Tragis, Bocah Hiperaktif di Tangsel Dipasung Rantai Bertahun-tahun

Kamis, 14 Maret 2019 - 18:04 WIB
Tragis, Bocah Hiperaktif...
Tragis, Bocah Hiperaktif di Tangsel Dipasung Rantai Bertahun-tahun
A A A
TANGERANG SELATAN - Malang dialami Zidni Khoiri Alfatir (10), bocah yang tinggal di Kampung Setu, RT16/04, Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), ini dipasung oleh kedua orang tuanya selama bertahun-tahun. Bocah dari keluarga tidak mampu ini terpaksa dipasung karena sangat hiperaktif.

Selama dipasung, anak pasangan Suhin (43) dan Wagiati (46) ini dikurung di dalam kamar tidur, tidak diperbolehkan melihat indahnya dunia luar. Makan dan minumnya, serta buang besar dan kecil pun di kamar. Selama bertahun-tahun, bocah penderita hyperaktif itu dikurung di dalam ruang kecil yang pengap dan penuh kotoran manusia.

Badannya pun sangat kurus dan banyak luka. Saat ini, bocah yang biasa dipanggil Fatir itu sudah bebas, bisa menghirup udara bebas. Bermain dengan anak-anak seusianya di taman, berlari-larian, dan main ayunan. Pasung rantai di kakinya pun sudah diputus.

Fatir dibebaskan oleh petugas kelurahan yang datang ke rumahnya melakukan pendataan. Selanjutnya, bocah tersebut dibawa ke Rumah Singgah di Kampung Kademangan. Saat ditemui di Rumah Singgah, Fatir tidak bisa diajak bebicara. Untuk berjalan pun, dia harus dipandu. Tulangnya tidak sekuat anak-anak, pada usianya.

"Pemasungan terhadap Fatir baru terungkap setelah pihak Kelurahan Setu mendatangi kontrakan yang ditempati keluarga tersebut," kata Daryuanto, anggota Satgas Perlindungan Anak Kelurahan Setu saat ditemui di Rumah Singgah, Kamis (14/3/2019) sore.

Daryuanto menjelaskan, saat itu petugas kelurahan tengah membantu mengurus surat administratif guna perawatan ibunda Fatir, yakni Wagiyati yang terkena diabetes."Jadi, Pak Sekel (Sekretaris Kelurahan) saat itu datang ke rumah kontrakannya. Di situlah, baru tahu ada anak yang dirantai itu. Terus dikoordinasikan dengan saya untuk segera ditindaklanjuti," sambung Daryuanto.

Tidak menunggu lama, pihak Dinas Sosial Kota Tangsel pun langsung bergerak ke rumah Fatir dan melepas pasungan rantai di kakinya, pada Rabu 13 Maret 2019. Selanjutnya, Fatir dirawat di Rumah Singgah.

"Kedua orang tuanya kini berada di RSU Kota Tangsel. Sedang menjalani perawatan diabetes. Mereka tiga bersaudara, yang pertama ada di Malang," sambungnya. Selama dipasung, Fatir lebih banyak tinggal sendiri di rumah.
Bapak dan ibunya kerap pergi keluar rumah, bekerja serabutan. Begitupun dengan adiknya yang duduk di bangku Kelas 1 SD, sering menginap di luar.
"Dia itu sering sama adiknya yang sekarang duduk di bangku Kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tetapi, kata tetangganya, dia sering pergi dari rumah dan Fatir sendiri terkurung dan terpasung rantai," jelasnya.

Pernah di 2014, Fatir tertimpa kecelakaan kebakaran. Saat itu, adiknya sedang bermain korek api di kamar Fatir. Karena tanpa pengawasan, api menyambar kasur. "Saat apinya membesar, Fatir yang kakinya dipasung dengan rantai, akhirnya ikut terbakar. Hampir sepatuh tubuhnya mengalami luka bakar serius. Saat ini, luka bakarnya sudah mengering," sambungnya.

Zulkarnaen, relawan Rumah Singgah yang ikut merawat Fatir mengatakan, saat pertama kali tiba, kondisi Fatir sangat tidak terawat. Rambut panjang, dan bau kotoran. "Kondisi fisiknya sangat buruk. Rambutnya panjang tidak terawat, kulit wajah dan sebagian badannya penuh luka bekas bakar. Dia kelaparan. Dia bahkan sempat memakan material kasur," ujar Zul.

Setibanya di Rumah Singgah, perlahan Fatir didekati. Dia lalu dibersihkan, lalu diberi makan yang enak. Rantai besi yang berkarat di kakinya pun langsung dilepas petugas. "Rantainya baru dilepas setelah sampai di Rumah Singgah, karena sudah karatan, dan kuncinya juga enggak ada. Yang kami dengar, dia dipasung karena hiperaktif dan suka mengamuk di rumahnya," ungkapnya.

Saat ini, kondisi Fatir berangsur pulih. Dia mulai bisa berjalan, dan berlari meski terlihat lemah. Dia juga bisa berteriak kecil, dan menunjukkan jarinya yang kecil-kecil. "Kami belum tahu apakah karena menderita penyakit atau memang karena trauma, dia tidak bisa berbicara dan terdengar gagu. Karena selama ini enggak pernah kena sinar matahari, sangat prihatin mas," ucapnya.
(whb)
Berita Terkait
Kekerasan Anak di Tangsel,...
Kekerasan Anak di Tangsel, Pakar Psikologi: Fenomena Anti-Observer Effect
Anak Korban Kekerasan...
Anak Korban Kekerasan Sang Ayah di Tangsel Bercita-cita Ingin Jadi Polwan
Angka Kasus Asusila...
Angka Kasus Asusila Anak di Kota Parepare Meningkat
Jadi Fenomena Gunung...
Jadi Fenomena Gunung Es, Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Terus Naik
Arief Minta Tangerang...
Arief Minta Tangerang Bebas Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan
Pemkot Depok Minta Warga...
Pemkot Depok Minta Warga Tak Takut Laporkan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak via Hotline
Berita Terkini
Bertolak ke NTB, Presiden...
Bertolak ke NTB, Presiden Prabowo Bakal Resmikan Bendungan Meninting di Lombok Barat
22 menit yang lalu
Antisipasi Kebakaran...
Antisipasi Kebakaran Lahan, Wilmar Tingkatkan Kesiagaan dan Kolaborasi Antarlembaga
22 menit yang lalu
KPK Sita Logam Mulia...
KPK Sita Logam Mulia dan Uang Tunai Miliaran Rupiah di OTT Bupati Sukoharjo
33 menit yang lalu
Canangkan Gerakan Indonesia...
Canangkan Gerakan Indonesia Asri di Malang, Dirjen Bina Adwil Ajak Kepala Daerah Bebersih
34 menit yang lalu
Polda Metro Jaya Perketat...
Polda Metro Jaya Perketat Pengamanan untuk Jaga Barang Bukti Kasus Batu Bara hingga Asabri
2 jam yang lalu
PSEL Bali Dinilai Strategis...
PSEL Bali Dinilai Strategis Kendalikan Sampah dan Emisi
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved