Dirazia, pelajar kocar-kacir
Rabu, 03 Oktober 2012 - 18:38 WIB
Dirazia, pelajar kocar-kacir
A
A
A
Sindonews.com - Untuk menekan tawuran pelajar, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tulungagung melakukan razia terhadap pelajar yang bolos.
Sejumlah pelajar yang bolos langsung ngacir begitu melihat petugas. Namun petugas berhasil menangkap lima pelajar dan diserahkan ke sekolahnya masing-masing.
Namun, sejumlah pelajar berhasil lolos dari sergapan petugas Satpol PP. Mereka berhamburan menyelinapi gang-gang sempit rumah warga Desa Balerejo, Kecamatan Kauman.
Begitu juga yang nekat dengan melompati pagar rumah, berhasil lepas dari kepungan petugas.
Itulah pemandangan razia pelajar yang digelar petugas Satpol PP Tulungagung di sejumlah warung kopi (warkop) pada hari ini, Rabu (3/10/2012).
Razia ini dalam rangka mengantisipasi terjadinya kasus tawuran antar pelajar dilakukan pada saat jam aktif kegiatan belajar mengajar.
“Karena sifatnya masih shock therapy, kita sengaja tidak melakukan pengejaran,“ ujar Kepala Bidang Trantib Satpol PP Tulungagung Dwi Harry Subagyo kepada wartawan.
Lima orang pelajar dengan dua di antaranya pelajar putri memilih menyerah. Kedatangan petugas yang mendadak tidak memberi ruang lagi untuk meloloskan diri.
Kendati demikian, dengan muka merah dan kepala tertunduk rendah karena malu, para pelajar ini tetap melontarkan protes.
Mereka sempat menyampaikan penolakan saat hendak dibawa ke Kantor Satpol PP. “Enggak usahlah ke kantor,“ tukas salah seorang pelajar putri dengan nada merajuk.
Meski berat hati, Dodik Mahendro (16) pelajar SMK PGRI 2 Tulungagung, M Fauzi (16) dan M Risky Faza (16) keduanya pelajar SMA PGRI 1 Kalangbret, Vitri Astuti (16) SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung, dan Fransiska (16) SMA PGRI Tulungagung, akhirnya tetap bersedia diangkut kendaraan dinas Satpol PP.
“Setelah kita identifikasi, termasuk meminta alasan kenapa membolos pada saat jam pelajaran, para pelajar ini kita kembalikan ke sekolah masing-masing. Selanjutnya sekolah yang memutuskan,“ terang Dwi.
Sejumlah pelajar yang bolos langsung ngacir begitu melihat petugas. Namun petugas berhasil menangkap lima pelajar dan diserahkan ke sekolahnya masing-masing.
Namun, sejumlah pelajar berhasil lolos dari sergapan petugas Satpol PP. Mereka berhamburan menyelinapi gang-gang sempit rumah warga Desa Balerejo, Kecamatan Kauman.
Begitu juga yang nekat dengan melompati pagar rumah, berhasil lepas dari kepungan petugas.
Itulah pemandangan razia pelajar yang digelar petugas Satpol PP Tulungagung di sejumlah warung kopi (warkop) pada hari ini, Rabu (3/10/2012).
Razia ini dalam rangka mengantisipasi terjadinya kasus tawuran antar pelajar dilakukan pada saat jam aktif kegiatan belajar mengajar.
“Karena sifatnya masih shock therapy, kita sengaja tidak melakukan pengejaran,“ ujar Kepala Bidang Trantib Satpol PP Tulungagung Dwi Harry Subagyo kepada wartawan.
Lima orang pelajar dengan dua di antaranya pelajar putri memilih menyerah. Kedatangan petugas yang mendadak tidak memberi ruang lagi untuk meloloskan diri.
Kendati demikian, dengan muka merah dan kepala tertunduk rendah karena malu, para pelajar ini tetap melontarkan protes.
Mereka sempat menyampaikan penolakan saat hendak dibawa ke Kantor Satpol PP. “Enggak usahlah ke kantor,“ tukas salah seorang pelajar putri dengan nada merajuk.
Meski berat hati, Dodik Mahendro (16) pelajar SMK PGRI 2 Tulungagung, M Fauzi (16) dan M Risky Faza (16) keduanya pelajar SMA PGRI 1 Kalangbret, Vitri Astuti (16) SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung, dan Fransiska (16) SMA PGRI Tulungagung, akhirnya tetap bersedia diangkut kendaraan dinas Satpol PP.
“Setelah kita identifikasi, termasuk meminta alasan kenapa membolos pada saat jam pelajaran, para pelajar ini kita kembalikan ke sekolah masing-masing. Selanjutnya sekolah yang memutuskan,“ terang Dwi.
(ysw)