Ada motif ekonomi di balik dukungan ke Foke
Jum'at, 10 Agustus 2012 - 11:37 WIB
Ada motif ekonomi di balik dukungan ke Foke
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat Komunikasi Politik UI Ari Junaedi menilai, kepentingan ekonomi dan politik telah mempengaruhi partai-partai untuk mengalihkan dukungan ke pasangan Foke-Nara.
Ari menyinggung motivasi sejumlah parpol yang mendukung Foke patut dipertanyakan. Karena sebelumnya ketika masih bersaing di putaran pertama, pasangan calon parpol seperti Partai Golkar dengan Alex Noerdin dan PKS dengan Hidayat Nur Wahid mengkritik Foke habis-habisan karena dianggap gagal memimpin Jakarta.
Dia menyayangkan mengapa elit-elit PPP, PAN, Golkar, dan PKS mendukung Foke sementara grass root memihak Jokowi. "Parpol tidak belajar dari pengalaman dan mendengar suara konstituen dalam memilih calon," katanya Jakarta, Jumat (10/8/2012).
Pada putaran pertama saja, banyak prediksi lembagai survei yang meleset meski didukung parpol besar. Berdasarkan pengalaman tersebut, sebaiknya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur tidak perlu sesumbar didukung banyak parpol, karena sekarang yang menentukan adalah suara akar rumput.
Dalam kompetisi politik sekarang ini lebih relevan jika melakukan koalisi dengan rakyat. Karna masyarakat sudah lebih cerdas dalam memilih pemimpin. "Parpol hanyalah sekoci pengantar namun dukungan yang paling riil di akar rumput," tegasnya.
Ia mencontohkan, pada putaran pertama banyak calon gubernur yang terjungkal meski mendapat dukungan dari partai besar. Lihatlah Alex Noerdin yang disokong Golkar hancur lebur. Lalu PKS yang mencalonkan Hidayat Nurwahid juga jeblok.
"Foke yang di-backup Demokrat juga kalah dengan sosok sederhana Jokowi," kata Ari Junaedi memberi contoh.
(Iman Rosidi/Sindoradio)
Ari menyinggung motivasi sejumlah parpol yang mendukung Foke patut dipertanyakan. Karena sebelumnya ketika masih bersaing di putaran pertama, pasangan calon parpol seperti Partai Golkar dengan Alex Noerdin dan PKS dengan Hidayat Nur Wahid mengkritik Foke habis-habisan karena dianggap gagal memimpin Jakarta.
Dia menyayangkan mengapa elit-elit PPP, PAN, Golkar, dan PKS mendukung Foke sementara grass root memihak Jokowi. "Parpol tidak belajar dari pengalaman dan mendengar suara konstituen dalam memilih calon," katanya Jakarta, Jumat (10/8/2012).
Pada putaran pertama saja, banyak prediksi lembagai survei yang meleset meski didukung parpol besar. Berdasarkan pengalaman tersebut, sebaiknya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur tidak perlu sesumbar didukung banyak parpol, karena sekarang yang menentukan adalah suara akar rumput.
Dalam kompetisi politik sekarang ini lebih relevan jika melakukan koalisi dengan rakyat. Karna masyarakat sudah lebih cerdas dalam memilih pemimpin. "Parpol hanyalah sekoci pengantar namun dukungan yang paling riil di akar rumput," tegasnya.
Ia mencontohkan, pada putaran pertama banyak calon gubernur yang terjungkal meski mendapat dukungan dari partai besar. Lihatlah Alex Noerdin yang disokong Golkar hancur lebur. Lalu PKS yang mencalonkan Hidayat Nurwahid juga jeblok.
"Foke yang di-backup Demokrat juga kalah dengan sosok sederhana Jokowi," kata Ari Junaedi memberi contoh.
(Iman Rosidi/Sindoradio)
(ysw)