Dishut Kaltim catat 177 hotspot
Selasa, 09 Oktober 2012 - 20:46 WIB
Dishut Kaltim catat 177 hotspot
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat ada 177 hotspot atau titik api sepanjang bulan ini. Jumlah itu terbilang banyak mengingat Kaltim belum mengalami musim kemarau ekstrim.
Kepala Seksi Monitoring Evaluasi Hutan dan Lahat Dishut Kaltim Firdaus Nantawardhana mengatakan, seluruh titik api tersebut tersebar di seluruh wilayah Kaltim dan kemungkinan menimbulkan kabut asap.
“Dari data satelit yang kami peroleh, sejak 1 September 2012 muncul setidaknya 177 titik api. Semuanya tidak menyebar besar. Kadang munculnya hanya sehari kemudian hilang,” ucapnya
Dia menjelaskan, jika ada titik api yang tepantau terus membesar, pihaknya akan menerjunkan petugas untuk segera memadamkan api. Namun untuk bulan ini, titik api membesar belum ada. Hal ini disebabkan musim kemarau yang belum ekstrem.
“Masih terjadi hujan di Kaltim meski tidak merata. Biasanya titik api muncul akibat pembukaan lahan yang dilakukan oleh petani,” tambahnya.
Lebih lanjut dia menuturkan, titik api terbanyak ditemukan di Kabupaten Kutai Kartanegara yang kebanyakan diakibatkan pembukaan lahan oleh petani.
Namun saat ini petani sendiri melakukan pengetatan saat proses pembakaran sehingga kebakaran yang lebih luas bisa diantisipasi.
“Mereka mengetatkan proses pembakarannya, karena mereka sudah mengerti soal ini (kebakaran hutan). Alasan mereka biasanya hanya membakar semak-semak saja,” tandasnya.
Kepala Seksi Monitoring Evaluasi Hutan dan Lahat Dishut Kaltim Firdaus Nantawardhana mengatakan, seluruh titik api tersebut tersebar di seluruh wilayah Kaltim dan kemungkinan menimbulkan kabut asap.
“Dari data satelit yang kami peroleh, sejak 1 September 2012 muncul setidaknya 177 titik api. Semuanya tidak menyebar besar. Kadang munculnya hanya sehari kemudian hilang,” ucapnya
Dia menjelaskan, jika ada titik api yang tepantau terus membesar, pihaknya akan menerjunkan petugas untuk segera memadamkan api. Namun untuk bulan ini, titik api membesar belum ada. Hal ini disebabkan musim kemarau yang belum ekstrem.
“Masih terjadi hujan di Kaltim meski tidak merata. Biasanya titik api muncul akibat pembukaan lahan yang dilakukan oleh petani,” tambahnya.
Lebih lanjut dia menuturkan, titik api terbanyak ditemukan di Kabupaten Kutai Kartanegara yang kebanyakan diakibatkan pembukaan lahan oleh petani.
Namun saat ini petani sendiri melakukan pengetatan saat proses pembakaran sehingga kebakaran yang lebih luas bisa diantisipasi.
“Mereka mengetatkan proses pembakarannya, karena mereka sudah mengerti soal ini (kebakaran hutan). Alasan mereka biasanya hanya membakar semak-semak saja,” tandasnya.
(maf)