FPI tuding demo anti poligami bermuatan politis
Jum'at, 14 Desember 2012 - 20:52 WIB
FPI tuding demo anti poligami bermuatan politis
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya Murhali Barda mengaku gerah dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan sekelompok demonstran yang menamakan dirinya Gerakan Wanita AntiPoligami (Gewap).
Ustadz berjuluk Singa Bekasi ini, tidak terima jika para pengunjuk rasa itu menggunakan pakaian dalam wanita sebagai masker saat berdemo.
“Apa yang dilakukan para pengunjuk rasa yang Anti Poligami sudah jauh melenceng dari nilai-nilai syariat Islam. Mereka sudah mempermalukan diri sendiri dengan membawa-bawa pakaian dalam wanita yang digunakan sebagai masker," ujar Murhali, di Bekasi, Jumat (14/12/2012).
Dia melanjutkan, jika menolak poligami, kenapa harus syariat yang digembor-gemborkan? "Katanya anti poligami, tapi kok malah anti syariat? Ini sudah tidak benar,” tegasnya.
Sebaliknya, Murhali merasa curiga, jangan-jangan aksi yang dilakukan menjelang Pilkada Kota Bekasi itu bermuatan politis untuk menjatuhkan salah satu pasangan calon. Jika mereka memang sengaja ingin melakukan black campaign, maka jangan sampai menghancurkan Islam dengan syariatnya.
“Saya tidak membela siapa pun. Tapi saya tidak terima dengan aksi Anti Poligami kemarin. Aksi itu sudah kurang ajar. Saya ingin tahu siapa aktor di belakangnya? Saya ingin datangi. Kalau ingin menjatuhkan lawan politik, jangan dengan membawa nama syariat. Cari yang lebih kreatif dan cerdas,” paparnya.
Adapun mantan Rektor Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi Haris Budiyono menyatakan, menjelang pelaksanaan Pilkada Bekasi seharusnya semua pihak mampu menjaga kondisi yang ada sehingga perhelatan pesta demokrasi lima tahunan di Kota Bekasi tetap terjaga dan berkualitas.
“Hampir di semua ajang Pilkada, aksi black campaign muncul. Karena pada umumnya para kandidat maupun tim sukses mencoba mencari kelemahan lawan-lawannya. Terlebih kepada lawan yang dianggap punya kekuatan dan peluang lebih kuat,” ungkap Haris.
Kepala Pusat Kajian Otonomi dan Pembangunan Daerah (Puskopda) Unisma Bekasi ini yakin, masyarakat Bekasi sudah cerdas dalam memilih. Munculnya opini yang bernuansa black campaign tidak mempengaruhi sikap masyarakat.
”Mereka sudah mampu membedakan mana yang black campaign, mana yang memang memiliki kapasitas dalam memimpin Bekasi ke depan,” ujar Haris.
Ustadz berjuluk Singa Bekasi ini, tidak terima jika para pengunjuk rasa itu menggunakan pakaian dalam wanita sebagai masker saat berdemo.
“Apa yang dilakukan para pengunjuk rasa yang Anti Poligami sudah jauh melenceng dari nilai-nilai syariat Islam. Mereka sudah mempermalukan diri sendiri dengan membawa-bawa pakaian dalam wanita yang digunakan sebagai masker," ujar Murhali, di Bekasi, Jumat (14/12/2012).
Dia melanjutkan, jika menolak poligami, kenapa harus syariat yang digembor-gemborkan? "Katanya anti poligami, tapi kok malah anti syariat? Ini sudah tidak benar,” tegasnya.
Sebaliknya, Murhali merasa curiga, jangan-jangan aksi yang dilakukan menjelang Pilkada Kota Bekasi itu bermuatan politis untuk menjatuhkan salah satu pasangan calon. Jika mereka memang sengaja ingin melakukan black campaign, maka jangan sampai menghancurkan Islam dengan syariatnya.
“Saya tidak membela siapa pun. Tapi saya tidak terima dengan aksi Anti Poligami kemarin. Aksi itu sudah kurang ajar. Saya ingin tahu siapa aktor di belakangnya? Saya ingin datangi. Kalau ingin menjatuhkan lawan politik, jangan dengan membawa nama syariat. Cari yang lebih kreatif dan cerdas,” paparnya.
Adapun mantan Rektor Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi Haris Budiyono menyatakan, menjelang pelaksanaan Pilkada Bekasi seharusnya semua pihak mampu menjaga kondisi yang ada sehingga perhelatan pesta demokrasi lima tahunan di Kota Bekasi tetap terjaga dan berkualitas.
“Hampir di semua ajang Pilkada, aksi black campaign muncul. Karena pada umumnya para kandidat maupun tim sukses mencoba mencari kelemahan lawan-lawannya. Terlebih kepada lawan yang dianggap punya kekuatan dan peluang lebih kuat,” ungkap Haris.
Kepala Pusat Kajian Otonomi dan Pembangunan Daerah (Puskopda) Unisma Bekasi ini yakin, masyarakat Bekasi sudah cerdas dalam memilih. Munculnya opini yang bernuansa black campaign tidak mempengaruhi sikap masyarakat.
”Mereka sudah mampu membedakan mana yang black campaign, mana yang memang memiliki kapasitas dalam memimpin Bekasi ke depan,” ujar Haris.
(san)