Kerap tenggak miras, 30% remaja gagal ginjal
Jum'at, 14 September 2012 - 23:36 WIB
Kerap tenggak miras, 30% remaja gagal ginjal
A
A
A
Sindonews.com - Banyaknya Anak Baru Gede (ABG) yang terkena razia trafficking membuat keprihatinan tersendiri bagi Pemkot Surabaya. Parahnya, ketika ditangkap semua ABG itu dalam kondisi mabuk. Tercatat selama seblun ini ada 260 lebih ABG yang terkena razia trafficking di rekreasi hiburan umum (RHU) maupun di tempat publik. Ironisnya, semua ABG yang tertangkap sedang dalam pengaruh alkohol. Padahal usia mereka masih di bawah 17 tahun.
Banyaknya ABG yang mengkonsumsi alkohol menjadikan angka kematian di usia muda semakin marak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya sendiri mencatat ada 30 persen pasien gagal ginjal yang meninggal dunia saat usianya masih di bawah 17 tahun.
Kepala Dinkes Kota Surabaya Esty Martiana Rachmie menuturkan, kematian ABG yang meninggal karena gagal ginjal tak lepas dari rangkaian penyakit yang menyertai. Mereka mengalami gagal ginjal karena menderita hipertensi, diabetes militus (DM) serta penyakit metabolisme lainnya.
"Itu semua disebabkan karena konsumsi alkohol. Apalagi minuman keras (miras) yang dikonsumsi ABG itu jenis oplosan," ujar Esty, Jumat (14/9/2012).
Ia melanjutkan, miras oplosan yang dikonsumsi ABG memiliki kecenderungan untuk terjangkitnya penyakit metabolisme. Sebab, minuman yang dioplos memiliki kadar berbahaya bagi ketahanan tubuh.
"Jadi tak heran kalau anak yang usianya di bawah 17 tahun sudah terkena gagal ginjal," jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, dari rangkaian razia yang dilakukan pemkot memang menemukan banyak ABG mabuk. Hampir semua ABG yang terjaring dalam pengaruh minuman keras.
"Ini yang membuat keprihatinan kami. Mereka masih muda dan punya kebiasaan untuk minum miras," tegasnya.
Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) itu melanjutkan, kalau sejak dini mereka sudah terbiasa dengan prilaku mabuk-mabukan, masa depan anak tersebut bisa suram.
"Masih banyak kesempatan yang bisa dilakukan untuk menjalankan kegiatan yang positif. Kalau terus mabuk-mabukan kasihan orang tuanya nanti," jelasnya.
Pemkot sendiri, lanjutnya, menyiapkan beberapa psikolog untuk membantu para ABG yang memiliki kebiasaan mabuk. Pihaknya menyadari kalau kebiasaan itu tak bisa langsung dihilangkan.
"Makanya butuh pendampingan yang serius bagi anak-anak yang masih berusia belia," pungkasnya.
Banyaknya ABG yang mengkonsumsi alkohol menjadikan angka kematian di usia muda semakin marak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya sendiri mencatat ada 30 persen pasien gagal ginjal yang meninggal dunia saat usianya masih di bawah 17 tahun.
Kepala Dinkes Kota Surabaya Esty Martiana Rachmie menuturkan, kematian ABG yang meninggal karena gagal ginjal tak lepas dari rangkaian penyakit yang menyertai. Mereka mengalami gagal ginjal karena menderita hipertensi, diabetes militus (DM) serta penyakit metabolisme lainnya.
"Itu semua disebabkan karena konsumsi alkohol. Apalagi minuman keras (miras) yang dikonsumsi ABG itu jenis oplosan," ujar Esty, Jumat (14/9/2012).
Ia melanjutkan, miras oplosan yang dikonsumsi ABG memiliki kecenderungan untuk terjangkitnya penyakit metabolisme. Sebab, minuman yang dioplos memiliki kadar berbahaya bagi ketahanan tubuh.
"Jadi tak heran kalau anak yang usianya di bawah 17 tahun sudah terkena gagal ginjal," jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, dari rangkaian razia yang dilakukan pemkot memang menemukan banyak ABG mabuk. Hampir semua ABG yang terjaring dalam pengaruh minuman keras.
"Ini yang membuat keprihatinan kami. Mereka masih muda dan punya kebiasaan untuk minum miras," tegasnya.
Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) itu melanjutkan, kalau sejak dini mereka sudah terbiasa dengan prilaku mabuk-mabukan, masa depan anak tersebut bisa suram.
"Masih banyak kesempatan yang bisa dilakukan untuk menjalankan kegiatan yang positif. Kalau terus mabuk-mabukan kasihan orang tuanya nanti," jelasnya.
Pemkot sendiri, lanjutnya, menyiapkan beberapa psikolog untuk membantu para ABG yang memiliki kebiasaan mabuk. Pihaknya menyadari kalau kebiasaan itu tak bisa langsung dihilangkan.
"Makanya butuh pendampingan yang serius bagi anak-anak yang masih berusia belia," pungkasnya.
(azh)