Greenpeace tantang Cagub Jabar perbaiki lingkungan
Selasa, 18 Desember 2012 - 12:03 WIB
Greenpeace tantang Cagub Jabar perbaiki lingkungan
A
A
A
Sindonews.com - Kurangnya perhatian para Calon Gubernur Jawa Barat (Cagub Jabar) membuat sejumlah aktivis lingkungan Greenpeace turun gunung. Mereka menantang Cagub Jabar untuk memperbaiki lingkungan, terutama Sungai Citarum yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Bertepatan dengan hari penentuan nomor urut calon Pilgub Jabar, belasan aktivis Greenpeace melakukan demonstrasi di depan Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung.
Aksi damai diwarnai adegan teatrikal, ada lima aktivis yang memakai topeng Ahmad Heryawan, Dede Yusuf, Rieke Diah Pitaloka, Dikdik Mulyana Arif Mansyur, dan Irianto MS Syafiuddin. Mereka berdiri di hadapan aktivis lainnya yang berbaring mengenakan baju anti radiasi warna putih lengkap dengan masker.
Para aktivis juga menunjukkan beberapa poster yang menggambarkan kondisi sungai terpanjang di Jabar, yakni Sungai Citarum. Lewat poster ini diilustrasikan bagaimana pipa pembuangan yang terus saja membuang bahan kimia berbahaya ke sungai.
Juru kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Ahmad Ashov mengungkapkan, pihaknya sudah sering menyatakan bahwa Sungai Citarum sudah penuh racun akibat limbah industri.
Pihaknya memantau sosialisasi program para cagub Jabar tersebut. Namun dari lima pasang calon yang ada, Greenpeace tidak melihat ada program penyelamatan lingkungan Jabar, khususnya Sungai Citarum.
"Kami belum mendengar komitmen dan aksi nyata para cagub untuk melindungi Sungai Citarum dan lingkungan di Jabar," kata Ahmad, di sela aksi, Selasa (18/12/2012).
Belum adanya komitmen itu, kata dia, artinya para cagub belum mendengar aspirasi masyarakat Jabar yang menghendaki kelestarian lingkungan.
Padahal, data penelitian LP3ES 2011 sebanyak 81 persen masyarakat di daerah aliran sungai Citarum setuju agar tidak ada industri yang membuang limbah ke sungai.
"Itu aspirasi masyarakat yang harusnya didengar. Tetapi, kami belum melihat komitmen dari mereka," tegasnya.
Disinggung kenapa isu lingkungan tidak menjadi isu utama para calon Pilgub Jabar, hal ini terjadi karena dampak kerusakan lingkungan terjadi jangka lama.
Saat ini kerusakan Sungai Citarum sudah terasa di daerah aliran sungai, tetapi belum sampai ke perkotaan. Dampaknya akan meluas 10 sampai 15 tahun ke depan.
"Sedangkan di bidang pertanian, misalnya di Rancaekek lahan pertanian turun 1-1,5 ton perhektarenya. Ini terjadi karena pencemaran di anak Sungai Citarum," ungkapnya.
Bertepatan dengan hari penentuan nomor urut calon Pilgub Jabar, belasan aktivis Greenpeace melakukan demonstrasi di depan Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung.
Aksi damai diwarnai adegan teatrikal, ada lima aktivis yang memakai topeng Ahmad Heryawan, Dede Yusuf, Rieke Diah Pitaloka, Dikdik Mulyana Arif Mansyur, dan Irianto MS Syafiuddin. Mereka berdiri di hadapan aktivis lainnya yang berbaring mengenakan baju anti radiasi warna putih lengkap dengan masker.
Para aktivis juga menunjukkan beberapa poster yang menggambarkan kondisi sungai terpanjang di Jabar, yakni Sungai Citarum. Lewat poster ini diilustrasikan bagaimana pipa pembuangan yang terus saja membuang bahan kimia berbahaya ke sungai.
Juru kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Ahmad Ashov mengungkapkan, pihaknya sudah sering menyatakan bahwa Sungai Citarum sudah penuh racun akibat limbah industri.
Pihaknya memantau sosialisasi program para cagub Jabar tersebut. Namun dari lima pasang calon yang ada, Greenpeace tidak melihat ada program penyelamatan lingkungan Jabar, khususnya Sungai Citarum.
"Kami belum mendengar komitmen dan aksi nyata para cagub untuk melindungi Sungai Citarum dan lingkungan di Jabar," kata Ahmad, di sela aksi, Selasa (18/12/2012).
Belum adanya komitmen itu, kata dia, artinya para cagub belum mendengar aspirasi masyarakat Jabar yang menghendaki kelestarian lingkungan.
Padahal, data penelitian LP3ES 2011 sebanyak 81 persen masyarakat di daerah aliran sungai Citarum setuju agar tidak ada industri yang membuang limbah ke sungai.
"Itu aspirasi masyarakat yang harusnya didengar. Tetapi, kami belum melihat komitmen dari mereka," tegasnya.
Disinggung kenapa isu lingkungan tidak menjadi isu utama para calon Pilgub Jabar, hal ini terjadi karena dampak kerusakan lingkungan terjadi jangka lama.
Saat ini kerusakan Sungai Citarum sudah terasa di daerah aliran sungai, tetapi belum sampai ke perkotaan. Dampaknya akan meluas 10 sampai 15 tahun ke depan.
"Sedangkan di bidang pertanian, misalnya di Rancaekek lahan pertanian turun 1-1,5 ton perhektarenya. Ini terjadi karena pencemaran di anak Sungai Citarum," ungkapnya.
(ysw)