Rusak fasilitas, pembangunan drainase dikeluhkan warga
Rabu, 26 September 2012 - 19:35 WIB
Rusak fasilitas, pembangunan drainase dikeluhkan warga
A
A
A
Sindonews.com - Proyek pembangunan saluran drainase yang melintasi Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan problema baru bagi warga. Pasalnya Drainase yang dibangun dengan anggaran lebih dari Rp3,7 Milyar itu justru berdampak rusaknya jalan dan lingkungan.
Dari pantauan di lapangan, di Jalan Pandan, Kelurahan Kambaniru misalnya, tumpukan material galian berupa tanah sempat memenuhi badan jalan hingga mengganggu kenyamanan para pengguna jalan. Tak hanya itu, semen, batu gunung dan pasir juga ditumpukan di badan jalan.
“Sejak kerja awal sudah seperti ini,tanah, pasir, batu dan semen ditumpukan di badan jalan. Setelah masyarakat blokir jalan bagi keluar masuk kendaraan proyek barulah kontraktor menggusur material. Namun tetap saja jalan tidak sebagus awalnya. Jadi berdebu dan membahayakan kesehatan warga terutama bagi anak-anak,” jelas Napetina (34), salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui Rabu (26/9/2012).
Drainase yang dibangun itu juga membongkar decker (jembatan kecil) di beberapa titik. Pembongkaran itu juga diwarnai masalah patahnya pipa induk saluran pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hingga sempat membuat macetnya distribusi air ke warga Kelurahan Kambaniru.
“Pipa sempat patah, namun karena warga spontan langsung mengingatkan kontraktor yang kebetulan saat itu berada di lokasi ketika pembongkaran, maka malamnya langsung dibenahi. Kalau tidak warga bisa lakukan protes dan kembali blokir jalan,” tukas Bless ( 34), seorang pemuda yang ditemui terpisah.
Dari pantauan di lapangan, di Jalan Pandan, Kelurahan Kambaniru misalnya, tumpukan material galian berupa tanah sempat memenuhi badan jalan hingga mengganggu kenyamanan para pengguna jalan. Tak hanya itu, semen, batu gunung dan pasir juga ditumpukan di badan jalan.
“Sejak kerja awal sudah seperti ini,tanah, pasir, batu dan semen ditumpukan di badan jalan. Setelah masyarakat blokir jalan bagi keluar masuk kendaraan proyek barulah kontraktor menggusur material. Namun tetap saja jalan tidak sebagus awalnya. Jadi berdebu dan membahayakan kesehatan warga terutama bagi anak-anak,” jelas Napetina (34), salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui Rabu (26/9/2012).
Drainase yang dibangun itu juga membongkar decker (jembatan kecil) di beberapa titik. Pembongkaran itu juga diwarnai masalah patahnya pipa induk saluran pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hingga sempat membuat macetnya distribusi air ke warga Kelurahan Kambaniru.
“Pipa sempat patah, namun karena warga spontan langsung mengingatkan kontraktor yang kebetulan saat itu berada di lokasi ketika pembongkaran, maka malamnya langsung dibenahi. Kalau tidak warga bisa lakukan protes dan kembali blokir jalan,” tukas Bless ( 34), seorang pemuda yang ditemui terpisah.
(azh)