Flu burung merebak, harga bebek anjlok
Rabu, 19 Desember 2012 - 14:01 WIB
Flu burung merebak, harga bebek anjlok
A
A
A
Sindonews.com - Kematian ribuan bebek yang diduga karena flu burung di sejumlah wilayah di Jawa Tengah berdampak pada harga jual bebek. Kini harga bebek hidup di Jawa Tengah hanya dihargai Rp10 ribu per ekor.
Pantauan SINDO di Pasar Semanggi Solo, maraknya isu flu burung harga bebek dalam kondisi hidup turun hingga tembus angka Rp10 ribu per ekor. Padahal sebelumnya, harga jual bebek bisa mencapai Rp30 ribu per ekor.
Sejumlah pedagang mengaku, pendapatan mereka menurun dalam beebrapa pekan terakhir.
"Kalau tidak pintar-pintar malah bisa merugi," kata Sariban pedagang bebek di Pasar Semanggi, Solo, Rabu (19/12/2012).
Misalnya saja harga bebek yang sebelumnya seharga Rp30 ribu, kini terpaksa dijual murah karena rendahnya daya beli masyarakat. Sebagian besar pelanggannya merupakan pemilik warung nasi bebek, sejak dikabarkan ada flu burung warung mereka sepi.
"Pemilik warung bebek juga mengurangi penjualan karena sepi," tukasnya.
Sementara Joko pembeli bebek mengaku, kini harus lebih teliti dalam memilih bebek karena bebek ini akan di masak dan dijual lagi.
"Harus jeli, kalau tidak saya bisa rugi karena bebek yang saya beli untuk dijual lagi," katanya.
Sejak merebaknya kematian ribuan bebek, penjual unggas di Pasar Semanggi mulai berkurang. Hanya ada pedagang yang bertahan menjual bebek. Ternyata mereka juga khawatir dengan merebaknya kasus flu burung yang menyerang bebek.
"Pemerintah juga harus tanggap melakukan penyemprotan agar virus flu burung tidak ada di pasar unggas ini," harap Sariban.
Pantauan SINDO di Pasar Semanggi Solo, maraknya isu flu burung harga bebek dalam kondisi hidup turun hingga tembus angka Rp10 ribu per ekor. Padahal sebelumnya, harga jual bebek bisa mencapai Rp30 ribu per ekor.
Sejumlah pedagang mengaku, pendapatan mereka menurun dalam beebrapa pekan terakhir.
"Kalau tidak pintar-pintar malah bisa merugi," kata Sariban pedagang bebek di Pasar Semanggi, Solo, Rabu (19/12/2012).
Misalnya saja harga bebek yang sebelumnya seharga Rp30 ribu, kini terpaksa dijual murah karena rendahnya daya beli masyarakat. Sebagian besar pelanggannya merupakan pemilik warung nasi bebek, sejak dikabarkan ada flu burung warung mereka sepi.
"Pemilik warung bebek juga mengurangi penjualan karena sepi," tukasnya.
Sementara Joko pembeli bebek mengaku, kini harus lebih teliti dalam memilih bebek karena bebek ini akan di masak dan dijual lagi.
"Harus jeli, kalau tidak saya bisa rugi karena bebek yang saya beli untuk dijual lagi," katanya.
Sejak merebaknya kematian ribuan bebek, penjual unggas di Pasar Semanggi mulai berkurang. Hanya ada pedagang yang bertahan menjual bebek. Ternyata mereka juga khawatir dengan merebaknya kasus flu burung yang menyerang bebek.
"Pemerintah juga harus tanggap melakukan penyemprotan agar virus flu burung tidak ada di pasar unggas ini," harap Sariban.
(ysw)