Mesin politik mandek di Pilgub DKI
Senin, 17 September 2012 - 17:47 WIB
Mesin politik mandek di Pilgub DKI
A
A
A
Sindonews.com - Mesin Politik semakin terpuruk dan tidak memiliki pengaruh pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta tahun ini.
Selain karena masyarakat Jakarta yang mulai kritis dalam memilih pasangan calon, naiknya tren "figur" juga ikut mengambil bagian didalamnya.
"Dari (survei) tanggal 11 Juli-14 September, mesin politik tidak terlalu berpengaruh. Yang berpengaruh sangat penting adalah figur," kata Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Husin Yazid di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2012).
Sebagai salah satu contoh ketidakpengaruhan mesin partai adalah pasangan Alex-Nono yang diusung oleh Partai Golkar. Meskipun memiliki nama besar, Golkar tidak mampu membuat pasangan yang diusungnya lolos ke putaran kedua Pilgub.
Sebelumnya diketahui berdasarkan hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta, pasangan Alex-Nono hanya berada di urutan kelima dari total enam pasangan yang ada. Alex-Nono hanya mendapatkan 202.643 suara atau sebesar 4,67 persen.
Sedangkan, di urutan pertama diraih Joko Widodo-Basuki Tjahjana dengan perolehan suara sebesar 1.847.157 atau 42,60 persen. Di urutan kedua ada pasangan Foke-Nara dengan jumlah suara 1.476.648 atau sebesar 34,05 persen.
Di posisi ketiga ada pasangan Hidayat-Didik dengan perolehan suara 508.113 atau sebesar 11,72 persen.
Lalu, di posisi ke empat ada pasangan Faisal-Biem dengan perolehan suara 215.935 atau sebesar 4,98 persen. Yang terakhir, di urutan paling bontot ada pasangan Hendardji-Riza dengan perolehan suara 85.990 atau sebesar 1,98 persen.
Selain karena masyarakat Jakarta yang mulai kritis dalam memilih pasangan calon, naiknya tren "figur" juga ikut mengambil bagian didalamnya.
"Dari (survei) tanggal 11 Juli-14 September, mesin politik tidak terlalu berpengaruh. Yang berpengaruh sangat penting adalah figur," kata Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Husin Yazid di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2012).
Sebagai salah satu contoh ketidakpengaruhan mesin partai adalah pasangan Alex-Nono yang diusung oleh Partai Golkar. Meskipun memiliki nama besar, Golkar tidak mampu membuat pasangan yang diusungnya lolos ke putaran kedua Pilgub.
Sebelumnya diketahui berdasarkan hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta, pasangan Alex-Nono hanya berada di urutan kelima dari total enam pasangan yang ada. Alex-Nono hanya mendapatkan 202.643 suara atau sebesar 4,67 persen.
Sedangkan, di urutan pertama diraih Joko Widodo-Basuki Tjahjana dengan perolehan suara sebesar 1.847.157 atau 42,60 persen. Di urutan kedua ada pasangan Foke-Nara dengan jumlah suara 1.476.648 atau sebesar 34,05 persen.
Di posisi ketiga ada pasangan Hidayat-Didik dengan perolehan suara 508.113 atau sebesar 11,72 persen.
Lalu, di posisi ke empat ada pasangan Faisal-Biem dengan perolehan suara 215.935 atau sebesar 4,98 persen. Yang terakhir, di urutan paling bontot ada pasangan Hendardji-Riza dengan perolehan suara 85.990 atau sebesar 1,98 persen.
(ysw)