Kontra Radikal, Polda Sulteng Gandeng Lima Napiter Poso

Kamis, 07 November 2019 - 06:30 WIB
Kontra Radikal, Polda...
Kontra Radikal, Polda Sulteng Gandeng Lima Napiter Poso
A A A
SULAWESI TENGGARA - Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Sulteng) menggandeng lima mantan Narapidana Teroris (Napiter) Poso untuk ikut kegiatan Forum Group Discution (FGD) dengan tajuk Tangkal Radikalisme Menuju Indonesia Maju di Gedung Torabelo, Kota Palu, Rabu 6 November 2019.

Selain mengajak mantan Napiter Poso, masyarakat dari berbagai kalangan maupun tokoh stakeholder juga ikut dalam forum diskusi kontra radikal tersebut. Ketua FKUB Sulteng, Profesor Zainal Abidin memberikan penyuluhan dan edukasi tangkal radikalisme langsung kepada masyarakat yang hadir.

Wakil Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Nurwindyanto mengatakan, kegiatan kontra radikalisme ini untuk menjaga kebhinekaan Indonesia, mencegah berkembangnya paham radikal juga bagian dari menjaga keamanan ditengah masyarakat.

"Sulteng menjadi perhatian khusus di Indonesia terkait radikalisme," katanya.

Menurut dia, kondisi stabilitas yang aman di Sulteng akan membuka peluang investasi seperti arahan Presiden Joko Widodo, tidak hanya di Sulteng tapi di berbagai tempat.

"Pasti ada (hubungan pencegahan paham rsdikal berkembang dengan iklim investasi) karena investasi berjalan dengan baik apabila keamanan terjaga," ujarnya.

Dia mengaku alasan Polda Sulteng menghadirkan para mantan Napiter untuk memberikan contoh kongkrit kepada masyarakat setiap orang dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik, menghargai perbedaan yang menjadi takdir Indonesia. Apalagi, di Indonesia tercatat ada sekitar 300 suku dari Sabang hingga Marauke.

"Napiter ini bisa menjadi salah satu bisa korban bisa juga pelaku, namun kita melihat sisi kemanusiannya akan mengambil bagaimana bisa dari negatif menjadi positif, karena tidak mungkinlah orang akan menjadi salah terus, positifnya dia ingin berbuat sesuatu, mungkin caranya yang tidak benar," jelasnya.

Untuk itu, dia mengajak masyarakat untuk sama-sama bergerak pro aktif menjaga toleransi umat beragama untuk persatuan yang lebih solid kedepannya demi NKRI dan mengjauhkan hal radikalisme.

"Tentunya ikutlah bersama sama membangun dengan segala potensi yang ada, demi terciptanya suasana kondusif di Indonesia," tegasnya.

Nurwindyanto menambahkan, operasi terorisme di Poso masih terus berlanjut hingga kini. Sebab, masih ada 10 orang lebih yang terus diburu keberadaanya oleh pihaknya. Mereka masih berkeliaran disekitar Gunung Biru di Poso.

"Operasi terus dilanjutkan hingga aksi terorisme habis di Sulteng," ungkapnya.

Ketua FKUB Sulteng, Profesor Zainal Abidin mengatakan, radikalisme di Sulteng sudah mulai menurun, meskipun masih ada beberapa warga yang masih terpapar pahak radikalisme ini.

"Saat ini Sulteng sudah berbeda beberapa tahun terakhir, karena kami terus mengencarkan bahaya paham ini," katanya.

Sementara mantan Naviter Poso, Hasanuddin mengaku bergabung dengan jaringan teroris saat masih menjadi mahasiswa, bahkan dia mengaku sampai berangkat ke Filipina untuk mengikuti dengan kelompok radikal disana.

"Prosesnya panjang menjadi teroris, hingga saya berangkat ke Filipina dengan proses yang panjang," katanya.

Namun seiring berjalannya waktu, Hasanuddin tertangkap operasi Densus 88 dan menjalani hukuman sebagai narapidana teroris. Atas kejadian itu, dia menyesali segala perbuatannya dan kembali ke jalan NKRI. Dirinya sadar perbedaan di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan yang perlu dijaga bersama.

"Ya, kita hidup realistis aja ya, ketika masuk dipenjara kemudian kita banyak membaca, banyak merenung, kemudian juga punya tanggung jawab keluarga, masyarakat, anak didik kita. Bahwa hidup ini tidak bisa dipaksakan sesuai kemauan kita, ada orang lain, ada yang berbeda, itu keniscayaan yang harus kita hadapi," ungkapnya.

Sekarang dia mengaku tengah sibuk bergelut mengurusi dunia pendidikan di Poso, sekaligus mengurus 2 pondok pesantren miliknya.

"Kesibukan saya sebagai Wakil Ketua Yayasan Amanatul Ummah Poso membuat saya untuk memberikan pengajaran yang baik terhadap Indonesia, apa yang pernah saya lakukan dulu itu memang salah," tegasnya.
(mhd)
Berita Terkait
Mabar Milenial Terselip...
Mabar Milenial Terselip Gerakan Radikal
BNPT Waspadai Potensi...
BNPT Waspadai Potensi Gerakan Radikal Jelang Pemilu 2024
Mantan Napi Teroris:...
Mantan Napi Teroris: Tanpa Bimbingan Densus 88 Antiteror, Kami Bisa Kembali Radikal
Pemuka Agama Ujung Tombak...
Pemuka Agama Ujung Tombak Pencegahan Paham Radikal Terorisme
BNPT: Upaya Pencegahan...
BNPT: Upaya Pencegahan Paham Radikal Terorisme Tidak Boleh Berhenti
Ormas Islam Dinilai...
Ormas Islam Dinilai Berperan Penting Cegah Paham Radikal Terorisme
Berita Terkini
Tangis Pecah di Indramayu,...
Tangis Pecah di Indramayu, 12 Korban Kecelakaan Maut Pantura Dimakamkan, 6 Kritis Dirawat
27 menit yang lalu
11 Orang Tewas, Truk...
11 Orang Tewas, Truk Tronton Hantam Pikap Rombongan Pengantar Pengantin di Pantura Indramayu
11 jam yang lalu
Gerak Cepat! Pemkab...
Gerak Cepat! Pemkab Bogor Terjunkan Alat Berat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Baru
11 jam yang lalu
BNPB Sebut 3 Daerah...
BNPB Sebut 3 Daerah di Pulau Jawa Dilanda Karhutla, Ini Lokasinya
11 jam yang lalu
Usai Jadi Tersangka,...
Usai Jadi Tersangka, Rumah Dinas Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sepi Tanpa Aktivitas
17 jam yang lalu
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026, Momentum Perkenalkan Produk Lokal UMKM
18 jam yang lalu
Infografis
Kapuspen TNI Tegaskan...
Kapuspen TNI Tegaskan Tak Ada Personel Datangi Polda Metro Jaya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved