Duet dengan Khofifah, Gus Ipul pikir-pikir
Kamis, 13 Desember 2012 - 22:17 WIB
Duet dengan Khofifah, Gus Ipul pikir-pikir
A
A
A
Sindonews.com - Untuk menyolidkan suara para kaum Nahdliyyin, ada wacana dalam Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur (Pilkada Jatim), NU akan menduetkan Khofifah Indar Parawansah dan Saifullah Yusuf.
Gus Ipul (panggilan Saifullah Yusuf) sendiri mencoba untuk mempelajari rencana tersebut. Namun menurut Wakil Gubernur Jawa Timur ini dalam politik segalanya masih mungkin terjadi.
"Saya masih lihat-lihat dulu, khan masih sebatas wacana. Dalam Politik semuanya serba mungkin. Saya masih menunggu perkembangan di internal NU," ujar Gus Ipul di sela-sela pembukaan pameran pesona batik Indonesia, Kamis (13/12/2012).
Ia juga mengaku belum bisa membayangkan jika duet tersebut benar-benar terwujud.
Wacana untuk menduetkan dua tokoh tersebut adalah agar suara warga Nahdliyyin tidak terpecah seperti ketika Pilgub tahun 2008. Hal itu dilontarkan oleh Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar di Jakarta beberapa waktu lalu sebagai solusi alternatif.
Gus Ipul juga menepis bahwa saat ini internal NU terpecah dengan munculnya dua nama bakal calon gubernur yang akan direkomendasi oleh NU.
Dalam kondisi tersebut tentunya ada dinamika, pergulatan dan ada aspirasi warga Nahdliyyin yang tidak tampak dan harus diperhatikan oleh para Pengurus NU.
Tentunya, NU tidak bisa membiarkan aspirasi di kalangan warga NU untuk kepentingan politik. Dengan berbuat demikan bukan berarti NU terlibat dalam kepentingan politik praktis. Sebab, politik NU itu ada dua yakni Politik Khittoh dan Politik empiris.
Gus Ipul (panggilan Saifullah Yusuf) sendiri mencoba untuk mempelajari rencana tersebut. Namun menurut Wakil Gubernur Jawa Timur ini dalam politik segalanya masih mungkin terjadi.
"Saya masih lihat-lihat dulu, khan masih sebatas wacana. Dalam Politik semuanya serba mungkin. Saya masih menunggu perkembangan di internal NU," ujar Gus Ipul di sela-sela pembukaan pameran pesona batik Indonesia, Kamis (13/12/2012).
Ia juga mengaku belum bisa membayangkan jika duet tersebut benar-benar terwujud.
Wacana untuk menduetkan dua tokoh tersebut adalah agar suara warga Nahdliyyin tidak terpecah seperti ketika Pilgub tahun 2008. Hal itu dilontarkan oleh Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar di Jakarta beberapa waktu lalu sebagai solusi alternatif.
Gus Ipul juga menepis bahwa saat ini internal NU terpecah dengan munculnya dua nama bakal calon gubernur yang akan direkomendasi oleh NU.
Dalam kondisi tersebut tentunya ada dinamika, pergulatan dan ada aspirasi warga Nahdliyyin yang tidak tampak dan harus diperhatikan oleh para Pengurus NU.
Tentunya, NU tidak bisa membiarkan aspirasi di kalangan warga NU untuk kepentingan politik. Dengan berbuat demikan bukan berarti NU terlibat dalam kepentingan politik praktis. Sebab, politik NU itu ada dua yakni Politik Khittoh dan Politik empiris.
(ysw)