MRT ada, bisnis di Fatmawati mati
Selasa, 23 Oktober 2012 - 20:54 WIB
MRT ada, bisnis di Fatmawati mati
A
A
A
Sindonews.com - Rencana pembangunan transportasi massal Mass Rapid Transit (MRT) bukan tanpa permasalahan. Karena, wacana itu harus dikaji secara mendetail.
Jika pembangunan MRT tidak dilakukan secara benar, maka transportasi itu yang diharapkan mampu mengurai kemacetan Jakarta, justru menjadi permasalahan baru contohnya sentra bisnis di kawasan Fatmawati yang akan dilalui MRT, dan penggunaan bawah jalan layang MRT juga harus diperhatikan.
"Contoh di kita itu, jembatan layang itu rapih, bisnisnya hidup dimana? Pasti yang ada adalah kumuh, bisnisnya mati. Apakah Fatmawati akan mengalami nasib seperti itu," jelas Ketua I Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas saat berbincang dengan Sindonews di Hotel Shantika, Jakarta, Selasa (23/10/2012).
Dirinya menambahkan, sejak 20 tahun kawasan Fatmawati merupakan sentra bisnis masyarakat setempat, artinya mereka tidak perlu pergi jauh untuk berbelanja. Karenanya, masyarakat Fatmawati dinilai ikut berpatisipasi dalam mengurai kemacetan di Ibu Kota.
"Fatmawati tampung kawasan bisnis sejak 20 tahun lalu, mereka dari selatan Jakarta tidak belanja ke Kota, artinya apa. Fatmawati itu sebetulnya sudah berperan besar mengurangi traffic (kepadatan lalu lintas) Blok M sampai kota (pusat kota)," katanya.
Dia menambahkan, kalau bisnis itu mati, orang akan pindah belanja ke kota, artinya jumlah penumpang MRT lebih kecil dengan jumlah orang yang mungkin belanja di Fatmawati setiap hari, maka nambah kemacetan. "Itu yang tidak pernah dihitung," tambahnya.
Oleh karena itu, dia mengimbau, agar Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk mengkaji ulang proyek tersebut. "Me-review, harus di review. Termasuk kenapa jalan layang itu," pungkasnya.
Sementara itu, Jokowi, mengungkapkan kalau dirinya tak ingin tergesa-gesa dalam pembangunan MRT. "Kita tidak terburu-buru, kita masih mencari informasi termasuk dari pengamat transportasi," jelasnya.
Jika pembangunan MRT tidak dilakukan secara benar, maka transportasi itu yang diharapkan mampu mengurai kemacetan Jakarta, justru menjadi permasalahan baru contohnya sentra bisnis di kawasan Fatmawati yang akan dilalui MRT, dan penggunaan bawah jalan layang MRT juga harus diperhatikan.
"Contoh di kita itu, jembatan layang itu rapih, bisnisnya hidup dimana? Pasti yang ada adalah kumuh, bisnisnya mati. Apakah Fatmawati akan mengalami nasib seperti itu," jelas Ketua I Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas saat berbincang dengan Sindonews di Hotel Shantika, Jakarta, Selasa (23/10/2012).
Dirinya menambahkan, sejak 20 tahun kawasan Fatmawati merupakan sentra bisnis masyarakat setempat, artinya mereka tidak perlu pergi jauh untuk berbelanja. Karenanya, masyarakat Fatmawati dinilai ikut berpatisipasi dalam mengurai kemacetan di Ibu Kota.
"Fatmawati tampung kawasan bisnis sejak 20 tahun lalu, mereka dari selatan Jakarta tidak belanja ke Kota, artinya apa. Fatmawati itu sebetulnya sudah berperan besar mengurangi traffic (kepadatan lalu lintas) Blok M sampai kota (pusat kota)," katanya.
Dia menambahkan, kalau bisnis itu mati, orang akan pindah belanja ke kota, artinya jumlah penumpang MRT lebih kecil dengan jumlah orang yang mungkin belanja di Fatmawati setiap hari, maka nambah kemacetan. "Itu yang tidak pernah dihitung," tambahnya.
Oleh karena itu, dia mengimbau, agar Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk mengkaji ulang proyek tersebut. "Me-review, harus di review. Termasuk kenapa jalan layang itu," pungkasnya.
Sementara itu, Jokowi, mengungkapkan kalau dirinya tak ingin tergesa-gesa dalam pembangunan MRT. "Kita tidak terburu-buru, kita masih mencari informasi termasuk dari pengamat transportasi," jelasnya.
(mhd)