Sekjen PAN: Politik aliran mulai ditinggalkan
Sabtu, 22 September 2012 - 17:20 WIB
Sekjen PAN: Politik aliran mulai ditinggalkan
A
A
A
Sindonews.com - Fenomena Joko Widodo (Jokowi) yang mengejutkan dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, karena bisa mengalahkan calon incumbent Fauzi Bowo (Foke) harus jadi cermin bagi partai politik (Parpol) dalam menentukan calon.
Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan mengatakan, fakta dan dinamika politik di DKI benar-benar menggambarkan, jika masyarakat sudah tidak begitu menjadikan polititk aliran sebagai preferensi. Melainkan melihat figur yang dinilai tepat dengan kebutuhan mereka dalam menghadapi berbagai persoalan di Ibu Kota.
"Karena memang dalam demokrasi yang sudah mulai maju, kandidat yang bisa manfaatkan swing voter, bisa diterima, maka bisa menguat. Nah kalau soal kemanangannya meski lawannya didukung banyak partai, sekarang ini masyarakatnya memang sudah tidak larut dalam politik aliran, tetapi lebih pada figur. Kalau dulu kan lebih ke aliran karena yang dilihat adalah partai, nasionalis, atau agamis, tetapi sekarang kekuatannya di figur yang bisa menarik," kata Taufik di Jakarta, Sabtu (22/9/2012).
Pilgub DKI ini, kata dia, tentunya menjadi sangat menarik karena di Ibu Kota. Apalagi, kata dia, prosesnya juga sangat demokratis, karena bisa menjadi cermin dari buah reformasi dimana aspek-aspek demokrasi bisa dijalankan.
"Semuanya sudah ikut berpartisipasi. Kita bisa melihat bagaimana lembaga survei sudah memprediksi tetapi di last minute berbeda dari prediksi. Itu artinya masyarakat benar-benar menjadikan pilkada ini sebagai wadah untuk berdemokrasi dimana mereka punya kebebasan untuk memilih siapa yang diinginkan," jelasnya.
Dalam konteks Pilgub DKI, lanjut dia, saat ini figur Jokowi dinilai tepat dengan kebutuhan masyarakat. Tetapi, itu menurut dia tidak menggambarkan secara umum ini sebagai kegagalan partai.
"Karena di Singkawang PAN menang. PAN dengan Golkar menang di Cilacap. Jadi tidak bisa digeneralisir itu persepsikan kekuatan politik 2014. Tidak bisa juga dikatakan ini kegagalan partai besar," ujarnya.
Tetapi, apapun belajar dari DKI, memang sejauh ini kekuatan figur memang tidak boleh diremehkan. Itulah yang oleh PAN terus didorong dalam pilkada dan pileg dimana faktor figur akan sangat menjadi pertimbangan. Karena sekarang ini pilihan dari masyarakat sangat menentukan, maka tinggal partai dalam menentukan figur harus mendengar suara masyarakat.
"Apapun partai tetap elemen penting sebagai pilar demokrasi. Tinggal perbaikannya bagaimana artikulasi yang dikemas parpol itu adalah suara dari masyarakat," tandasnya.
Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan mengatakan, fakta dan dinamika politik di DKI benar-benar menggambarkan, jika masyarakat sudah tidak begitu menjadikan polititk aliran sebagai preferensi. Melainkan melihat figur yang dinilai tepat dengan kebutuhan mereka dalam menghadapi berbagai persoalan di Ibu Kota.
"Karena memang dalam demokrasi yang sudah mulai maju, kandidat yang bisa manfaatkan swing voter, bisa diterima, maka bisa menguat. Nah kalau soal kemanangannya meski lawannya didukung banyak partai, sekarang ini masyarakatnya memang sudah tidak larut dalam politik aliran, tetapi lebih pada figur. Kalau dulu kan lebih ke aliran karena yang dilihat adalah partai, nasionalis, atau agamis, tetapi sekarang kekuatannya di figur yang bisa menarik," kata Taufik di Jakarta, Sabtu (22/9/2012).
Pilgub DKI ini, kata dia, tentunya menjadi sangat menarik karena di Ibu Kota. Apalagi, kata dia, prosesnya juga sangat demokratis, karena bisa menjadi cermin dari buah reformasi dimana aspek-aspek demokrasi bisa dijalankan.
"Semuanya sudah ikut berpartisipasi. Kita bisa melihat bagaimana lembaga survei sudah memprediksi tetapi di last minute berbeda dari prediksi. Itu artinya masyarakat benar-benar menjadikan pilkada ini sebagai wadah untuk berdemokrasi dimana mereka punya kebebasan untuk memilih siapa yang diinginkan," jelasnya.
Dalam konteks Pilgub DKI, lanjut dia, saat ini figur Jokowi dinilai tepat dengan kebutuhan masyarakat. Tetapi, itu menurut dia tidak menggambarkan secara umum ini sebagai kegagalan partai.
"Karena di Singkawang PAN menang. PAN dengan Golkar menang di Cilacap. Jadi tidak bisa digeneralisir itu persepsikan kekuatan politik 2014. Tidak bisa juga dikatakan ini kegagalan partai besar," ujarnya.
Tetapi, apapun belajar dari DKI, memang sejauh ini kekuatan figur memang tidak boleh diremehkan. Itulah yang oleh PAN terus didorong dalam pilkada dan pileg dimana faktor figur akan sangat menjadi pertimbangan. Karena sekarang ini pilihan dari masyarakat sangat menentukan, maka tinggal partai dalam menentukan figur harus mendengar suara masyarakat.
"Apapun partai tetap elemen penting sebagai pilar demokrasi. Tinggal perbaikannya bagaimana artikulasi yang dikemas parpol itu adalah suara dari masyarakat," tandasnya.
(mhd)