Pengamat nilai, KBT & KBB hanya memindahkan titik banjir
Rabu, 26 Desember 2012 - 17:28 WIB
Pengamat nilai, KBT & KBB hanya memindahkan titik banjir
A
A
A
Sindonews.com – Rampungnya pembangunan Kanal banjir Timur (KBT) dan kanal Banjir Barat (KBB), rupanya tidak terlalu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap banjir di DKi Jakarta.
Bahkan, adanya KBT dan KBB hanya memindahkan titik banjir. Hal itu diungkapkan pengamat perkotaan Slamet Doroyani.
Menurutnya, untuk mengatasi banjir di DKI Jakarta tidak hanya dilakukan, dengan melakukan pembangunan KBT dan KBB.
Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan korinasi dengan kawasan penyangga Ibu Kota.
“KBT dan KBB hanya memindahkan lokasi titik banjir, tapi tidak meminimalisir banjir yang terjadi di Jakarta,” kata pengamat perkotaan Slamet Doroyani kepada Sindonews.com, Rabu (26/12/2012).
Ia menilai, gerakan Jokowi-Ahok lamban dalam menangulangi banjir yang sudah menjadi langganan bagi Kota Jakarta.
Lambannya penanganan banjir, mengakibatkan warga mengalami kerugian materi, bahkan sampai ada yang kehilangan nyawa akibat bencana banjir ini.
“Sistem erly warning yang tidak berjalan dengan baik dan tidak adanya kordinasi dengan kawasan penyanggah, membuat banjir di Jakarta sulit diatas,” katanya.
Kendati demikian, Slamet mengakui, hal ini terjadi bukan hanya disebabkan lambannya Pemprov DKI.
Namun, bencana ini merupakan bencana warisan dari pemerintahan sebelumnya.
“Persoalan ini harus menjadi catatan penting pemerintah, sehingga permasalahan banjir bisa diatasi dengan cepat,” imbuhnya.
Bahkan, adanya KBT dan KBB hanya memindahkan titik banjir. Hal itu diungkapkan pengamat perkotaan Slamet Doroyani.
Menurutnya, untuk mengatasi banjir di DKI Jakarta tidak hanya dilakukan, dengan melakukan pembangunan KBT dan KBB.
Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan korinasi dengan kawasan penyangga Ibu Kota.
“KBT dan KBB hanya memindahkan lokasi titik banjir, tapi tidak meminimalisir banjir yang terjadi di Jakarta,” kata pengamat perkotaan Slamet Doroyani kepada Sindonews.com, Rabu (26/12/2012).
Ia menilai, gerakan Jokowi-Ahok lamban dalam menangulangi banjir yang sudah menjadi langganan bagi Kota Jakarta.
Lambannya penanganan banjir, mengakibatkan warga mengalami kerugian materi, bahkan sampai ada yang kehilangan nyawa akibat bencana banjir ini.
“Sistem erly warning yang tidak berjalan dengan baik dan tidak adanya kordinasi dengan kawasan penyanggah, membuat banjir di Jakarta sulit diatas,” katanya.
Kendati demikian, Slamet mengakui, hal ini terjadi bukan hanya disebabkan lambannya Pemprov DKI.
Namun, bencana ini merupakan bencana warisan dari pemerintahan sebelumnya.
“Persoalan ini harus menjadi catatan penting pemerintah, sehingga permasalahan banjir bisa diatasi dengan cepat,” imbuhnya.
(stb)