangan pokok yaitu "beras cerdas".
Beras ini dibuat dengan mencampurkan mocaf, jagung, protein susu dan bahan tambahan lainnya dengan tujuan untuk meningkatkan kandungan protein dan sifat fungsionalnya. Saat ini, dengan bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Pusat (Kementrian Pertanian), dan BKP Jawa Timur, telah didirikan empat pabrik model yang masing masing berkapasitas produksi Beras Cerdas 2 ton/hari di Kabupaten Jember, Ponorogo dan Blitar.
Atas dasar alasan tersebut, dikembangkan "Pangan untuk kesejahteraan" atau Pangkes yang menggunakan produk beras cerdas sebagai produk yang dibagikan kepada masyarakat kurang mampu untuk meningkatkan kesejahteraannya, sekaligus meningkatkan konsumsi makanan pokok non-beras demi terciptanya kedaulatan pangan nasional.
Penemu "beras cerdas" dari Unej, Prof Ahmad Subagyo mengatakan, beras itu akan dibagikan kepada 490 rumah tangga sasaran (RTS) yang tersebar di Kecamatan Jelbuk, dan Kecamatan Sumberbaru, di Jember.
"Pembagian 'beras cerdas' itu merupakan tindak lanjut kerja sama terpadu antara Unej dengan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Badan Ketahanan Pangan Pemprov Jatim, dan Pemkab Jember," kata Ahmad Subagyo, Kamis (27/12/0212).
Menurut dia, beras cerdas ini tidak lain adalah untuk meningkatkan kandungan protein dan sifat fungsionalnya.
"Masing-masing RTS mendapatkan sebanyak 10 kilogram beras cerdas sebagai pengganti konsumsi makanan pokok non-beras," katanya.
Berdasarkan data BPS, jumlah rumah tangga miskin masih tinggi. Sedangkan, ketahanan pangan di Indonesia masih rentan. Dia menerangkan, pemerintah meluncurkan program bantuan beras Raskin untuk mengurangi beban Rumah Tangga Sasaran (RTS), dimana sejumlah 15 kg/RTS/bulan Raskin didistribusikan kepada RTS.
Meskipun program raskin efektif untuk membantu para keluarga miskin, tetapi kebijakan ini membawa dampak negatif terhadap ketahanan pangan nasional yakni terjadinya perubahan pola makan penduduk Indonesia yang semula mengkonsumsi pangan non-beras menjadi beras, seperti ubi kayu di Maluku dan Sulawesi, jagung di NTT, sagu di Maluku dan ubi jalar di Papua.
Di Jember, setidaknya ada enam desa dari dua kecamatan yang akan menjadi sasaran sosialisasi dan pembagian beras pintar di Jember. Yaitu Desa Suco pangepok, Jelbuk, dan Panduman, di Kecamatan Jelbuk serta Desa Kali glagah, Karang Bayat, dan Pringgo Wirawan di Kecamatan Sumber Baru.
Ketua Bidang Keanekaragaman Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Pemprov Jatim Aprianto menjelaskan, program sosialisasi ini merupakan program pengenalan beras cerdas kepada masyarakat.
"Sehingga masyarakat semakin tahu tidak hanya beras yang dapat menjadi makanan pokok. Bahkan kandungan gizinya lebih tinggi dari pada beras pada umumnya atau raskin. Saat ini, 4,9 ton beras pintar akan dibagikan kepada masyarakat di enam desa di 2 Kecamatan di Kabupaten Jember dengan jumlah RTSM mencapai 490 RTSM. Tidak hanya itu, munculnya beras pintar ini merupakan solusi ketahanan pangan di Jatim bahkan tingkat nasional," kata Aprianto.
Sementara itu menurut pengakuan warga Desa Panduman kecamatan Jelbuk Munipah, mereka sungguh berterima kasih atas penemuan beras itu. Namun jika nantinya sudah dapat diperjual belikan, mereka berharap harganya tidak terlalu tinggi.
Sebab saat ini harga beras pintar mencapai Rp7 ribu per Kg. Hal itu sama dengan harga beras kualitas menengah sehingga warga masih saja tetap mengkonsumsi beras sebagai bahan pokok makanan sehari-hari.
(rsa)