1998, catatan Ratna Indraswari semasa reformasi
Senin, 05 November 2012 - 10:08 WIB
1998, catatan Ratna Indraswari semasa reformasi
A
A
A
Sindonews.com - Siapa yang tidak mengenal Ratna Indraswari Ibrahim, salah satu sastrawan asal Malang, yang memiliki keterbatasan fisik (difable), namun telah menghasilkan puluhan karya sastra yang menghiasi tumpukan rak buku.
Wafat pada 28 Maret 2011 lalu, karya terakhir Ratna yang belum diterbitkan berjudul "1998", sebuah novel yang mengisahkan perjuangan aktivis berpadu romantisme mahasiswa ditahun 1990-an. Karya terakhir tersebut, akhirnya diluncurkan dalam bedah novel di Dewan Kesenian Malang (DKM), Minggu 4 Nopember 2012 malam.
"Saya peruntukkan novel ini untuk rekan-rekan mahasiswa yang berjuang dalam reformasi," kata Tatik, menirukan ucapan penulis, sebelum ajal menjemputnya setahun lalu, di Malang, Minggu 4 Nopember 2012.
Novel setebal 322 halaman ini, ditulis Ratna sejak pertengahan 2010, hingga awal 2011. Pada acara launching, hadir Prof. Dr. Djoko Saryono (pakar Sastra UM), Prof. Haryono (pakar sejarah), dan Ki Djati Koesoemo (budayawan) sebagai nara sumber.
Puluhan aktivis 1998, budayawan, seniman, dan penulis muda tampak menikmati bedah novel karya terakhir Ratna.
Menurut Editornya, A. Elwiq Pr, Novel 1998 itu merupakan salah satu dokumentasi penulis yang dituangkan dalam bentuk karya sastra terhadap tragedi orang hilang atau sengaja dihilangkan pada masa 1998.
"Bisa jadi karya ini sebuah tribute dari Ratna bagi perjuangan orang-orang yang selalu menolak lupa atas tragedi yang disisakan masa 1998," katanya.
Wafat pada 28 Maret 2011 lalu, karya terakhir Ratna yang belum diterbitkan berjudul "1998", sebuah novel yang mengisahkan perjuangan aktivis berpadu romantisme mahasiswa ditahun 1990-an. Karya terakhir tersebut, akhirnya diluncurkan dalam bedah novel di Dewan Kesenian Malang (DKM), Minggu 4 Nopember 2012 malam.
"Saya peruntukkan novel ini untuk rekan-rekan mahasiswa yang berjuang dalam reformasi," kata Tatik, menirukan ucapan penulis, sebelum ajal menjemputnya setahun lalu, di Malang, Minggu 4 Nopember 2012.
Novel setebal 322 halaman ini, ditulis Ratna sejak pertengahan 2010, hingga awal 2011. Pada acara launching, hadir Prof. Dr. Djoko Saryono (pakar Sastra UM), Prof. Haryono (pakar sejarah), dan Ki Djati Koesoemo (budayawan) sebagai nara sumber.
Puluhan aktivis 1998, budayawan, seniman, dan penulis muda tampak menikmati bedah novel karya terakhir Ratna.
Menurut Editornya, A. Elwiq Pr, Novel 1998 itu merupakan salah satu dokumentasi penulis yang dituangkan dalam bentuk karya sastra terhadap tragedi orang hilang atau sengaja dihilangkan pada masa 1998.
"Bisa jadi karya ini sebuah tribute dari Ratna bagi perjuangan orang-orang yang selalu menolak lupa atas tragedi yang disisakan masa 1998," katanya.
(san)