70 balita di Depok terserang gizi buruk
Kamis, 27 Desember 2012 - 13:04 WIB
70 balita di Depok terserang gizi buruk
A
A
A
Sindonews.co – Sedikitnya 70 balita di Kota Depok terserang gizi buruk. Dua diantaranya menimpa Muhammad Rafli (1,5 tahun) dan Muhammad Raehan (3). Hal itu diakui oleh Wali kota Depok Nur Mahmudi Ismail.
Menurutnya, kasus balita gizi buruk Muhammad Rafli (1,5 tahun) dan Muhammad Raehan (3) merupakan kasus baru. Ia mengklaim telah mengurangi jumlah balita penderita gizi buruk di Depok.
Total balita yang menderita gizi buruk hanya tersisa sekitar 70 balita, dari sekitar 1300 balita dalam kurun waktu Juni-Juli.
"Itu kan bukan kasus baru, sudah kami tangani kok, total balita yang terkena gizi buruk per bulan Juni-Juli tinggal 70 dari 1300an balita. Nah, itu yang harus diketahui, kita itu sudah bergerak secara sistemik dengan menggunakan dua pendekatan," katanya kepada wartawan, di balai kota Depok, Kamis (27/12).
ia mengatakan, pendekatan yang dilakukan untuk menangani kasus gizi buruk ini, melibatkan keluarga yang sudah berhasil dalam mengasuh anaknya untuk menularkan kesuksesannya ke keluarga lain.
"Dilakukan juga terapi secara sistemik, baik orang tua dan anaknya di panti pemulihan gizi," tegas Nur Mahmudi.
Penanganan ini, lanjutnya, dilakukan oleh pemerintah kota dengan lembaga panti asuhan, dan puskesmas secara gratis.
Ia menambahkan, kasus gizi buruk ini bukanlah hal yang baru, karena sudah lama dilakukan penanganan.
Nur Mahmudi mengaku, memang dalam penanganan gizi buruk membutuhkan waktu yang lama. Karena, proses penyembuhannya membutuhkan waktu.
"Proses penyelesaian gizi buruk itu perlu waktu cukup lama. Kalau yang biasa saja itu, butuh 6 bulan, apalagi yang diikuti dengan penyakit, belum lagi orang tuanya yang agak lepas tangan," ucapnya.
Ia mengaku, saat ini pemerintah kota Depok berusaha dan bertekad mengurangi jumlah penderita gizi buruk. Namun diakuinya terdapat sejumlah hambatan.
"Jangan dibilang usia segitu enggak bisa berjalan, enggak bisa bicara, anak saya saja 17 bulan belum bisa jalan, anak itu kan tipenya beda - beda," tukasnya.
Menurutnya, kasus balita gizi buruk Muhammad Rafli (1,5 tahun) dan Muhammad Raehan (3) merupakan kasus baru. Ia mengklaim telah mengurangi jumlah balita penderita gizi buruk di Depok.
Total balita yang menderita gizi buruk hanya tersisa sekitar 70 balita, dari sekitar 1300 balita dalam kurun waktu Juni-Juli.
"Itu kan bukan kasus baru, sudah kami tangani kok, total balita yang terkena gizi buruk per bulan Juni-Juli tinggal 70 dari 1300an balita. Nah, itu yang harus diketahui, kita itu sudah bergerak secara sistemik dengan menggunakan dua pendekatan," katanya kepada wartawan, di balai kota Depok, Kamis (27/12).
ia mengatakan, pendekatan yang dilakukan untuk menangani kasus gizi buruk ini, melibatkan keluarga yang sudah berhasil dalam mengasuh anaknya untuk menularkan kesuksesannya ke keluarga lain.
"Dilakukan juga terapi secara sistemik, baik orang tua dan anaknya di panti pemulihan gizi," tegas Nur Mahmudi.
Penanganan ini, lanjutnya, dilakukan oleh pemerintah kota dengan lembaga panti asuhan, dan puskesmas secara gratis.
Ia menambahkan, kasus gizi buruk ini bukanlah hal yang baru, karena sudah lama dilakukan penanganan.
Nur Mahmudi mengaku, memang dalam penanganan gizi buruk membutuhkan waktu yang lama. Karena, proses penyembuhannya membutuhkan waktu.
"Proses penyelesaian gizi buruk itu perlu waktu cukup lama. Kalau yang biasa saja itu, butuh 6 bulan, apalagi yang diikuti dengan penyakit, belum lagi orang tuanya yang agak lepas tangan," ucapnya.
Ia mengaku, saat ini pemerintah kota Depok berusaha dan bertekad mengurangi jumlah penderita gizi buruk. Namun diakuinya terdapat sejumlah hambatan.
"Jangan dibilang usia segitu enggak bisa berjalan, enggak bisa bicara, anak saya saja 17 bulan belum bisa jalan, anak itu kan tipenya beda - beda," tukasnya.
(stb)