Penjelasan BMKG terkait Kualitas Udara Jakarta yang Dinilai Memburuk

Selasa, 30 Juli 2019 - 10:23 WIB
Penjelasan BMKG terkait...
Penjelasan BMKG terkait Kualitas Udara Jakarta yang Dinilai Memburuk
A A A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi penjelasan terkait kualitas udara Jakarta yang memburuk dan menempati peringkat 1 versi air quality index (AQI) dunia. Penilaian ini didasarkan pada aplikasi pemantau kualitas udara global AirVisual yang pada bulan Juni hingga Juli tahun ini mengindikasikan indeks kualitas udara yang masuk ke dalam kategori tidak sehat.

"Memang patut kita sadari bersama bahwa kondisi udara Jakarta tengah menurun kualitasnya dan memasukkan Jakarta ke dalam kota-kota papan atas dalam urutan kota terburuk kualitas udaranya, meskipun terdapat kritik dalam metodologi pemeringkatan dan penilaian AirVisual tersebut," ujar Plh Deputi Bidang Klimatologi, BMKG, Nasrullah, Selasa (30/7/2019).

Ia menjelaskan, pemeringkatan AQI Airvisual dilakukan setiap jam dan menghasilkan peringkat kota berudara dengan kualitas terburuk dengan sangat dinamis.

"Pada pagi hari biasanya KU Jakarta memang menurun drastis dan sering menembus peringkat 1. Akan tetapi hal tersebut tidak permanen dan berubah seiring waktu ketika menuju siang hingga malam," ucapnya.

Menurut Nasrullah, AQI pada AirVisual untuk Jakarta melibatkan 8 lokasi pengukuran konsentrasi PM2.5 (debu polutan bsrukuran ~2.5 mikron) yang meliputi 3 lokasi berasal dari pengukuran instrumen terstandar internasional milik lembaga pemerintah, yakni 1 di BMKG Kemayoran dan 2 di US Embassy. Sedangkan lainnya menggunakan instrumen low cost sensor milik Greenpeace dan perseorangan.

Pengukuran menggunakan instrumen low cost sensor berbeda dengan pengukuran instrumen standar konvensional dan terkalibrasi. "Pengukuran menggunakan instrumen yang tidak terstandar dan tidak terkalibrasi umumnya menghasilkan tingkat akurasi yang lebih rendah disebabkan metode pengukuran yang lebih sederhana," tuturnya.

Akibatnya, konsentrasi partikulat hasil pengukuran low cost sensor memiliki nilai penyimpangan yang besar apabila dibandingkan dengan instrumen standar yang dimiliki umumnya oleh lembaga-lembaga pemerintah," pungkasnya.
(thm)
Berita Terkait
Polusi Udara Merenggut...
Polusi Udara Merenggut 7 Juta Nyawa Setiap Tahun
Mengenal Apa Itu PM2.5...
Mengenal Apa Itu PM2.5 yang Dikaitkan dengan Masalah Polusi Udara
7 Kota dengan Polusi...
7 Kota dengan Polusi Terburuk yang Ada di Indonesia, Wilayah Mana Saja?
Pemerintah Diminta Keluarkan...
Pemerintah Diminta Keluarkan Peringatan agar Masyarakat Waspadai Polusi Udara yang Tinggi
Merdeka dari Polusi...
Merdeka dari Polusi Udara
Dua Minggu Ditutup karena...
Dua Minggu Ditutup karena Polusi Udara Parah, Sekolah di New Delhi India Kembali Dibuka
Berita Terkini
Perkuat Konektivitas...
Perkuat Konektivitas dan Kesejahteraan Masyarakat Riau, Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi
2 jam yang lalu
Update Kebakaran TPA...
Update Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang, Titik Api Tersisa 30 Persen
2 jam yang lalu
Telkom Runners Teguhkan...
Telkom Runners Teguhkan Semangat BISA pada Peringatan HUT Ke-61 Telkom Indonesia
2 jam yang lalu
Tragis! Pria Ditemukan...
Tragis! Pria Ditemukan Tewas Akibat Terjepit Lift di Ruko Roxy Mas Jakpus
3 jam yang lalu
Perkuat Basis Elektoral...
Perkuat Basis Elektoral melalui Ketokohan dan Pelayanan Masyarakat di Sulsel, Perindo Siapkan Kader Pemimpin Masa Depan
3 jam yang lalu
Kunjungi Candi Prambanan,...
Kunjungi Candi Prambanan, Prabowo Pamerkan Mahakarya Peradaban Dunia ke PM Modi
4 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved