70 nenek seludupkan 7,5 ton gula Thailand
Kamis, 02 Agustus 2012 - 22:20 WIB
70 nenek seludupkan 7,5 ton gula Thailand
A
A
A
Sindonews.com - Bea Cukai Tipe A3 Banda Aceh, membatalkan pemasokan 7,5 ton gula impor asal Thailand dari Sabang di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Pemasokan gula ilegal itu menggunakan jasa 70 orang perempuan termasuk nenek-nenek.
Setiap perempuan membawa dua hingga tiga karung gula seberat 50 Kilogram/karung menggunakan kapal fery BRR. Namun, gula beserta para nenek-nenek dipulangkan lagi Sabang.
Beni Novri, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Banda Aceh, menyatakan para ibu-ibu itu membawa sebanyak 150 karung gula. “Mereka memasukkan gula ke dalam kapal pada saat petugas tidak ada,” jelasnya.
Saat hendak meloloskan gula ke daratan Banda Aceh, sempat terjadi saling tolak antara petugas bea cukai dengan para nenek-nenek. Sebagian yang masih di dalam kapal, tidak diizinkan turun.
“Karena itu sudah menjadi tugas rutin kami sehari-hari, dalam rangka menegakkan barang-barang yang masuk dari Sabang ke Banda Aceh, dalam arti gula tersebut hanya bisa beredar di Sabang sediri, tidak boleh di tempat lain,” jelasnya lagi.
Salah seorang nenek, mengaku membawa gula dari Sabang ke Banda Aceh untuk kebutuhan jelang hari raya Idul Fitri termasuk membayar zakat. “Kami membawa gula ini hanya untuk menanggung biaya hidup keluarganya. Karena kami tidak bisa melakukan pekerjaan lain,” jelasnya.
Gula-gula tersebut ditutup plastik dan kain sarung para nenek-nenek. Di Banda Aceh, salah seorang nenek menggaku beli gula di Sabang seharga Rp480.000 hingga Rp510.000/karung, dijual di Banda Aceh Rp560.000 per karung.
Gula dimasukkan ke dalam kapal sekira pukul 01.00 WIB dini hari saat sepi petugas. “Kami pilih tengah malam, karena kalau pagi kami enggak sanggup karena puasa,” jelas Nek Let. “Gula ini milik kami pribadi. Bukan milik perusahaan atau seseorang."
Setiap perempuan membawa dua hingga tiga karung gula seberat 50 Kilogram/karung menggunakan kapal fery BRR. Namun, gula beserta para nenek-nenek dipulangkan lagi Sabang.
Beni Novri, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Banda Aceh, menyatakan para ibu-ibu itu membawa sebanyak 150 karung gula. “Mereka memasukkan gula ke dalam kapal pada saat petugas tidak ada,” jelasnya.
Saat hendak meloloskan gula ke daratan Banda Aceh, sempat terjadi saling tolak antara petugas bea cukai dengan para nenek-nenek. Sebagian yang masih di dalam kapal, tidak diizinkan turun.
“Karena itu sudah menjadi tugas rutin kami sehari-hari, dalam rangka menegakkan barang-barang yang masuk dari Sabang ke Banda Aceh, dalam arti gula tersebut hanya bisa beredar di Sabang sediri, tidak boleh di tempat lain,” jelasnya lagi.
Salah seorang nenek, mengaku membawa gula dari Sabang ke Banda Aceh untuk kebutuhan jelang hari raya Idul Fitri termasuk membayar zakat. “Kami membawa gula ini hanya untuk menanggung biaya hidup keluarganya. Karena kami tidak bisa melakukan pekerjaan lain,” jelasnya.
Gula-gula tersebut ditutup plastik dan kain sarung para nenek-nenek. Di Banda Aceh, salah seorang nenek menggaku beli gula di Sabang seharga Rp480.000 hingga Rp510.000/karung, dijual di Banda Aceh Rp560.000 per karung.
Gula dimasukkan ke dalam kapal sekira pukul 01.00 WIB dini hari saat sepi petugas. “Kami pilih tengah malam, karena kalau pagi kami enggak sanggup karena puasa,” jelas Nek Let. “Gula ini milik kami pribadi. Bukan milik perusahaan atau seseorang."
(hyk)