10 Imigran Rohingya diamankan di Rantauprapat
Rabu, 05 September 2012 - 08:40 WIB
10 Imigran Rohingya diamankan di Rantauprapat
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak 10 imigran gelap asal Rohingya, Myanmar diamankan Kepolisian Resor (Polres) Labuhanbatu saat melintas di Jalan Lintas Sumatera Utara (Jalinsum), tepatnya di Jalan WR Supratman Rantauprapat.
Kesepuluh imigran tersebut terdiri atas tiga laki-laki dewasa, tiga perempuan dan empat anak-anak. Kepala Subbagian Humas Polres Labuhanbatu Ajun Komisararis Polisi (AKP) MT Aritonang mengatakan, mereka masih melakukan pendataan terhadap kesepuluh warga negara Myanmar itu.
“Saya tidak tahu dari mana mereka, dan mau kemana. Kami sedang memintai keterangan,” kata Aritonang menjelaskan Selasa 4 September 2012.
Namun, perwira ini tidak bersedia membeberkan panjang lebar terkait diamankannya 10 warga asing tersebut.
“Tapi,yang jelas mereka bukan ditangkap,kayak penjahat saja kalau dikatakan ditangkap. Mereka hanya diamankan. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak Imigrasi proses selanjutnya,” ucapnya.
Berdasar informasi yang dihimpun SINDO,para imigran itu diamankan ketika sedang menumpang mobil Toyota Kijang Innova.Petugas Kepolisian Lalu Lintas (Polantas) yang berjaga ketika itu mencurigai mobil tersebut karena menggunakan kaca gelap. Saat menanyakan identitas penumpangnya, diketahuilah kesepuluh orang tersebut muslim Rohingya Myanmar.
Mereka bernama Mohamad Elyas, Imad, Begum, Rohimah, Amina, Muhammad Ayub, Noor Ali, Abdul Wahab, Rusana, dan Noor Shakila. “Ternyata dokumen yang mereka miliki dikeluarkan pemerintah Malaysia.
"Petugas langsung membawa mereka ke Polres Labuhanbatu. Menurut pengakuan Elyas, mereka hendak ke Jakarta,” kata seorang petugas kepolisian.
Tidak seorang pun dari kesepuluh WN Myanmar itu bisa berbahasa Inggris. Namun, Mohamad Elyas fasih berbahasa Melayu. Elyas menjelaskan, bahwa mereka berasal dari Myanmar dan singgah di Malaysia hampir satu tahun. Kemudian mereka berangkat ke Indonesia menggunakan boat beberapa hari yang lalu dan berlabuh di Tanjungbalai. Setelah itu mereka berencana ke Jakarta menemui saudaranya dengan menggunakan jalur darat.
Mereka kami tidak memiliki pekerjaan di negerinya dan takut dengan peristiwa pembantaian yang terjadi belakangan ini.
“Kami mengungsi karena takut dibunuh,saya tak tahu saat ini di kota mana,” ucap Elyas. Sedangkan Ucok (38), warga Tanjungbalai, sopir Toyota Kijang Innova, mengaku tidak mengetahui orang yang dia antar merupakan warga Myanmar.
Dia hanya sopir mobil rental yang bertugas mengantarkan sewa ke tujuan. “Kami membawa mereka dari seorang agen di pelabuhan Tanjungbalai. Setahu kami mereka adalah warga Aceh, karena kami percaya langsung kami bawa. Kami dibayar agen di pelabuhan Rp2,5 juta untuk mengantar mereka ke Jambi,” ucapnya.
Kesepuluh imigran tersebut terdiri atas tiga laki-laki dewasa, tiga perempuan dan empat anak-anak. Kepala Subbagian Humas Polres Labuhanbatu Ajun Komisararis Polisi (AKP) MT Aritonang mengatakan, mereka masih melakukan pendataan terhadap kesepuluh warga negara Myanmar itu.
“Saya tidak tahu dari mana mereka, dan mau kemana. Kami sedang memintai keterangan,” kata Aritonang menjelaskan Selasa 4 September 2012.
Namun, perwira ini tidak bersedia membeberkan panjang lebar terkait diamankannya 10 warga asing tersebut.
“Tapi,yang jelas mereka bukan ditangkap,kayak penjahat saja kalau dikatakan ditangkap. Mereka hanya diamankan. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak Imigrasi proses selanjutnya,” ucapnya.
Berdasar informasi yang dihimpun SINDO,para imigran itu diamankan ketika sedang menumpang mobil Toyota Kijang Innova.Petugas Kepolisian Lalu Lintas (Polantas) yang berjaga ketika itu mencurigai mobil tersebut karena menggunakan kaca gelap. Saat menanyakan identitas penumpangnya, diketahuilah kesepuluh orang tersebut muslim Rohingya Myanmar.
Mereka bernama Mohamad Elyas, Imad, Begum, Rohimah, Amina, Muhammad Ayub, Noor Ali, Abdul Wahab, Rusana, dan Noor Shakila. “Ternyata dokumen yang mereka miliki dikeluarkan pemerintah Malaysia.
"Petugas langsung membawa mereka ke Polres Labuhanbatu. Menurut pengakuan Elyas, mereka hendak ke Jakarta,” kata seorang petugas kepolisian.
Tidak seorang pun dari kesepuluh WN Myanmar itu bisa berbahasa Inggris. Namun, Mohamad Elyas fasih berbahasa Melayu. Elyas menjelaskan, bahwa mereka berasal dari Myanmar dan singgah di Malaysia hampir satu tahun. Kemudian mereka berangkat ke Indonesia menggunakan boat beberapa hari yang lalu dan berlabuh di Tanjungbalai. Setelah itu mereka berencana ke Jakarta menemui saudaranya dengan menggunakan jalur darat.
Mereka kami tidak memiliki pekerjaan di negerinya dan takut dengan peristiwa pembantaian yang terjadi belakangan ini.
“Kami mengungsi karena takut dibunuh,saya tak tahu saat ini di kota mana,” ucap Elyas. Sedangkan Ucok (38), warga Tanjungbalai, sopir Toyota Kijang Innova, mengaku tidak mengetahui orang yang dia antar merupakan warga Myanmar.
Dia hanya sopir mobil rental yang bertugas mengantarkan sewa ke tujuan. “Kami membawa mereka dari seorang agen di pelabuhan Tanjungbalai. Setahu kami mereka adalah warga Aceh, karena kami percaya langsung kami bawa. Kami dibayar agen di pelabuhan Rp2,5 juta untuk mengantar mereka ke Jambi,” ucapnya.
(azh)