Parade Budaya HUT Kota Singaraja ke-415 Pukau Ribuan Penonton
Minggu, 31 Maret 2019 - 22:24 WIB
Parade Budaya HUT Kota Singaraja ke-415 Pukau Ribuan Penonton
A
A
A
SINGARAJA - Parade Budaya dalam rangka peringatan HUT Kota Singaraja ke-415 berhasil mengungkap sejarah dan menampilkan tradisi yang ada di Kabupaten Buleleng. Penampilan ribuan peserta parade dari sembilan kecamatan itupun memukau penonton yang memadati area pementasan di sepanjang jalan Ngurah Rai Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali pada Sabtu (30/3/2019).
Dalam siaran persnya, Kepala Dinas Kebudayaan Gede Komang mengungkapkan, parade budaya yang digelar ini mengambil tema ‘Singa Praja Tattwa’, yang memiliki makna meneladani keteladanan Ki Barak Panji Sakti, pada saat kejayaan kerajaannya ketika beliau memerintah. Karena itu, banyak fragmentari tentang sejarah yang berkaitan dengan ketangguhan Raja Ki Gusti Panji Sakti dipersembahkan untuk masyarakat Buleleng.
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam sambutannya mengatakan bahwa Parade Budaya ini merupakan suguhan yang khas, menarik, dan unik yang menampilkan kreativitas masyarakat Buleleng. Menurutnya, sejumlah pementasan seni dan budaya yang ditampilkan oleh pelaku seni itu menjadi daya tarik tersendiri bagi seluruh masyarakat Buleleng yang menyaksikan.
“Kita telah bersepakat untuk bersatu dalam Multikulturalisme, Bersatu Merangkai Warna Nusantara,” tandasnya.
Lebih lanjut, kata dia, segala yang dilakukan oleh para pelaku seni tersebut sebagai wujud partisipasi para seniman dan budayawan dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian serta budaya Buleleng. Bupati Agus juga menyebut Parade Budaya ini sebagai wujud kebersamaan guna membangun masyarakat Buleleng yang bermartabat melalui bidang seni, budaya, dan pariwisata.
Selain beberapa fragmen yang mengungkap sejarah perjalanan pendiri Puri Singaraja itu, pada parade budaya kali ini juga disuguhkan tradisi yang ada di beberapa desa di Buleleng. Tradisi ‘Siat Sambuk’ misalnya, tradisi ini biasa dilakukan oleh Krama Desa Negak dan Pemangku dari Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula.
Tradisi yang dalam bahasa Indonesia ini berarti ‘Perang Sabut Kelapa’ dilaksanakan saat Pengerupukan (sehari sebelum hari Nyepi) di Pura Desa Tejakula.
Duta Kecamatan Gerokgak menampilkan tradisi ‘Gebug Ende’. Tradisi ini diyakini berasal dari Kabupaten Karangasem yang dibawa oleh penduduk dari Gumi Lahar tersebut ketika bermigrasi ke Buleleng, tepatnya di Kecamatan Gerokgak. Tarian ini merupakan tarian persahabatan dan sering juga digunakan untuk memohon turun hujan.
Dalam siaran persnya, Kepala Dinas Kebudayaan Gede Komang mengungkapkan, parade budaya yang digelar ini mengambil tema ‘Singa Praja Tattwa’, yang memiliki makna meneladani keteladanan Ki Barak Panji Sakti, pada saat kejayaan kerajaannya ketika beliau memerintah. Karena itu, banyak fragmentari tentang sejarah yang berkaitan dengan ketangguhan Raja Ki Gusti Panji Sakti dipersembahkan untuk masyarakat Buleleng.
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam sambutannya mengatakan bahwa Parade Budaya ini merupakan suguhan yang khas, menarik, dan unik yang menampilkan kreativitas masyarakat Buleleng. Menurutnya, sejumlah pementasan seni dan budaya yang ditampilkan oleh pelaku seni itu menjadi daya tarik tersendiri bagi seluruh masyarakat Buleleng yang menyaksikan.
“Kita telah bersepakat untuk bersatu dalam Multikulturalisme, Bersatu Merangkai Warna Nusantara,” tandasnya.
Lebih lanjut, kata dia, segala yang dilakukan oleh para pelaku seni tersebut sebagai wujud partisipasi para seniman dan budayawan dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian serta budaya Buleleng. Bupati Agus juga menyebut Parade Budaya ini sebagai wujud kebersamaan guna membangun masyarakat Buleleng yang bermartabat melalui bidang seni, budaya, dan pariwisata.

Tradisi yang dalam bahasa Indonesia ini berarti ‘Perang Sabut Kelapa’ dilaksanakan saat Pengerupukan (sehari sebelum hari Nyepi) di Pura Desa Tejakula.
Duta Kecamatan Gerokgak menampilkan tradisi ‘Gebug Ende’. Tradisi ini diyakini berasal dari Kabupaten Karangasem yang dibawa oleh penduduk dari Gumi Lahar tersebut ketika bermigrasi ke Buleleng, tepatnya di Kecamatan Gerokgak. Tarian ini merupakan tarian persahabatan dan sering juga digunakan untuk memohon turun hujan.
(rhs)