Sekolah diusulkan lakukan psikotest
Rabu, 26 September 2012 - 08:49 WIB
Sekolah diusulkan lakukan psikotest
A
A
A
Sindonews.com - Pelaku pembunuhan terhadap siswa SMA 6 Jakarta Alawy Yusianto Putra (15), diduga mengalami gangguan jiwa karena memiliki keberanian yang tinggi untuk melakukan pembunuhan yang sadis di tempat umum.
Salah seorang alumni SMA 70 Jakarta Muhammad Ikhsan mengatakan, FR yang saat ini tengah diperiksa pihak kepolisian adalah seorang psikopat. Pasalnya, pelaku memiliki keberanian yang tinggi dan rasa tega membunuh secara sadis di tempat umum.
"Psikopat dia kayanya. Jiwanya sakit, masalahnya yang kena itu langsung jantung, sadis banget," ujar Ikhsan kepada wartawan di Jakarta, Selasa 25 September 2012 malam.
Dia mengungkapkan, masing-masing sekolah harus melakukan psikotest saat melakukan penerimaan siswa baru. Hal itu, untuk menghindari adanya siswa yang memiliki kepribadian seperti FR di lingkungan sekolah.
"Perlu juga masukan sekolah-sekolah yang sering tawuran siswanya di psikotest, psikopat apa enggak. Kadang-kadang ada saja kan satu atau dua orang di sekolah yang seperti gitu. Bandel iya, tapi bukan pembunuh," paparnya.
Dia juga sepakat terhadap usulan untuk menempatkan seorang polisi di setiap sekolah. "Lebih bagus gitu, dulu juga digituin ditaruh petugas di Pos Kodim. Tawuran mulai redup, tapi sekarang sempet hilang," ujarnya.
Meski demikian, dia tidak sepakat atas usulan pemindahan salah satu sekolah ke wilayah lain. Pasalnya, hal tersebut tidak menjamin penyelesaian kasus maraknya tawuran itu sendiri.
"Dulu zaman saya sekolah guru itu keras melarang anak tawuran, tapi sekarang enggak tahu deh kenapa jadi begini anak-anaknya berani," tandasnya.
Salah seorang alumni SMA 70 Jakarta Muhammad Ikhsan mengatakan, FR yang saat ini tengah diperiksa pihak kepolisian adalah seorang psikopat. Pasalnya, pelaku memiliki keberanian yang tinggi dan rasa tega membunuh secara sadis di tempat umum.
"Psikopat dia kayanya. Jiwanya sakit, masalahnya yang kena itu langsung jantung, sadis banget," ujar Ikhsan kepada wartawan di Jakarta, Selasa 25 September 2012 malam.
Dia mengungkapkan, masing-masing sekolah harus melakukan psikotest saat melakukan penerimaan siswa baru. Hal itu, untuk menghindari adanya siswa yang memiliki kepribadian seperti FR di lingkungan sekolah.
"Perlu juga masukan sekolah-sekolah yang sering tawuran siswanya di psikotest, psikopat apa enggak. Kadang-kadang ada saja kan satu atau dua orang di sekolah yang seperti gitu. Bandel iya, tapi bukan pembunuh," paparnya.
Dia juga sepakat terhadap usulan untuk menempatkan seorang polisi di setiap sekolah. "Lebih bagus gitu, dulu juga digituin ditaruh petugas di Pos Kodim. Tawuran mulai redup, tapi sekarang sempet hilang," ujarnya.
Meski demikian, dia tidak sepakat atas usulan pemindahan salah satu sekolah ke wilayah lain. Pasalnya, hal tersebut tidak menjamin penyelesaian kasus maraknya tawuran itu sendiri.
"Dulu zaman saya sekolah guru itu keras melarang anak tawuran, tapi sekarang enggak tahu deh kenapa jadi begini anak-anaknya berani," tandasnya.
(lil)