Belum ada kandidat menonjol di Enrekang
Sabtu, 06 Oktober 2012 - 15:20 WIB
Belum ada kandidat menonjol di Enrekang
A
A
A
Sindonews.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan akan digelar 11 bulan lagi. Namun, hingga kini belum ada satu nama pun yang menonjol di mata masyarakat. Hal ini karena, semua tokoh yang akan maju adalah wajah baru yang masing-masing punya peluang.
Direktur Eksekutif Jaringan Suara Publik (JSP) Sapriadi menilai, pilkada Enrekang 2013 mendatang akan berbeda dari pilkada sebelumnya.
“Ini karena figur incumbent tidak lagi ikut bertarung, walau beberapa nama dari dinasti Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung terlihat akan ikut meramaikan pilkada Enrekang,” ungkap Sapriadi menjelaskan di Makassar, Sabtu (6/10/2012).
Nama-nama yang muncul di Enrekang hanya terdapat dua orang wajah lama yakni, Muslimin Bando dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Nurhasan yang saat ini menjabat Wakil Bupati Enrekang.
Sementara nama-nama lain yang muncul dan mendominasi adalah wajah baru seperti Chaerul Latanro (Birokrasi) Drs.Zainal, Muh Amiruddin, Marlina Mustari, A Natsir, Rahman Pina, Mustamin Amir masing-masing berlatar belakang politisi serta Masrur M Latanro, Suparman, dan Saleh Rahim yang berlatar belakang pengusaha.
“Dari semua ini telah menyatakan secara simbolik kesiapannya maju dalam pilkada Enrekang dan telah melakukan proses sosialisasi dan konsolidasi politik baik ke tingkatan gresroot sampai ke tingkatan elit,” kata Sapriadi.
Walau terdapat dua nama lama dalam bursa calon bupati Enrekang, hasil analisis JSP menyatakan belum ada yang mampu melejit. Ini tergambarkan dari popularitas kandidat yang cukup merata di semua lapisan masyarakat. “Hampir tidak ada kandidat yang dominan dari segi popularitas,” katanya.
Trend elektabilitas lanjut Sapriadi akan naik tergantung dari seberapa jauh masyarakat mengenalnya. Sementar figur yang ada meskipun pendatang baru tetapi mereka bukan orang asing di telinga masyarakat Enrekang sehingga punya kesempatan yang sama untuk mendominasi pilkada Enrekang mendatang.
Walau menurut Sapriadi, elaktabilitas dan popularitas bukan satu-satunya barometer untuk menganalisis realitas politik. Salah satu isu yang cukup pelik dalam pilkada biasanya adalah masalah primordial, khususnya masalah agama dan suku. Walau di Enrekang menurut dia, beberapa waktu lalu hangat soal isu primodial namun hal itu tidak akan berpengaruh banyak.
“Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu', yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Tetapi perbedaan ini tidak memberikan pengaruh besar terhadap elektabilitas para kandidat dan memang tidak ada ruang untuk menggiring keranah setimen suku,agama maupun isu-isu primordial lainnya,” tuturnya.
Artinya popularitas dan tingkat keterpilihan kandidat itu tidak akan terganggu oleh isu-isu yang berbau sentimen, lebih baik mengedepankan isu-isu humanis, memihak kerakyatan, dan pembangunan yang dimaksimalkan.
Hal ini menurut JSP terbukti pada kasus pilkada DKI Jakarta, yang malah meningkatkan popularitas Jokowi-Basuki dari Foke-Nara. “Di Enrekang, jika hal ini juga dimunculkan, akan berdampak balik dari suku yang diserang, karena masyarakatnya telah dewasa dalam menyikapi masalah seperti ini,” imbuhnya.
Direktur Eksekutif Jaringan Suara Publik (JSP) Sapriadi menilai, pilkada Enrekang 2013 mendatang akan berbeda dari pilkada sebelumnya.
“Ini karena figur incumbent tidak lagi ikut bertarung, walau beberapa nama dari dinasti Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung terlihat akan ikut meramaikan pilkada Enrekang,” ungkap Sapriadi menjelaskan di Makassar, Sabtu (6/10/2012).
Nama-nama yang muncul di Enrekang hanya terdapat dua orang wajah lama yakni, Muslimin Bando dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Nurhasan yang saat ini menjabat Wakil Bupati Enrekang.
Sementara nama-nama lain yang muncul dan mendominasi adalah wajah baru seperti Chaerul Latanro (Birokrasi) Drs.Zainal, Muh Amiruddin, Marlina Mustari, A Natsir, Rahman Pina, Mustamin Amir masing-masing berlatar belakang politisi serta Masrur M Latanro, Suparman, dan Saleh Rahim yang berlatar belakang pengusaha.
“Dari semua ini telah menyatakan secara simbolik kesiapannya maju dalam pilkada Enrekang dan telah melakukan proses sosialisasi dan konsolidasi politik baik ke tingkatan gresroot sampai ke tingkatan elit,” kata Sapriadi.
Walau terdapat dua nama lama dalam bursa calon bupati Enrekang, hasil analisis JSP menyatakan belum ada yang mampu melejit. Ini tergambarkan dari popularitas kandidat yang cukup merata di semua lapisan masyarakat. “Hampir tidak ada kandidat yang dominan dari segi popularitas,” katanya.
Trend elektabilitas lanjut Sapriadi akan naik tergantung dari seberapa jauh masyarakat mengenalnya. Sementar figur yang ada meskipun pendatang baru tetapi mereka bukan orang asing di telinga masyarakat Enrekang sehingga punya kesempatan yang sama untuk mendominasi pilkada Enrekang mendatang.
Walau menurut Sapriadi, elaktabilitas dan popularitas bukan satu-satunya barometer untuk menganalisis realitas politik. Salah satu isu yang cukup pelik dalam pilkada biasanya adalah masalah primordial, khususnya masalah agama dan suku. Walau di Enrekang menurut dia, beberapa waktu lalu hangat soal isu primodial namun hal itu tidak akan berpengaruh banyak.
“Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu', yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Tetapi perbedaan ini tidak memberikan pengaruh besar terhadap elektabilitas para kandidat dan memang tidak ada ruang untuk menggiring keranah setimen suku,agama maupun isu-isu primordial lainnya,” tuturnya.
Artinya popularitas dan tingkat keterpilihan kandidat itu tidak akan terganggu oleh isu-isu yang berbau sentimen, lebih baik mengedepankan isu-isu humanis, memihak kerakyatan, dan pembangunan yang dimaksimalkan.
Hal ini menurut JSP terbukti pada kasus pilkada DKI Jakarta, yang malah meningkatkan popularitas Jokowi-Basuki dari Foke-Nara. “Di Enrekang, jika hal ini juga dimunculkan, akan berdampak balik dari suku yang diserang, karena masyarakatnya telah dewasa dalam menyikapi masalah seperti ini,” imbuhnya.
(azh)