Beban Rieke akan lebih berat dari Jokowi
Jum'at, 09 November 2012 - 10:01 WIB
Beban Rieke akan lebih berat dari Jokowi
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Rieke Diah Pitaloka resmi maju dalam perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat (Jabar) 2013. Rieke diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), disandingkan dengan Teten Masduki.
Banyak yang melihat pasangan Rieke-Teten dalam Pilgub Jabar, sama dengan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki T Purnama (Ahok) dalam Pilgub DKI Jakarta. Kesamaan Rieke dengan Jokowi, terletak pada kerja nyata keduanya yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat.
"Persamaan Jokowi dengan Rieke adalah, mereka sama-sama kader ideologis dari partai. Loyalitas dan kerja-kerja politik mereka untuk membesarkan partai, tempat mereka ada saat ini, bisa teraba oleh publik," ujar pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto, kepada Sindonews, Jumat (9/11/2012).
Kedua, lanjut dia, mereka juga sama-sama masih muda, dan bisa merepresentasikan sebuah regenerasi tokoh-tokoh di internal partai, terutama dalam konteks distribusi, dan alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) partai ke jabatan-jabatan publik.
Namun begitu, ada satu perbedaan mencolok antara Rieke dengan Jokowi. Rieke dinilai belum mempunyai pengalaman dalam memimpin daerah, dan hal itu, tentu akan menjadi satu tantangan besar baginya, untuk menjawab saat terpilih nanti. Sementara Jokowi, sebaliknya, dia sudah memiliki itu.
"Jokowi punya pengalaman sebagai birokrat di Solo, dan dia punya kapasitas sebagai pemimpin populis dan teknokratis sekaligus. Dia tak cuma populer di media, tetapi juga punya track record sebagai birokrat yang optimal melaksanakan tugasnya," terangnya.
Tantangan Rieke lainnya, sambung dia, adalah meyakinkan pemilih di Jabar yang jumlahnya empat kali lipat dari total pemilih di DKI Jakarta. Hal ini, tentu akan menjadi tantang besar tidak hanya bagi Rieke, tapi bagi partai yang mengusungnya menjadi calon.
"Tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi Rieke, karena dia harus meyakinkan basis pemilih yang jumlahnya besar. Jika Jokowi hanya memersuasi 7 jutaan pemilih, di Jabar Rieke harus menyakinkan 29 jutaan pemilih, jika menggunakan gambaran pemilu legislatif 2009," ungkapnya.
Hambatan Rieke lainnya, dia akan berhadapan langsung dengan pemilih tradisional di Jabar. Hal yang sangat berbeda dengan pemilih Jokowi di Jakarta yang lebih modern dan rasional. Namun begitu, pasangan ini dianggap mampu bersaing, tinggal bagaimana strategi partai.
"Ini kombinasi antara kader ideolog partai dan aktivis yang memiliki track-record dalam pemberantasan korupsi. Bauran antara kekuatan figur, soliditas partai, political news framing media, dan jejaring di akar rumput. Citra Rieke dan Teten saya kira masih bisa bersaing, tinggal mengelola treatment-treatment yang tepat untuk pemilih," tukasnya.
Banyak yang melihat pasangan Rieke-Teten dalam Pilgub Jabar, sama dengan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki T Purnama (Ahok) dalam Pilgub DKI Jakarta. Kesamaan Rieke dengan Jokowi, terletak pada kerja nyata keduanya yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat.
"Persamaan Jokowi dengan Rieke adalah, mereka sama-sama kader ideologis dari partai. Loyalitas dan kerja-kerja politik mereka untuk membesarkan partai, tempat mereka ada saat ini, bisa teraba oleh publik," ujar pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto, kepada Sindonews, Jumat (9/11/2012).
Kedua, lanjut dia, mereka juga sama-sama masih muda, dan bisa merepresentasikan sebuah regenerasi tokoh-tokoh di internal partai, terutama dalam konteks distribusi, dan alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) partai ke jabatan-jabatan publik.
Namun begitu, ada satu perbedaan mencolok antara Rieke dengan Jokowi. Rieke dinilai belum mempunyai pengalaman dalam memimpin daerah, dan hal itu, tentu akan menjadi satu tantangan besar baginya, untuk menjawab saat terpilih nanti. Sementara Jokowi, sebaliknya, dia sudah memiliki itu.
"Jokowi punya pengalaman sebagai birokrat di Solo, dan dia punya kapasitas sebagai pemimpin populis dan teknokratis sekaligus. Dia tak cuma populer di media, tetapi juga punya track record sebagai birokrat yang optimal melaksanakan tugasnya," terangnya.
Tantangan Rieke lainnya, sambung dia, adalah meyakinkan pemilih di Jabar yang jumlahnya empat kali lipat dari total pemilih di DKI Jakarta. Hal ini, tentu akan menjadi tantang besar tidak hanya bagi Rieke, tapi bagi partai yang mengusungnya menjadi calon.
"Tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi Rieke, karena dia harus meyakinkan basis pemilih yang jumlahnya besar. Jika Jokowi hanya memersuasi 7 jutaan pemilih, di Jabar Rieke harus menyakinkan 29 jutaan pemilih, jika menggunakan gambaran pemilu legislatif 2009," ungkapnya.
Hambatan Rieke lainnya, dia akan berhadapan langsung dengan pemilih tradisional di Jabar. Hal yang sangat berbeda dengan pemilih Jokowi di Jakarta yang lebih modern dan rasional. Namun begitu, pasangan ini dianggap mampu bersaing, tinggal bagaimana strategi partai.
"Ini kombinasi antara kader ideolog partai dan aktivis yang memiliki track-record dalam pemberantasan korupsi. Bauran antara kekuatan figur, soliditas partai, political news framing media, dan jejaring di akar rumput. Citra Rieke dan Teten saya kira masih bisa bersaing, tinggal mengelola treatment-treatment yang tepat untuk pemilih," tukasnya.
(san)