Pemkot Depok kualahan atasi banjir dan longsor
Selasa, 25 Desember 2012 - 17:24 WIB
Pemkot Depok kualahan atasi banjir dan longsor
A
A
A
Sindonews.com - Banyaknya titik banjir dan longsor yang terjadi di kota Depok, membuat Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Dibimasda) Kota Depok kualahan menangani bencana alam tersebut.
Bahkan, banyaknya titik bencana membuat Dibimasda belum melakukan pendataan korban dan berapa kebutuhan bantuan, untuk membantu korban bencana banjir dan longsor.
Hal itu diakui Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Enco Kuryasa. Menurutnya banyaknya bencana yang terjadi di Kota Depok, tidak bisa ditangani semuanya, hal itu dikarenakan kurangnya tim Satuan Tugas (Satgas) yang dimiliki oleh Dibimasda.
"Kami memohon maaf kepada warga, yang terkena musibah banjir dan lonsgro yang tidak tertangani semua, mengingat tenaga Satgas terbatas, sementara kejadian serempak di wilayah kota. Tapi kami akan berusaha melakukan penyisiran kembali," kata Enco kepada wartawan, Selasa (25/12/12).
Enco mengaku, pihaknya hanya dapat menurunkan empat tim, yang dibantu oleh 100 personil TNI Yon Unit TNI 201 untuk menangani banjir dan longsor.
Selain itu, Enco juga mengaku saat ini penanganan yang dilakukan hanya bersifat tanggap darurat. Pasalnya anggaran untuk perbaikan infrastruktur yang rusak harus dilakukan dengan sistem lelang tahun depan.
Ia menambahkan, dalam dua bulan terakhir ini, Dibimasda Depok sudah mengeluarkan dana tanggap darurat sebesar Rp240 juta.
"Kerusakan sebetulnya tidak terlalu parah, masih penanganan darurat saja. Namun jika ada kerusakan nanti dilakukan perbaikan pasca bencana dan harus lewat prosedur, tak bisa penunjukan langsung, harus lewat tender," ungkapnya.
Selain itu, Enco mengatakan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menunjukan adanya peningkatan curah hujan lebih dari dua kali lipat dari daya tampung maksimal air di Kota Depok.
"Kalau curah hujan sudah 30 milimeter per jam, biasanya Depok pasti banjir. Tapi dari Sabtu hingga Minggu curah hujan itu mencapai 70 milimeter per jam," tutup Enco.
Sedikitnya dalam dua hari saja terdapat 13 titik banjir dan longsor di Depok. Longsor juga menyebabkan empat orang warga luka-luka.
Bahkan, banyaknya titik bencana membuat Dibimasda belum melakukan pendataan korban dan berapa kebutuhan bantuan, untuk membantu korban bencana banjir dan longsor.
Hal itu diakui Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Enco Kuryasa. Menurutnya banyaknya bencana yang terjadi di Kota Depok, tidak bisa ditangani semuanya, hal itu dikarenakan kurangnya tim Satuan Tugas (Satgas) yang dimiliki oleh Dibimasda.
"Kami memohon maaf kepada warga, yang terkena musibah banjir dan lonsgro yang tidak tertangani semua, mengingat tenaga Satgas terbatas, sementara kejadian serempak di wilayah kota. Tapi kami akan berusaha melakukan penyisiran kembali," kata Enco kepada wartawan, Selasa (25/12/12).
Enco mengaku, pihaknya hanya dapat menurunkan empat tim, yang dibantu oleh 100 personil TNI Yon Unit TNI 201 untuk menangani banjir dan longsor.
Selain itu, Enco juga mengaku saat ini penanganan yang dilakukan hanya bersifat tanggap darurat. Pasalnya anggaran untuk perbaikan infrastruktur yang rusak harus dilakukan dengan sistem lelang tahun depan.
Ia menambahkan, dalam dua bulan terakhir ini, Dibimasda Depok sudah mengeluarkan dana tanggap darurat sebesar Rp240 juta.
"Kerusakan sebetulnya tidak terlalu parah, masih penanganan darurat saja. Namun jika ada kerusakan nanti dilakukan perbaikan pasca bencana dan harus lewat prosedur, tak bisa penunjukan langsung, harus lewat tender," ungkapnya.
Selain itu, Enco mengatakan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menunjukan adanya peningkatan curah hujan lebih dari dua kali lipat dari daya tampung maksimal air di Kota Depok.
"Kalau curah hujan sudah 30 milimeter per jam, biasanya Depok pasti banjir. Tapi dari Sabtu hingga Minggu curah hujan itu mencapai 70 milimeter per jam," tutup Enco.
Sedikitnya dalam dua hari saja terdapat 13 titik banjir dan longsor di Depok. Longsor juga menyebabkan empat orang warga luka-luka.
(stb)