Korban banjir Depok, tak mau tinggal di tenda
Kamis, 15 November 2012 - 01:21 WIB
Korban banjir Depok, tak mau tinggal di tenda
A
A
A
Sindonews.com - Tanggul Kali Laya yang jebol dan menyebabkan banjir bandang, di pemukiman RW 015, dan RW 016, di Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, mulai diperbaiki. Ratusan Satuan Tugas (Satgas) Banjir dibantu Kodim 0508, terus berusaha membangun bronjong dan tanggul darurat, guna mencegah air masuk ke pemukiman warga.
"Sejak Selasa 13 Nopember 2012 sore, sudah banyak petugas yang datang membantu. Diperkirakan bronjong yang berisi batu besar serta tanggul darurat selesai Rabu. Semua pihak bekerjasama bahu membahu. Mulai dari karang taruna, petugas satgas banjir, petugas Dibimasda, serta Kodim 0508," kata Lurah Tugu, Supardi, Rabu (14/11/2012).
Dia mengaku, pihaknya sempat mengalami kesulitan dalam melakukan koordinasi. "Pada saat kejadian, masyarakat memang tak siap dan kaget, karena air dengan cepatnya sudah masuk ke pemukiman warga. Saat ini, air mulai surut sejak Selasa subuh. Warga sudah mulai tenang, dan berangsur membersihkan lumpur," terangnya.
Tenda penampungan, dan dapur umum juga sudah dipersiapkan. Termasuk posko pelayanan kesehatan. "Kami berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Hingga saat ini masih cukup terpenuhi. Memang diperlukan kebutuhan mendesak seperti selimut, makanan dan obat-obatan," tegasnya.
Dikatakan Supardi, pihaknya sudah mulai menerima laporan warga yang mengeluhkan penyakit, antara lain masuk angin dan demam. Kendati telah dipersiapkan tenda pengungsian, namun warga memilih mengungsi di rumah tetangga atau saudaranya.
"Belum ada yang mau menginap di tenda. Mereka memilih menginap di rumah tetangga, kembali ke rumahnya atau ke rumah saudaranya," tuturnya.
Hingga saat ini, pihaknya terus bekerjasama dengan pihak terkait mencegah air masuk dengan menguatkan tanggul. "Sebenarnya pengerjaan tanggul sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Namun ini kan bencana dan enggak bisa dicegah. Air dari Kali Laya ini, berada di atas pemukiman warga. Dulunya kawasan ini rawa," ungkap Supardi.
Dirinya berharap, pembuatan bronjongan darurat dapat menahan air tak masuk ke pemukiman warga. Bronjong yang bersifat sementara itu, nantinya akan diperbaiki dan dibangun turap.
Pantauan lapangan, petugas terlihat membuat bronjong dan tanggul darurat. Meski demikian, air dengan derasnya masih terus mengalir ke pemukiman warga.
Aris, salah satu warga mengaku, enggan mengungsi karena masih menyelamatkan barang-barang. Walaupun seluruh alat elektroniknya rusak karena terendam air, namun dia dan keluarga terlihat membersihkan rumah dan membereskan peralatan rumah tangga lainnya.
"Kalaupun ngungsi ya ke rumah saudara. Kalau di penampungan kurang sreg," terangnya.
Dia mengaku, belum mengetahui total pasti kerugian. Namun, diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Hingga kini, warga masih terlihat membersihkan rumah dari sisa sampah yang terbawa saat banjir pada Senin 12 Nopember 2012 malam kemarin.
"Sejak Selasa 13 Nopember 2012 sore, sudah banyak petugas yang datang membantu. Diperkirakan bronjong yang berisi batu besar serta tanggul darurat selesai Rabu. Semua pihak bekerjasama bahu membahu. Mulai dari karang taruna, petugas satgas banjir, petugas Dibimasda, serta Kodim 0508," kata Lurah Tugu, Supardi, Rabu (14/11/2012).
Dia mengaku, pihaknya sempat mengalami kesulitan dalam melakukan koordinasi. "Pada saat kejadian, masyarakat memang tak siap dan kaget, karena air dengan cepatnya sudah masuk ke pemukiman warga. Saat ini, air mulai surut sejak Selasa subuh. Warga sudah mulai tenang, dan berangsur membersihkan lumpur," terangnya.
Tenda penampungan, dan dapur umum juga sudah dipersiapkan. Termasuk posko pelayanan kesehatan. "Kami berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Hingga saat ini masih cukup terpenuhi. Memang diperlukan kebutuhan mendesak seperti selimut, makanan dan obat-obatan," tegasnya.
Dikatakan Supardi, pihaknya sudah mulai menerima laporan warga yang mengeluhkan penyakit, antara lain masuk angin dan demam. Kendati telah dipersiapkan tenda pengungsian, namun warga memilih mengungsi di rumah tetangga atau saudaranya.
"Belum ada yang mau menginap di tenda. Mereka memilih menginap di rumah tetangga, kembali ke rumahnya atau ke rumah saudaranya," tuturnya.
Hingga saat ini, pihaknya terus bekerjasama dengan pihak terkait mencegah air masuk dengan menguatkan tanggul. "Sebenarnya pengerjaan tanggul sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Namun ini kan bencana dan enggak bisa dicegah. Air dari Kali Laya ini, berada di atas pemukiman warga. Dulunya kawasan ini rawa," ungkap Supardi.
Dirinya berharap, pembuatan bronjongan darurat dapat menahan air tak masuk ke pemukiman warga. Bronjong yang bersifat sementara itu, nantinya akan diperbaiki dan dibangun turap.
Pantauan lapangan, petugas terlihat membuat bronjong dan tanggul darurat. Meski demikian, air dengan derasnya masih terus mengalir ke pemukiman warga.
Aris, salah satu warga mengaku, enggan mengungsi karena masih menyelamatkan barang-barang. Walaupun seluruh alat elektroniknya rusak karena terendam air, namun dia dan keluarga terlihat membersihkan rumah dan membereskan peralatan rumah tangga lainnya.
"Kalaupun ngungsi ya ke rumah saudara. Kalau di penampungan kurang sreg," terangnya.
Dia mengaku, belum mengetahui total pasti kerugian. Namun, diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Hingga kini, warga masih terlihat membersihkan rumah dari sisa sampah yang terbawa saat banjir pada Senin 12 Nopember 2012 malam kemarin.
(san)