13 hari menghilang, Eno akhirnya pulang
Senin, 26 November 2012 - 14:04 WIB
13 hari menghilang, Eno akhirnya pulang
A
A
A
Sindonews.com - Setelah 13 hari menghilang, Eno Wahyu Sri Pamungkas, siswi Sekolah Dasar (SD) yang menghilang beberapa waktu lalu akhirnya bisa pulang ke rumahnya.
Dari pengakuannya, gadis yang masih berusia 12 tahun tersebut diduga menjadi korban penculikan sindikat penjualan anak untuk dipekerjakan sebagai pelacur.
Setelah pulang ke rumahnya, kondisi putri pasangan suami istri Bandi dan Sumini, warga Desa Dukuh Mojo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim) masih tampak trauma.
Di rumah orangtuanya, Eno masih sering ketakutan jika ada tamu yang datang.
Kepada wartawan, Eno mengaku hilang sejak 13 hari lalu karena dibawa kabur oleh dua orang pria yang dikenalnya lewat Short Message Service (SMS). Modusnya setelah sering berkomunikasi lewat SMS selama sepekan, pelaku mengajak Eno bertemu.
"Saat kejadian, dia (pelaku) mengetuk jendela kamar di rumah Eno. Saat membuka jendela, saya langsung diseret keluar," ungkap Eno menjelaskan di kediamannya, Senin (26/11/2012).
Meski sempat meronta, seluruh keluarga tidak ada yang mendengar karena pada malam kejadian tetangga Eno ada yang menggelar acara hajatan dan menyalakan sound system sangat keras. Sejak itu, Eno dibawa kabur oleh dua orang pria ke daerah Bojonegoro.
Dari Bojonegoro, Eno dibawa lagi oleh sekelompok pria yang lain hingga menyeberangi laut dan tiba di sebuah rumah megah yang letaknya sangat terpencil. Di dalam rumah tersebut, Eno mengaku terkejut karena bertemu dengan puluhan anak seusianya yang disekap di kamar-kamar terpisah. Di antara anak-anak tersebut juga ada yang baru datang dan terus menangis.
Dari cerita anak-anak yang ditemuinya itu, Eno baru mengetahui jika mereka akan dipekerjakan sebagai pelacur. Meski sempat ingin kabur, namun Eno dan anak-anak tersebut mengaku tidak berani melakukannya karena dijaga ketat oleh sekelompok preman.
Di rumah megah tersebut, setiap harinya eno disuruh mencuci pakaian seorang wanita yang menjadi bos dan pakaian anak-anak lain yang sudah dipekerjakan sebagai pelacur.
Setelah berita hilangnya Eno ditayangkan di televisi, rupanya seorang wanita yang tidak diketahui namanya dan menjadi bos di rumah tersebut gerah dan langsung menyuruh anak buahnya untuk mengirim Eno pulang ke kampungnya.
Oleh bosnya itu, Eno diberi uang sebesar Rp180 ribu dan diancam untuk tidak menceritakan apapun yang diketahuinya. Lalu oleh orang suruhan bosnya, Eno diantar pulang dan ditinggalkan di Terminal Mojoagung-Jombang hingga akhirnya diantar lagi oleh seorang tukang ojek pulang ke rumahnya.
Kini, Eno dan keluarganya masih terus merasa cemas. Sebab pelaku sempat menyatakan akan menjemputnya lagi jika situasinya nanti sudah tenang.
Kini, meski sudah sangat rindu ingin kembali ke sekolah, Eno masih terus mengurung diri di rumahnya karena takut diculik lagi oleh pelaku.
Dari pengakuannya, gadis yang masih berusia 12 tahun tersebut diduga menjadi korban penculikan sindikat penjualan anak untuk dipekerjakan sebagai pelacur.
Setelah pulang ke rumahnya, kondisi putri pasangan suami istri Bandi dan Sumini, warga Desa Dukuh Mojo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim) masih tampak trauma.
Di rumah orangtuanya, Eno masih sering ketakutan jika ada tamu yang datang.
Kepada wartawan, Eno mengaku hilang sejak 13 hari lalu karena dibawa kabur oleh dua orang pria yang dikenalnya lewat Short Message Service (SMS). Modusnya setelah sering berkomunikasi lewat SMS selama sepekan, pelaku mengajak Eno bertemu.
"Saat kejadian, dia (pelaku) mengetuk jendela kamar di rumah Eno. Saat membuka jendela, saya langsung diseret keluar," ungkap Eno menjelaskan di kediamannya, Senin (26/11/2012).
Meski sempat meronta, seluruh keluarga tidak ada yang mendengar karena pada malam kejadian tetangga Eno ada yang menggelar acara hajatan dan menyalakan sound system sangat keras. Sejak itu, Eno dibawa kabur oleh dua orang pria ke daerah Bojonegoro.
Dari Bojonegoro, Eno dibawa lagi oleh sekelompok pria yang lain hingga menyeberangi laut dan tiba di sebuah rumah megah yang letaknya sangat terpencil. Di dalam rumah tersebut, Eno mengaku terkejut karena bertemu dengan puluhan anak seusianya yang disekap di kamar-kamar terpisah. Di antara anak-anak tersebut juga ada yang baru datang dan terus menangis.
Dari cerita anak-anak yang ditemuinya itu, Eno baru mengetahui jika mereka akan dipekerjakan sebagai pelacur. Meski sempat ingin kabur, namun Eno dan anak-anak tersebut mengaku tidak berani melakukannya karena dijaga ketat oleh sekelompok preman.
Di rumah megah tersebut, setiap harinya eno disuruh mencuci pakaian seorang wanita yang menjadi bos dan pakaian anak-anak lain yang sudah dipekerjakan sebagai pelacur.
Setelah berita hilangnya Eno ditayangkan di televisi, rupanya seorang wanita yang tidak diketahui namanya dan menjadi bos di rumah tersebut gerah dan langsung menyuruh anak buahnya untuk mengirim Eno pulang ke kampungnya.
Oleh bosnya itu, Eno diberi uang sebesar Rp180 ribu dan diancam untuk tidak menceritakan apapun yang diketahuinya. Lalu oleh orang suruhan bosnya, Eno diantar pulang dan ditinggalkan di Terminal Mojoagung-Jombang hingga akhirnya diantar lagi oleh seorang tukang ojek pulang ke rumahnya.
Kini, Eno dan keluarganya masih terus merasa cemas. Sebab pelaku sempat menyatakan akan menjemputnya lagi jika situasinya nanti sudah tenang.
Kini, meski sudah sangat rindu ingin kembali ke sekolah, Eno masih terus mengurung diri di rumahnya karena takut diculik lagi oleh pelaku.
(azh)