Induk Candi Prambanan kembali dibuka
Senin, 08 Oktober 2012 - 06:23 WIB
Induk Candi Prambanan kembali dibuka
A
A
A
Sindonews.com – Candi siwa, yang merupakan candi induk Prambanan mulai dibuka kembali pada Minggu 7 Oktober 2012. Pembukaan candi untuk wisatawan tersebut dilakukan sejak enam tahun silam ditutup karena gempa.
Tri Hartono, dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, mengatakan pembukaan candi ini diberlakukan aturan menggunakan helm pengaman saat memasuki bangunan candi. Selain itu, setiap wisatawan yang masuk juga dilakukan pembatasan sebanyak lima puluh orang.
“Dua ruang bilik candi yang dapat dikunjungi adalah bilik Durga dan bilik Agastya, sedangkan untuk bilik Siwa dan Ganesha belum dapat dikunjungi karena untuk menjaga keamanan jaringan infrastruktur monitoring milik peneliti dari Jepang,” katanya, Minggu 7 Oktober 2012.
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud), Surya Helmi menjelaskan, saat terjadinya gempa pada tahun 2006 lalu di DIY dan sekitarnya, menyebabkan bangunan candi Siwa terjadi pergeseran.
Kemudian, untuk melakukan perbaikan itu pernah diupayakan akan dilakukan pembongkaran secara utuh. Namun, melihat kondisi batu candi yang telah rapuh, kemudian perbaikannya hanya dilakukan menggunakan metoda injeksi zat kimia.
“Saat gempa, kerusakannya hanya pada kulit bangunan candi yang bergeser sekitar 1 cm. Setelah dipelajari pada waktu awal, ternyata sudah pernah terjadi pembongkaran yang dilakukan Belanda pada tahun 1953, dan sudah menggunakan beton bertulang. Dari temuan itu, lalu kita lakukan perbaikan lagi menggunakan metoda injeksi,” ucapnya.
Tri Hartono, dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, mengatakan pembukaan candi ini diberlakukan aturan menggunakan helm pengaman saat memasuki bangunan candi. Selain itu, setiap wisatawan yang masuk juga dilakukan pembatasan sebanyak lima puluh orang.
“Dua ruang bilik candi yang dapat dikunjungi adalah bilik Durga dan bilik Agastya, sedangkan untuk bilik Siwa dan Ganesha belum dapat dikunjungi karena untuk menjaga keamanan jaringan infrastruktur monitoring milik peneliti dari Jepang,” katanya, Minggu 7 Oktober 2012.
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud), Surya Helmi menjelaskan, saat terjadinya gempa pada tahun 2006 lalu di DIY dan sekitarnya, menyebabkan bangunan candi Siwa terjadi pergeseran.
Kemudian, untuk melakukan perbaikan itu pernah diupayakan akan dilakukan pembongkaran secara utuh. Namun, melihat kondisi batu candi yang telah rapuh, kemudian perbaikannya hanya dilakukan menggunakan metoda injeksi zat kimia.
“Saat gempa, kerusakannya hanya pada kulit bangunan candi yang bergeser sekitar 1 cm. Setelah dipelajari pada waktu awal, ternyata sudah pernah terjadi pembongkaran yang dilakukan Belanda pada tahun 1953, dan sudah menggunakan beton bertulang. Dari temuan itu, lalu kita lakukan perbaikan lagi menggunakan metoda injeksi,” ucapnya.
(ysw)