Macet, Yogyakarta terancam ditinggal wisatawan
Kamis, 13 Desember 2012 - 00:04 WIB
Macet, Yogyakarta terancam ditinggal wisatawan
A
A
A
Sindonews.com – Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pariwisata, terancam akan ditinggalkan wisatawan. Menyusul kesan macet yang mulai melekat dengan kondisi lalu lintasnya.
Dengan kondisi ini, pemerintah harus memikirkan sarana dan prasarana agar pariwisata tetap terjaga.
Sekretaris I Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan Yogyakarta merupakan salah satu kota yang menjdi idola untuk pariwisata. Sepanjang tahun, ribuan wisatawan baik dalam dan luar negeri selalu memadati setiap sudut kota.
Permasalah yang ada, kemacetan yang ada telah terendus di dalam dunia pariwisata. Beberapa ruas jalan dikenal macet dan sulit dihindari.
“Yogyakarta ini sudah terendus kemacetannya, bahkan sampai di luar negeri,” jelas Deddy.
Menurutnya, pemerintah harus bertindak cepat untuk menangani permasalahan yang ada. Jangan kesan macet melekat pada kota Gudeg, seperti di Bandung. Perlu kerjasama lintas sektoran untuk mengatur tata ruang dan wilayah agar kemacetan bisa diatasi.
Wisata ke Yogyakarta, selalu identik dengan Malioboro namun akses jalan menuju ke pusat bisnis dan cinderamata ini sangatlah sulit. Belum lagi lokasi parkir yang sulit diperoleh. Jikapun ada, wisatawan harus berjalan cukup jauh.
“Kantong-kantong parkir dan sarana prasara pendukung juga harus disiapkan,” tutur ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) ini.
Dengan kondisi ini, pemerintah harus memikirkan sarana dan prasarana agar pariwisata tetap terjaga.
Sekretaris I Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan Yogyakarta merupakan salah satu kota yang menjdi idola untuk pariwisata. Sepanjang tahun, ribuan wisatawan baik dalam dan luar negeri selalu memadati setiap sudut kota.
Permasalah yang ada, kemacetan yang ada telah terendus di dalam dunia pariwisata. Beberapa ruas jalan dikenal macet dan sulit dihindari.
“Yogyakarta ini sudah terendus kemacetannya, bahkan sampai di luar negeri,” jelas Deddy.
Menurutnya, pemerintah harus bertindak cepat untuk menangani permasalahan yang ada. Jangan kesan macet melekat pada kota Gudeg, seperti di Bandung. Perlu kerjasama lintas sektoran untuk mengatur tata ruang dan wilayah agar kemacetan bisa diatasi.
Wisata ke Yogyakarta, selalu identik dengan Malioboro namun akses jalan menuju ke pusat bisnis dan cinderamata ini sangatlah sulit. Belum lagi lokasi parkir yang sulit diperoleh. Jikapun ada, wisatawan harus berjalan cukup jauh.
“Kantong-kantong parkir dan sarana prasara pendukung juga harus disiapkan,” tutur ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) ini.
(ysw)