Putaran kedua, lembaga survei tiarap
Kamis, 30 Agustus 2012 - 06:29 WIB
Putaran kedua, lembaga survei tiarap
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah lembaga survei tampaknya jera melakukan survei untuk putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Pengamat politik UI Arbi Sanit mengatakan, pada putaran kedua ini, lembaga survei sepertinya tidak akan melakukan survei tentang siapa kandidat menang dan kalah.
Tiadanya survei tersebut dipicu oleh dua penyebab. Faktor pertama, lembaga survei tidak mau mengulangi kesalahan yang sama pada putaran pertama. Pada putaran lalu, hasil survei yang menyatakan pasangan nomor satu menang satu putaran tidak terbukti.
"Parahnya lagi, ternyata peringkat pertama ditempati oleh pasangan calon Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok)," kata Arbi kemarin.
Faktor kedua, pasangan calon atau partai politik (parpol) pengusung tidak mau lagi menyewa lembaga survei. Hal ini berdasarkan pengalaman pada putaran pertama. Klien lembaga survei ini merasa jera menyewa mereka, karena hasil perhitungannya tidak akurat. Fakta itu sangat memalukan bagi lembaga survei.
Faktor lain Arbi menduga pertarungan dan kondisi pada putaran kedua jauh lebih rumit daripada putaran pertama. "Tingkat kepercayaan pasangan calon dan partai politik pendukungnya sudah merosot terhadap lembaga survei," ujar Arbi.
Tiadanya survei tersebut dipicu oleh dua penyebab. Faktor pertama, lembaga survei tidak mau mengulangi kesalahan yang sama pada putaran pertama. Pada putaran lalu, hasil survei yang menyatakan pasangan nomor satu menang satu putaran tidak terbukti.
"Parahnya lagi, ternyata peringkat pertama ditempati oleh pasangan calon Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok)," kata Arbi kemarin.
Faktor kedua, pasangan calon atau partai politik (parpol) pengusung tidak mau lagi menyewa lembaga survei. Hal ini berdasarkan pengalaman pada putaran pertama. Klien lembaga survei ini merasa jera menyewa mereka, karena hasil perhitungannya tidak akurat. Fakta itu sangat memalukan bagi lembaga survei.
Faktor lain Arbi menduga pertarungan dan kondisi pada putaran kedua jauh lebih rumit daripada putaran pertama. "Tingkat kepercayaan pasangan calon dan partai politik pendukungnya sudah merosot terhadap lembaga survei," ujar Arbi.
(san)