Sawah seluas 1.700 hektare di Bojonegoro puso

Selasa, 11 September 2012 - 23:11 WIB
Sawah seluas 1.700 hektare...
Sawah seluas 1.700 hektare di Bojonegoro puso
A A A
Sindonews.com - Sawah seluas 1.700 hektare di wilayah Bojonegoro yang ditanami padi pada musim kemarau ini mengalami puso. Petani mengalami kerugian karena telah mengeluarkan biaya tanam.

Sebagian petani di Bojonegoro nekat menanam padi pada musim kemarau ini. Namun, padi yang berumur sekitar sebulan itu akhirnya layu dan mengering lantaran kekurangan air. Sawah yang ditanami padi dan mengalami puso tersebar di 17 kecamatan di Bojonegoro.

Kepala Bidang Produksi dan Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pemkab Bojonegoro, Agus Heryana, mengatakan, sawah yang mengalami puso itu sebagian besar berada di wilayah timur dan selatan Bojonegoro.

Sebetulnya, kata dia, petani saat musim kemarau ini telah diimbau agar menanam palawija seperti jagung, ketela, kedelai atau tembakau. Namun, kata dia, sebagian petani ada yang tetap nekat menanam padi padahal persediaan airnya terbatas.

Dari pantauan, daerah persawahan di Kecamatan Ngasem, Gayam, dan Tambakrejo kini ditanami jagung dan tembakau. Sedangkan, areal persawahan di dekat Sungai Bengawan Solo yakni meliputi Kecamatan Ngraho, Padangan, Malo, Trucuk, dan Kalitidu ditanami padi. Persawahan di tepi sungai itu dapat suplai air dari Bengawan Solo.

Selama ini untuk mencukupi pengairan persawahan di wilayah timur dan selatan Bojonegoro mengandalkan cadangan air Waduk Pacal. Namun, debit Waduk Pacal kini juga menipis tinggal 500 ribu meter kubik. Begitu pula 87 embung yang ada di Bojonegoro juga mengering selama musim kemarau ini.

Areal persawahan di Bojonegoro yang mengandalkan irigasi teknis seluas 60 ribu hektare. Sedangkan, persawahan tadah hujan seluas 20 ribu hektare. Sementara, areal persawahan di dekat Sungai Bengawan Solo yang kini ditanami padi seluas 13 ribu hektare.

Menurut Tatik (45), petani di Desa Katur, Kecamatan Kalitidu, saat musim kemarau ini ia mengandalkan pengairan dari Sungai Bengawan Solo untuk mencukupi kebutuhan air di sawahnya. “Saya tetap tanam padi, tetapi mengambil air dari Sungai Bengawan Solo,” ujarnya.

Saat ini, sebagian petani juga menanam tembakau. Namun, saat masa petik pertama harga daun tembakau juga jeblok yakni hanya Rp1.000 per kilogram. Padahal, saat musim panen sebelumnya harga daun tembakau bisa mencapai Rp3.500 per kilogram.
(azh)
Berita Terkait
Awal Musim Kemarau 2024...
Awal Musim Kemarau 2024 Diprediksi Mundur, Ini Rincian Daerahnya
Puncak Kemarau di Maros...
Puncak Kemarau di Maros Diprediksi Pada Bulan Agustus
56% Wilayah Indonesia...
56% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Sejak Awal Juli 2023
37,7% Wilayah Indonesia...
37,7% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Dampak Kekeringan
BMKG Laporkan 21 Daerah...
BMKG Laporkan 21 Daerah di Indonesia Tidak Hujan Selama 2 Bulan Lebih
BMKG Laporkan 63% Wilayah...
BMKG Laporkan 63% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau hingga Akhir Juli 2023
Berita Terkini
Kemenhut Bongkar Jalur...
Kemenhut Bongkar Jalur Distribusi Tambang Ilegal di NTB, 8 Orang Ditangkap
10 menit yang lalu
Perkuat Layanan Kesehatan,...
Perkuat Layanan Kesehatan, Pemkot Tangsel Tingkatkan Kapasitas 1.389 Kader Posyandu
1 jam yang lalu
7 Pengeroyok Prajurit...
7 Pengeroyok Prajurit TNI Kodam Cenderawasih hingga Tewas Ditetapkan sebagai Tersangka
4 jam yang lalu
Peradi Profesional-Unisba...
Peradi Profesional-Unisba Perkuat Pendidikan Hukum dan Pengembangan Profesi Advokat
4 jam yang lalu
Perkuat Ekonomi Maluku...
Perkuat Ekonomi Maluku Utara, APHI Dorong Penerapan Multiusaha Kehutanan
4 jam yang lalu
Apresiasi Polda Sumut...
Apresiasi Polda Sumut Ungkap Ribuan Kasus Narkoba, Sahroni: Kejar Bandarnya, Selamatkan Masyarakat!
5 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved