SMA N 70 & 6 dari dulu ribut, tapi tidak kriminal
Rabu, 26 September 2012 - 08:45 WIB
SMA N 70 & 6 dari dulu ribut, tapi tidak kriminal
A
A
A
Sindonews.com - Tawuran antara pelajar dari SMA N 70 dan SMA N 6 Bulungan terus saja terjadi. Bahkan tak jarang menelan korban jiwa. Tawuran kedua sekolah ini memang sejak dulu sudah terjadi.
Tapi model tawuran kala itu masih umum, seperti perkelahian pelajar umumnya. Tidak berlebihan seperti sekarang ini.
"Dulu tawuran biasa pukul-pukulan, sudah selesai. Anak SMA kan suka nakal biasa. Enggak seperti sekarang kriminal, bunuh-bunuhan," ujar alumni SMA N 70 Jakarta Muhamad Ikhsan kepada wartawan, Rabu (26/9/2012).
Menurut Ikhsan, ketika dirinya masih menjadi siswa di sekolah itu, aksi tawuran dengan SMA 6 masih bisa dihitung jari.
"Beda zaman sih ya antara dulu sama sekarang. Kalau dulu setahun dua kali. Sudah gitu selesai masih bisa nongkrong bareng," tuturnya.
Ikhsan mengibaratkan aksi tawuran antara SMA 70 dan SMA 6 Jakarta ketika itu seperti hubungan kakak adik.
"Kaya abang dan ade lah, suka ribut tapi enggak saling melukai. Berantem tapi rindu," kata Ikhsan.
Ikhsan mencontohkan usai melakukan aksi tawuran, bahkan temanya yang terlibat tawuran masih bisa menjemput pacar di SMA 6 dan tak sedikitpun mengalami pengeroyokan oleh siswa SMA 6.
Pernah suatu ketika, lanjut Ikhsan, siswa SMA 70 dan SMA 6 sedang terlibat tawuran, namun beberapa siswa SMA 6 justru tengah bermain dan makan-makan di kantin SMA 70. Mereka tak mendapat penyerangan apapun.
Kata Ikhsan, mayoritas siswa SMA 70 dan SMA 6 berasal dari sekolah yang sama saat SMP-nya. Selain itu, rumah mereka pun saling berdekatan, sehingga kekerabatan masih kuat, sehingga untuk melakukan aksi tawuran mereka berpikir ulang.
Tapi model tawuran kala itu masih umum, seperti perkelahian pelajar umumnya. Tidak berlebihan seperti sekarang ini.
"Dulu tawuran biasa pukul-pukulan, sudah selesai. Anak SMA kan suka nakal biasa. Enggak seperti sekarang kriminal, bunuh-bunuhan," ujar alumni SMA N 70 Jakarta Muhamad Ikhsan kepada wartawan, Rabu (26/9/2012).
Menurut Ikhsan, ketika dirinya masih menjadi siswa di sekolah itu, aksi tawuran dengan SMA 6 masih bisa dihitung jari.
"Beda zaman sih ya antara dulu sama sekarang. Kalau dulu setahun dua kali. Sudah gitu selesai masih bisa nongkrong bareng," tuturnya.
Ikhsan mengibaratkan aksi tawuran antara SMA 70 dan SMA 6 Jakarta ketika itu seperti hubungan kakak adik.
"Kaya abang dan ade lah, suka ribut tapi enggak saling melukai. Berantem tapi rindu," kata Ikhsan.
Ikhsan mencontohkan usai melakukan aksi tawuran, bahkan temanya yang terlibat tawuran masih bisa menjemput pacar di SMA 6 dan tak sedikitpun mengalami pengeroyokan oleh siswa SMA 6.
Pernah suatu ketika, lanjut Ikhsan, siswa SMA 70 dan SMA 6 sedang terlibat tawuran, namun beberapa siswa SMA 6 justru tengah bermain dan makan-makan di kantin SMA 70. Mereka tak mendapat penyerangan apapun.
Kata Ikhsan, mayoritas siswa SMA 70 dan SMA 6 berasal dari sekolah yang sama saat SMP-nya. Selain itu, rumah mereka pun saling berdekatan, sehingga kekerabatan masih kuat, sehingga untuk melakukan aksi tawuran mereka berpikir ulang.
(lns)