Soal UAS Diduga Bocor, Psikolog: Sistem Pendidikan Kita Ada yang Salah

Rabu, 11 Desember 2019 - 09:21 WIB
Soal UAS Diduga Bocor,...
Soal UAS Diduga Bocor, Psikolog: Sistem Pendidikan Kita Ada yang Salah
A A A
DEPOK - Di Kota Depok beredar kabar bahwa salah satu sekolah negeri akan melakukan ujian Akhir Sekolah (UAS) susulan karena ditengarai soal bocor. Pihak sekolah sendiri kini sedang menelusuri dugaan soal UAS bocor tersebut.

Menanggapi masalah tersebut, Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta mengatakan, kasus ini sebenarnya menunjukkan bahwa memang sistem pendidikan kita hanya berorientasi pada nilai. Sehingga siswa melakukan berbagai cara agar dapat nilai yang bagus.

"Karena mereka yakin bahwa nilai bagus lebih berharga daripada proses mendapatkan nilai itu sendiri," katanya kepada wartawan, Rabu (11/12/2019).

Dijelaskan dia, dalam hal ini orientasi pendidikan menjadi keliru. Dan menurutnya, yang salah adalah sistem secara keseluruhan. Karena siswa tidak dibiasakan menghargai proses, bagaimanapun hasilnya. (Baca: Viral SMAN 1 Depok Akan UAS Susulan, Ini Penjelasan Kepsek )

"Salah satunya juga karena penghargaan bagi mereka hanya pada pencapaian nilai. Sehingga esensi pendidikan yang sesungguhnya menjadi kabur," ucapnya.

Proses yang seharusnya menjadi bagian penting dari pendidikan seolah tenggelam dengan kebutuhan akan nilai tinggi. Misalnya hanya nilai tertentu yang bisa masuk ke jurusan tertentu, hanya siswa dengan nilai tertentu yang akan mendapat fasilitas tertentu, mendapat penghargaan tertentu.

"Kecintaan akan proses belajar menjadi hilang. Yang ada hanya berfokus pada mengejar nilai bagus untuk mendapat berbagai keuntungan di atas," paparnya. (Baca juga: Tunggak Uang Sekolah, Dua Siswi Berprestasi di Tangsel Dilarang Ikut Ujian )

Kondisi itu membuat beberapa siswa menggunakan cara cepat demi mendapatkan nilai tinggi dan mencapai tujuan. Hal itu terjadi karena pada dasarnya orientasinya pada hasil yang bagus.

Shinta melanjutkan, biasanya juga anak-anak ini punya ‘kesempatan’ dari orang dewasa yang bisa dimanfaatkan. "Sehingga selain mencari, sangat mungkin juga ditawari orang-orang dewasa lain misalnya untuk motif ekonomi," pungkasnya.
(ysw)
Berita Terkait
Pemkot Depok Ajukan...
Pemkot Depok Ajukan 670 Formasi CPNS, Mayoritas untuk Pendidik dan Kesehatan
Pemkot Depok Larang...
Pemkot Depok Larang Keras Penahanan Ijazah Sekolah
Disdik Jabar Batal Hentikan...
Disdik Jabar Batal Hentikan PTM Terbatas di Depok, Ini Alasannya
DPRD Depok Panggil Disdik...
DPRD Depok Panggil Disdik terkait Relokasi SDN Pondok Cina 1
Ini Kebijakan Kegiatan...
Ini Kebijakan Kegiatan Belajar Mengajar di Depok Selama Ramadan
Siswa Miskin Sekolah...
Siswa Miskin Sekolah Swasta di Depok Dapat Bantuan Pendidikan Rp2-3 Juta
Berita Terkini
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
14 menit yang lalu
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Pemprov DKI Hapus Sanksi Administratif PKB dan BBNKB
38 menit yang lalu
Gunung Dukono Kembali...
Gunung Dukono Kembali Erupsi Pagi Ini, Luncurkan Abu Vulkanik 1.000 Meter
1 jam yang lalu
Gunung Semeru Erupsi,...
Gunung Semeru Erupsi, Tinggi Kolom Abu Capai 1.200 Meter di Atas Puncak
2 jam yang lalu
687 Orang Laporkan Dugaan...
687 Orang Laporkan Dugaan Penipuan Umrah Hanania Travel ke Polda Metro Jaya
2 jam yang lalu
Kasus Penipuan Hanania...
Kasus Penipuan Hanania Travel, Polda Metro Periksa 70 Saksi
9 jam yang lalu
Infografis
8 Negara yang Warganya...
8 Negara yang Warganya Paling Kurus di Dunia, Salah Satunya Jepang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved