Penderita perut buncit butuh bantuan
Minggu, 25 November 2012 - 23:49 WIB
Penderita perut buncit butuh bantuan
A
A
A
Sindonews.com – Abdul Ansar (20), seorang remaja warga Desa Lekopadis, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), yang menderita penyakit perut buncit membutuhkan bantuan.
Kondisi ekonomi keluarga yang lemah membuat Abdul Ansar hanya tergolek ditempat tidurnya tanpa pelayanan kesehatan yang memadai untuk kesembuhannya.
Kepada SINDO, Fatimah (35), ibu Abdul Ansar, mengatakan, anaknya menderita penyakit seperti itu sejak tiga tahun lalu tepatnya pada tahun 2009.
“Saya tidak ada uang untuk rawat di rumah sakit,” keluh Fatima dengan sangat lemah, Minggu (25/11/2012).
Dikatakan Fatima, sekitar satu bulan lalu, ia pernah membawa anaknya ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Polewali, tapi ketika itu dokter tidak bisa memberikan kepastian soal penyakitnya.
Untuk melakukan perawatan secara serius di rumah sakit, ia tidak bisa melakukannya karena tidak memiliki biaya. Akhirnya, ia harus membawa pulang kembali anaknya tersebut untuk dirawat di rumah.
Saat ditanya mengenai kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) atau Jamkesda, Fatima yang sehari-harinya bekerja membuat kue ‘kasipi’ seakan tidak tahu hal tersebut.
Diceritakan Fatima, Abdul Ansar mulai mengalami pembengkakan di perutanya tiga tahun lalu, setelah terjatuh dari mobil.
Dengan kondisi anaknya itu, Abdul Ansar terpaksa harus lebih banyak mengurung diri di dalam rumah. Sebab, kondisinya juga sangat lemah.
Perhatian pemerintah atau dermawan sangat diharapkan untuk kesembuhan Abdul Ansar.
Kondisi ekonomi keluarga yang lemah membuat Abdul Ansar hanya tergolek ditempat tidurnya tanpa pelayanan kesehatan yang memadai untuk kesembuhannya.
Kepada SINDO, Fatimah (35), ibu Abdul Ansar, mengatakan, anaknya menderita penyakit seperti itu sejak tiga tahun lalu tepatnya pada tahun 2009.
“Saya tidak ada uang untuk rawat di rumah sakit,” keluh Fatima dengan sangat lemah, Minggu (25/11/2012).
Dikatakan Fatima, sekitar satu bulan lalu, ia pernah membawa anaknya ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Polewali, tapi ketika itu dokter tidak bisa memberikan kepastian soal penyakitnya.
Untuk melakukan perawatan secara serius di rumah sakit, ia tidak bisa melakukannya karena tidak memiliki biaya. Akhirnya, ia harus membawa pulang kembali anaknya tersebut untuk dirawat di rumah.
Saat ditanya mengenai kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) atau Jamkesda, Fatima yang sehari-harinya bekerja membuat kue ‘kasipi’ seakan tidak tahu hal tersebut.
Diceritakan Fatima, Abdul Ansar mulai mengalami pembengkakan di perutanya tiga tahun lalu, setelah terjatuh dari mobil.
Dengan kondisi anaknya itu, Abdul Ansar terpaksa harus lebih banyak mengurung diri di dalam rumah. Sebab, kondisinya juga sangat lemah.
Perhatian pemerintah atau dermawan sangat diharapkan untuk kesembuhan Abdul Ansar.
(ysw)