Minimalisir penyakit, PSK periksa organ vital
Selasa, 06 November 2012 - 16:14 WIB
Minimalisir penyakit, PSK periksa organ vital
A
A
A
Sindonews.com - Sedikitnya 30 Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah (Jateng) antusias mendatangi klinik mobile Inveksi Menular Seksual (IMS) Dinas Kesehatan Kota (DKK). Pelayanan kesehatan di tempat mangkal PSK itu dinilai paling tepat untuk meminimalisasi Penyakit Menular Seksual (PMS) kian meluas.
Penanggungjawab klinik mobile DKK Solo, dr Arditya Damar Kusuma menyatakan, para pasiennya itu kalangan risti tertular PMS dan HIV-Aids. Sebab, tak ada yang menjamin aktivitas mereka di lingkungan Terminal Tirtonadi bebas dari penyakit berbahaya itu. Rencananya, pemeriksaan lanjutan diagendakan setelah hari ini, supaya lebih mengontrol penderita PMS.
“Pemeriksaan tidak hanya sekali, ke depan akan kita lakukan pemeriksaan lanjutan. Penyakit menular seksual yang biasanya ditemukan adalah inveksi mulut rahim. Penyebabnya kuman, namun bisa dihindari bilamana melakukan seks dengan menggunakan pengaman atau kondom,” kata dia, Selasa (6/11/2012).
Lebih lanjut, penyakit tersebut bisa disembuhkan apabila belum akut. Namun, hal itu memerlukan kesadaran dari penderita untuk melakukan pemeriksaan secara rutin dan pengobatan secara berkelanjutan.
Ngatino, Wakil Ketua Pokja Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Solo di Kelurahan Gilingan, mengatakan kegiatan itu cukup berhasil. Sebab, semua wanita penjaja cinta di gang itu mau memeriksakan diri.
“Butuh ketekunan dan kesabaran mendampingi mereka. Pada awalnya sulit memintanya untuk memakai kondom, dan merubah perilaku berisiko tinggi terkena PMS (penyakit menular seksual) dan HIV-Aids,” kata dia.
Dia menceritakan, KPA Solo melalui Pokjanya membagikan kondom dan alat kontrasepsi gratis di lokalisasi PSK di Solo. Seiring hal itu, sosialisasi pencegahan PMS dan HIV-Aids juga digencarkan. Adapun mobile klinik merupakan kerjasama KPA, DKK, dan yayasan Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM). Bagi pemegang Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS), pemerintah memberikan layanan itu gratis.
Kepala DKK Solo, Siti Wahyuningsih merinci tingkat penularan PMS hingga 30 persen di kalangan berisiko tinggi. Di sini, masyarakat berperan aktif sebagai mediator.
“Selain di Gilingan, Pokja kami juga ada di Kestalan dan beberapa tempat seperti itu. Warga di sekitar digandeng menjadi agen pemberi sosialisasi,” kata Siti.
Penanggungjawab klinik mobile DKK Solo, dr Arditya Damar Kusuma menyatakan, para pasiennya itu kalangan risti tertular PMS dan HIV-Aids. Sebab, tak ada yang menjamin aktivitas mereka di lingkungan Terminal Tirtonadi bebas dari penyakit berbahaya itu. Rencananya, pemeriksaan lanjutan diagendakan setelah hari ini, supaya lebih mengontrol penderita PMS.
“Pemeriksaan tidak hanya sekali, ke depan akan kita lakukan pemeriksaan lanjutan. Penyakit menular seksual yang biasanya ditemukan adalah inveksi mulut rahim. Penyebabnya kuman, namun bisa dihindari bilamana melakukan seks dengan menggunakan pengaman atau kondom,” kata dia, Selasa (6/11/2012).
Lebih lanjut, penyakit tersebut bisa disembuhkan apabila belum akut. Namun, hal itu memerlukan kesadaran dari penderita untuk melakukan pemeriksaan secara rutin dan pengobatan secara berkelanjutan.
Ngatino, Wakil Ketua Pokja Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Solo di Kelurahan Gilingan, mengatakan kegiatan itu cukup berhasil. Sebab, semua wanita penjaja cinta di gang itu mau memeriksakan diri.
“Butuh ketekunan dan kesabaran mendampingi mereka. Pada awalnya sulit memintanya untuk memakai kondom, dan merubah perilaku berisiko tinggi terkena PMS (penyakit menular seksual) dan HIV-Aids,” kata dia.
Dia menceritakan, KPA Solo melalui Pokjanya membagikan kondom dan alat kontrasepsi gratis di lokalisasi PSK di Solo. Seiring hal itu, sosialisasi pencegahan PMS dan HIV-Aids juga digencarkan. Adapun mobile klinik merupakan kerjasama KPA, DKK, dan yayasan Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM). Bagi pemegang Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS), pemerintah memberikan layanan itu gratis.
Kepala DKK Solo, Siti Wahyuningsih merinci tingkat penularan PMS hingga 30 persen di kalangan berisiko tinggi. Di sini, masyarakat berperan aktif sebagai mediator.
“Selain di Gilingan, Pokja kami juga ada di Kestalan dan beberapa tempat seperti itu. Warga di sekitar digandeng menjadi agen pemberi sosialisasi,” kata Siti.
(azh)