Mesin parpol belum berjalan
Selasa, 28 Agustus 2012 - 08:14 WIB
Mesin parpol belum berjalan
A
A
A
Sindonews.com - Kinerja partai politik (parpol) mengonsolidasikan suara untuk memilih kandidat calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) belum terlihat. Justru yang terlihat, para kandidatlah yang bekerja menyosialisasikan diri.
Belum berjalannya mesin parpol untuk mengonsolidasikan suara memilih kandidat yang didukungnya ini, diutarakan peneliti Charta Politika Yunarto Wijaya. Menurut Yunarto, berdasarkan hasil survei yang dilakukannya di putaran pertama lalu, keberadaan parpol belum dapat merangkul suara seluruh kadernya untuk memilih kandidat yang diusung parpol tersebut.
Yunarto menyebutkan, PKS yang mengusung Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini tidak berhasil mendapatkan suara semua kadernya. Hanya 49 persen massa PKS memilih calon tersebut. Padahal, Hidayat Nur Wahid merupakan mantan presiden PKS. Begitu juga dengan Golkar dan PPP. Kedua partai ini tidak berhasil memberikan suara kepada calonnya, Alex Noerdin-Nono Sampono.
Dari contoh di atas inilah terlihat, dalam pilkada, hubungan suara rakyat dengan kandidat lebih bersifat langsung. Masyarakat tidak mesti menentukan pilihan berdasarkan keputusan partai. Sebagian masyarakat terlihat sudah apatis terhadap sikap politik parpol. "Tidak ada kaitannya perolehan suara kandidat dengan dukungan parpol,” ujar Yunarto di Jakarta, Senin 27 Agustus 2012.
Memasuki putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) mendapatkan dukungan besar dari sejumlah parpol. Parpol yang mendukung pasangan ini diantarnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sementara partai pengusungnya sejak putaran pertama, yakni Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hanura, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan sejumlah parpol kecil lainnya.
Namun, kenyataan di lapangan pasangan ini justru cenderung lebih sering jalan sendiri untuk mendapatkan hati masyarakat. Yunarto menilai, keberadaan parpol di dalam lingkungan tim sukses pasangan cagub Foke-Nara hanya sebagai faktor sekunder untuk mendapatkan suara masyarakat Jakarta di putaran kedua pilkada mendatang. Keberadaan parpol pendukung baru ini diharapkan oleh pasangan tersebut untuk mendapatkan suara tambahan.
Sayangnya, hingga saat ini Yunarto belum melihat kinerja parpol pendukung baru pasangan tersebut mengonsolidasikan suara masyarakat memilih kandidat tersebut. Justru yang terlihat, cagub dan cawagub lebih bekerja sendiri menyosialisasikan dirinya. "Tentu saja ini membuat beban kerja calon berat. Baik dari segi waktu, beban kerja, dan sebagainya,” tuturnya.
Kondisi ini juga terlihat tidak hanya di kubu Foke-Nara. Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) yang didukung PDIP dan Gerindra juga sama. Hanya, saat ini kedua partai pendukung tersebut mulai bekerja ketika kandidat yang dicalonkan benar-benar mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
"Kebetulan saja Jokowi menjadi figur harapan masyarakat, sehingga partai ini baru mau bekerja,” tukasnya.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Marzuki Alie mengungkapkan, seluruh kader Partai Demokrat di DKI Jakarta berjalan untuk memenangkan Fauzi-Nachrowi. Mulai tingkat DPC hingga DPP Partai Demokrat turun untuk memenangkan Pilkada DKI. "Saya saja bukan bagian dari tim sukses, juga turun mengupayakan kemenangan Pak Foke dan Nara,” ungkap Ketua DPR RI ini.
Menurutnya, sebagai partai pengusung utama, Partai Demokrat all-out memenangkan calon incumbent-nya. Semua kader terjun untuk mengonsolidasikan kader.
Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli menambahkan, saat ini tim dari parpol pendukung pencalonannya turun ke masyarakat. Gerakan konsolidasi itu bersifat di atas meja dan di bawah meja. Artinya usaha pemenangan itu tidak hanya ditampilkan kepada publik, tapi juga ke grassroot.
"Kini gerakan parpol itu lebih banyak di tingkat grassroot,” kata Cawagub DKI nomor 1 ini.
Belum berjalannya mesin parpol untuk mengonsolidasikan suara memilih kandidat yang didukungnya ini, diutarakan peneliti Charta Politika Yunarto Wijaya. Menurut Yunarto, berdasarkan hasil survei yang dilakukannya di putaran pertama lalu, keberadaan parpol belum dapat merangkul suara seluruh kadernya untuk memilih kandidat yang diusung parpol tersebut.
Yunarto menyebutkan, PKS yang mengusung Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini tidak berhasil mendapatkan suara semua kadernya. Hanya 49 persen massa PKS memilih calon tersebut. Padahal, Hidayat Nur Wahid merupakan mantan presiden PKS. Begitu juga dengan Golkar dan PPP. Kedua partai ini tidak berhasil memberikan suara kepada calonnya, Alex Noerdin-Nono Sampono.
Dari contoh di atas inilah terlihat, dalam pilkada, hubungan suara rakyat dengan kandidat lebih bersifat langsung. Masyarakat tidak mesti menentukan pilihan berdasarkan keputusan partai. Sebagian masyarakat terlihat sudah apatis terhadap sikap politik parpol. "Tidak ada kaitannya perolehan suara kandidat dengan dukungan parpol,” ujar Yunarto di Jakarta, Senin 27 Agustus 2012.
Memasuki putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) mendapatkan dukungan besar dari sejumlah parpol. Parpol yang mendukung pasangan ini diantarnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sementara partai pengusungnya sejak putaran pertama, yakni Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hanura, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan sejumlah parpol kecil lainnya.
Namun, kenyataan di lapangan pasangan ini justru cenderung lebih sering jalan sendiri untuk mendapatkan hati masyarakat. Yunarto menilai, keberadaan parpol di dalam lingkungan tim sukses pasangan cagub Foke-Nara hanya sebagai faktor sekunder untuk mendapatkan suara masyarakat Jakarta di putaran kedua pilkada mendatang. Keberadaan parpol pendukung baru ini diharapkan oleh pasangan tersebut untuk mendapatkan suara tambahan.
Sayangnya, hingga saat ini Yunarto belum melihat kinerja parpol pendukung baru pasangan tersebut mengonsolidasikan suara masyarakat memilih kandidat tersebut. Justru yang terlihat, cagub dan cawagub lebih bekerja sendiri menyosialisasikan dirinya. "Tentu saja ini membuat beban kerja calon berat. Baik dari segi waktu, beban kerja, dan sebagainya,” tuturnya.
Kondisi ini juga terlihat tidak hanya di kubu Foke-Nara. Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) yang didukung PDIP dan Gerindra juga sama. Hanya, saat ini kedua partai pendukung tersebut mulai bekerja ketika kandidat yang dicalonkan benar-benar mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
"Kebetulan saja Jokowi menjadi figur harapan masyarakat, sehingga partai ini baru mau bekerja,” tukasnya.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Marzuki Alie mengungkapkan, seluruh kader Partai Demokrat di DKI Jakarta berjalan untuk memenangkan Fauzi-Nachrowi. Mulai tingkat DPC hingga DPP Partai Demokrat turun untuk memenangkan Pilkada DKI. "Saya saja bukan bagian dari tim sukses, juga turun mengupayakan kemenangan Pak Foke dan Nara,” ungkap Ketua DPR RI ini.
Menurutnya, sebagai partai pengusung utama, Partai Demokrat all-out memenangkan calon incumbent-nya. Semua kader terjun untuk mengonsolidasikan kader.
Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli menambahkan, saat ini tim dari parpol pendukung pencalonannya turun ke masyarakat. Gerakan konsolidasi itu bersifat di atas meja dan di bawah meja. Artinya usaha pemenangan itu tidak hanya ditampilkan kepada publik, tapi juga ke grassroot.
"Kini gerakan parpol itu lebih banyak di tingkat grassroot,” kata Cawagub DKI nomor 1 ini.
(lil)